Blokade Selat Hormuz Bikin Pasokan Avtur Seret, Penerbangan Dunia Terancam Terganggu
Arie Noer Rachmawati April 17, 2026 10:14 PM

 

TRIBUNJATIM.COM - Bayang-bayang gangguan besar mulai menghantui industri penerbangan global.

Sejumlah negara kini menghadapi potensi krisis bahan bakar pesawat (avtur) akibat terganggunya distribusi minyak dunia.

Salah satu pemicu utama situasi ini adalah blokade di Selat Hormuz, jalur strategis yang selama ini menjadi lintasan bagi sekitar 20 persen pasokan minyak global.

Ketegangan yang meningkat di kawasan tersebut membuat arus distribusi minyak dari wilayah Teluk ikut tersendat.

Dampaknya diperkirakan paling terasa di kawasan Asia dan Eropa.

Para analis menilai, jika kondisi ini berlanjut, industri penerbangan bisa menghadapi gangguan serius dalam waktu dekat.

Baca juga: Gus Miftah Angkat Bicara Usai Dituding Menjilat Soal Ceramah Prabowo Berhasil Buka Selat Hormuz

Asia dan Eropa Paling Terdampak

Ekonom Rystad Energy, Claudio Galimberti, menyebut krisis ini bisa berkembang menjadi masalah sistemik dalam hitungan minggu.

"Jadi solusinya kemungkinan jumlah penerbangan dikurangi secara signifikan di Eropa, yang akan dimulai pada bulan Mei dan Juni," ia memperingatkan.

Galimberti mengatakan sejumlah penerbangan telah dibatalkan karena kekurangan bahan bakar meski Komisi Eropa mengatakan belum ada kekurangan bahan bakar.

"Saat ini tidak ada bukti kekurangan bahan bakar di Uni Eropa," kata juru bicara Anna-Kaisa Itkonen.

Namun, ia mengakui masalah pasokan dapat terjadi dalam waktu dekat, khususnya untuk bahan bakar jet.

Baca juga: Kapal Tanker Indonesia Masih Tertahan di Selat Hormuz, Diplomasi Prabowo Dapat Sorotan Tajam

Pesawat Terbang Butuh Bahan Bakar Khusus

Pesawat terbang butuh bahan bakar khusus yakni Jet A-1 (avtur) untuk mesin turbin dan Avgas 100LL untuk mesin piston.

Sementara kendaraan umum mobil dan motor pakai bensin atau pertamax untuk mesin bensin dan solar (diesel) untuk mesin diesel.

Pesawat butuh bahan bakar khusus agar aman dipakai di ketinggian  dengan  suhu bisa mencapai -50 °C, sehingga bahan bakar harus tetap cair.

Bahan bakar pesawat lebih stabil dan tidak mudah menguap dibandingkan bensin.

Pesawat juga membutuhkan energi besar untuk lepas landas dan terbang jarak jauh.

Harga avtur di Indonesia per April 2026 sekitar Rp 22.700 – Rp 25.600 per liter. Sementara harga bensin subsidi atau pertalite saat ini Rp 10.000 per liter. 

Baca juga: Pedagang Mulai Gusar Harga Plastik di Jombang Naik 100 Persen Imbas Penutupan Selat Hormuz

Mulai muncul keluhan

Pekan lalu, Airports Council International Europe mengirim surat kepada Komisi Eropa yang menyatakan kekurangan bahan bakar jet dalam tiga minggu ke depan atau awal Mei terjadi jika kapal tanker tidak bisa melalui Selat Hormuz.

Lalu lintas kapal pengangkut minyak melalui Selat Hormuz - yang sebelum perang dilalui oleh seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair dunia - hampir sepenuhnya diblokir sejak Amerika Serikat dan Israel sejak mulai membombardir Iran pada 28 Februari.

Hingga kini AS masih memblokade Selat Hormuz tidak mengizinkan kapal tanker pengangkut minyak lewat.

Kepala Badan Energi Internasional (IEA), Fatih Birol, juga memperingatkan bahwa Eropa mungkin menghadapi kekurangan bahan bakar jet "mulai awal Mei".

Dalam laporan bulanan terbarunya tentang pasar minyak yang dirilis pada hari Selasa, IEA memajukan batas kekurangan pasokan bahan bakar.

"Jika pasar bahan bakar jet global semakin ketat dan pasar Eropa tidak mampu mengamankan lebih dari 50 persen volume Timur Tengah yang hilang, maka stok akan mencapai level kritis 23 hari pada bulan Juni," demikian peringatan tersebut.

Sulit untuk membuat generalisasi menyeluruh tentang situasi ini.

Jepang sangat bergantung pada impor bahan bakar akan tetapi negara itu telah membangun cadangan yang cukup besar.

Situasinya juga sangat berbeda dengan di Eropa.

Austria, Bulgaria, dan Polandia memiliki cadangan yang cukup besar.

Bagi Inggris, Islandia, dan Belanda, keadaannya justru sebaliknya.

Dan dampaknya tidak akan sama untuk semua bandara dan maskapai penerbangan.

"Bandara-bandara yang lebih kecil dan terletak di pedalaman akan berada dalam posisi yang lebih lemah dibandingkan dengan bandara-bandara utama," kata ekonom ING Bank, Rico Luman, kepada AFP.

"Ini bukan berarti penghentian total tetapi pembatalan sebagian di beberapa maskapai dan bandara," tambahnya.

Baca juga: Usai Ditelepon Malaysia, Kapal Petronas Bebas Lewati Selat Hormuz, Iran: Tak Lupakan Teman

IATA memperingatkan bahwa pengisian kembali pasokan bahan bakar jet bisa memakan waktu berbulan-bulan bahkan jika Selat Hormuz dibuka kembali.

Maskapai penerbangan memiliki visibilitas yang terbatas untuk merencanakan jadwal penerbangan mereka.

Airlines for Europe (A4E), sebuah asosiasi perdagangan yang mencakup Air France-KLM, Lufthansa, dan Ryanair, telah mendesak Uni Eropa untuk mulai menyediakan informasi secara real-time tentang stok bahan bakar jet di bandara.

Data tersebut harus berasal dari pemasok bahan bakar, yang tidak antusias untuk menyerahkan data komersial sensitif kepada klien utama mereka.

TotalEnergies telah memperingatkan bahwa jika pasokan minyak dari Teluk tetap terblokir hingga Juni, mereka tidak akan mampu memasok semua pelanggannya.

"Jika perang dan blokade ini berlangsung lebih dari tiga bulan, kita akan mulai menghadapi beberapa masalah pasokan serius untuk beberapa produk seperti bahan bakar jet," kata kepala eksekutif perusahaan, Patrick Pouyanne. 

Airlines for Europe (A4E) juga menyarankan agar Komisi Eropa secara khusus mengizinkan impor bahan bakar jet AS, yang diproduksi dengan standar yang sedikit berbeda dibandingkan di negara lain di dunia.

Kendala regulasi, politik, dan logistik membuat kecil kemungkinan hal ini dapat terjadi dalam waktu dekat.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.