Keluarga Korban Ungkap Detik-detik Sebelum Dua Bocah Hanyut di Sungai Gorontalo
Aldi Ponge April 18, 2026 11:38 AM

TRIBUNGORONTALO.COM - Keluarga korban ungkap detik-detik sebelum dua bocah di Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo hanyut di sungai pada Jumat (17/04/2026). 

Dua anak hanyut di aliran Sungai Bulango, Gorontalo, tepatnya di kawasan Jembatan Ampi. 

Kedua anak tersebut yakni Alindra Elmira Ramadhan (10) dan Muh Nazril Pakaya (10). Keduanya dilaporkan terseret arus sungai saat sedang mandi di sungai Bolango

Korban Nazril Pakaya ditemukan dalam kondisi meninggal pada Jumat pukul 20.58 Wita. Sedangkan korban lainnya masih dalam pencarian hingga Sabtu pagi.

Kedua korban bersama teman-temannya main di sungai yang berada tak jauh dari rumah mereka pada Jumat (17/4/2026) siang

Paman korban, Romi Pakaya, menuturkan bahwa sebelum kejadian, ada lima anak yang pergi ke sungai sekitar pukul 14.00 Wita. Namun, tidak semuanya ikut mandi.

“Berlima mereka ke sungai, tapi hanya dua yang turun mandi. Tiga lainnya tidak ikut,” ujar Romi saat ditemui di rumah duka, Kelurahan Molosipat U, Kecamatan Sipatana, Sabtu (18/4/2026).

Menurutnya, aktivitas mandi di sungai bukan hal baru bagi anak-anak tersebut. Lokasinya yang berada tepat di belakang rumah membuat mereka cukup sering bermain air di sana.

Kejanggalan baru disadari keluarga menjelang waktu Magrib, sekitar pukul 17.30 Wita. Saat itu, dua anak sudah lebih dulu pulang ke rumah.

“Awalnya dua anak pulang. Tiga lainnya masih di lokasi, tapi satu memang tidak mandi. Tidak lama kemudian, satu anak lagi pulang,” jelasnya.

Saat ditanya oleh keluarga, anak yang pulang terakhir itu mengaku dua temannya masih berada di sungai.

“Dari situ keluarga mulai curiga. Saat ditanya, dia bilang dua temannya masih mandi di sungai,” tambah Romi.

Mendengar hal tersebut, keluarga langsung panik dan bergegas menuju lokasi. Namun, saat tiba di sungai, mereka hanya menemukan pakaian dan sandal milik korban.

“Di lokasi cuma ada baju dan sandal. Anak-anaknya sudah tidak ada,” ungkapnya.

Sosok Nazril Pakaya, Bocah Hanyut di Sungai

KORBAN -- Foto semasa hidup Nazril Pakaya (ujung kanan) saat bersama teman sepermainanya. Foto ini ditunjukan keluarga kepada TribunGorontalo.com.
KORBAN -- Foto semasa hidup Nazril Pakaya (ujung kanan) saat bersama teman sepermainanya. Foto ini ditunjukan keluarga kepada TribunGorontalo.com. (TribunGorontalo.com/Jefry Potabuga)

Nazril Pakaya (10) korban meninggal setelah hanyut di sungai dikenal anak yang baik, pendiam, dan memiliki kebiasaan religius sejak kecil.

Ia dikenal rajin melaksanakan salat dan tidak pernah meninggalkan kegiatan mengaji setiap pulang ke rumah.

“Dia itu rajin salat, tiap pulang pasti langsung mengaji itu yang saya tahu karena selalu lewat di depan rumah saya,” ujar seorang tetangga yang tidak ingin disebutkan namanya kepada Tribun Gorontalo, Sabtu (18/4/2026).

Tak hanya itu, korban juga dikenal mudah bergaul dan sering bermain bersama teman-temannya di lingkungan sekitar. 

Dalam foto yang diperlihatkan tetangga, korban tampak duduk bersama teman-temannya, menunjukkan kedekatan dan kebersamaan yang kini tinggal kenangan.

"Mereka itu satu kelas selalu berjalan sama-sama, mereka itu sangat aktif tapi baik-baik," ujarnya.

Awalnya, rencana masa depan korban pun sempat disiapkan oleh pihak keluarga. 

Menurut informasi dari tetangga, korban rencananya akan diajak ayahnya ke Morowali saat tahun ajaran baru mendatang.

“Rencananya mau dipanggil ayahnya mereka sekeluarga ke Morowali, nanti masuk sekolah di sana, dengan saudaranya,” ungkapnya.

Romi Pakaya Paman korban, membenarkan keseharian korban yang dikenal aktif namun tetap penurut di rumah.

“Dia anaknya baik, sering bantu-bantu juga di rumah dan memang sering bermain dengan teman-temannya,” ujar Romi.

Ia juga menjelaskan bahwa korban bersama beberapa temannya pergi ke sungai pada hari kejadian. 

Sungai tersebut memang kerap menjadi tempat mereka bermain dan mandi sepulang beraktivitas.

“Memang mereka sering mandi di sungai belakang rumah,” tambahnya.

Menunggu Ayahnya Pulang

BOCAH HANYUT--Suasana rumah duka di Kelurahan Molosipat U Kecamatan Sipatana Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo Sabtu (18/4/2026).
BOCAH HANYUT--Suasana rumah duka di Kelurahan Molosipat U Kecamatan Sipatana Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo Sabtu (18/4/2026). (TribunGorontalo.com/Jefry Potabuga)

Suasana duka menyelimuti rumah keluarga bocah yang hanyut sungai di Kelurahan Molosipat U, Kecamatan Sipatana, Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo Sabtu (18/4/2026). 

Dua anak hanyut di aliran Sungai Bulango, Gorontalo, tepatnya di kawasan Jembatan Ampi, Jumat (17/4/2026) siang. Seorang ditemukan meninggal, satu bocah lainnya masih dalam pencarian.

Sejak pagi, warga mulai berdatangan untuk melayat, memenuhi halaman rumah yang telah dipasangi tenda sederhana.

Pantauan wartawan Tribun Gorontalo di lapangan, kursi-kursi plastik tersusun rapi di depan rumah

Beberapa warga terlihat duduk dengan wajah tertunduk, sementara lainnya sibuk membantu persiapan pemakaman. 

Keranda yang telah dibalut kain putih tampak diletakkan di halaman rumah.

Isak tangis keluarga sesekali pecah, berpadu dengan suara surah Al Quran yang dipasang di sound system.

Tetangga sekitar turut ambil bagian, ada yang menyiapkan air, ada pula yang mengatur kedatangan pelayat.

Korban bernama Muh Nazril Pakaya (10) adalah seorang siswa kelas IV sekolah dasar. 

Jenazah korban rencananya akan dimakamkan sekitar pukul 10.00 Wita di wilayah setempat.

Ayah korban sedang berada di luar daerah, tepatnya di Morowali, Sulawesi Tengah. 

Hingga Sabtu pagi ini, ia masih dalam perjalanan menuju Gorontalo untuk melihat anaknya terakhir kali.

Kondisi ini membuat keluarga harus menahan duka lebih dalam. 

Beberapa kerabat terlihat terus mendampingi ibu korban yang tampak terpukul atas kejadian tersebut.

Menjelang waktu pemakaman, jumlah pelayat terus bertambah. 

Warga dari berbagai penjuru datang memberikan doa dan dukungan moral kepada keluarga yang ditinggalkan.

Di tengah suasana itu, kebersamaan warga menjadi penguat. 

Mereka saling membantu, memastikan seluruh prosesi berjalan dengan baik hingga waktu pemakaman tiba. (*/Jefri)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.