BANGKAPOS.COM--Ketegangan di kawasan Teluk sedikit mereda setelah Donald Trump mengumumkan pembukaan kembali Selat Hormuz secara permanen usai sempat diblokade selama dua hari terakhir.
Pengumuman tersebut disampaikan Trump melalui akun media sosial pribadinya.
Ia menegaskan bahwa keputusan itu diambil demi menjaga stabilitas distribusi energi global serta kepentingan dunia internasional.
“Kami melakukannya untuk China dan seluruh dunia. Tidak akan ada lagi blokade,” tulis Trump.
Dalam unggahannya, Trump menulis bahwa keputusan membuka kembali Selat Hormuz dilakukan “demi China dan seluruh dunia”, seraya menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak akan lagi melakukan upaya pemblokadean terhadap jalur pelayaran strategis tersebut.
Ia juga menyebut bahwa China menyambut baik kebijakan itu.
“China sangat senang dengan keputusan ini. Kami melakukannya untuk mereka dan untuk seluruh dunia. Tidak akan ada lagi blokade,” tulis Trump dalam pernyataannya di Truth Social.
Lebih jauh, Trump mengklaim telah terjadi kesepahaman awal dengan Presiden China Xi Jinping terkait situasi kawasan.
Ia menyatakan bahwa Beijing sepakat untuk tidak mengirimkan senjata ke Iran, meskipun hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari pihak China maupun Iran mengenai klaim tersebut.
“Presiden Xi dan saya telah berbicara, dan mereka memahami situasinya. Saya percaya China tidak akan mengirimkan senjata ke Iran,” lanjut Trump dalam unggahan yang sama.
Namun demikian, kondisi di lapangan menunjukkan dinamika yang belum sepenuhnya berubah.
Meski Washington menyatakan Selat Hormuz telah dibuka, jalur vital tersebut dilaporkan masih berada dalam pengaruh blokade Iran, khususnya terhadap kapal-kapal yang terafiliasi dengan Amerika Serikat, Israel, dan sekutu mereka.
Hal ini menimbulkan ketidakpastian terkait efektivitas pernyataan pembukaan yang disampaikan Trump.
Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia, yang menjadi penghubung utama ekspor minyak dari kawasan Teluk ke pasar global.
Setiap gangguan di wilayah ini hampir selalu berdampak langsung terhadap harga energi internasional serta stabilitas ekonomi global.
Dalam unggahan tersebut, Trump juga menyinggung rencana pertemuan langsung dengan Xi Jinping dalam waktu dekat.
Ia menekankan bahwa hubungan kerja sama dengan China akan jauh lebih menguntungkan dibandingkan konfrontasi terbuka.
“Kami akan bertemu segera. Hubungan baik dengan China adalah hal yang sangat penting. Presiden Xi adalah pemimpin yang kuat, dan saya menantikan kunjungan ke Beijing,” tulisnya.
Pernyataan ini memperlihatkan upaya Trump untuk meredakan ketegangan sekaligus membuka ruang diplomasi baru dengan China di tengah situasi geopolitik yang kompleks.
Namun, tanpa konfirmasi resmi dari pihak-pihak terkait serta belum berubahnya kondisi faktual di Selat Hormuz, klaim tersebut masih menyisakan sejumlah pertanyaan mengenai implementasi dan dampak nyatanya di lapangan.
Di tengah ketidakpastian ini, komunitas internasional diperkirakan akan terus mencermati perkembangan situasi, mengingat setiap perubahan kebijakan di kawasan Teluk memiliki implikasi luas, tidak hanya bagi negara-negara yang terlibat langsung, tetapi juga bagi stabilitas ekonomi global secara keseluruhan
Namun hingga kini, belum ada konfirmasi resmi dari pihak China maupun Iran terkait pernyataan tersebut.
Trump bahkan mengisyaratkan rencana pertemuan langsung dengan Xi dalam waktu dekat sebagai bagian dari upaya meredakan ketegangan dan membuka jalur diplomasi baru.
Berbagai sumber dari China dan Barat memperkirakan bahwa sekitar 90 persen ekspor minyak mentah Iran dikirim ke China selama ini.
Ekspor minyak Iran ke China meningkat sekitar 30 persen sejak satu dekade lalu, setelah sanksi AS terhadap Iran menyingkirkan sebagian besar pembeli minyak Iran.
Minyak mentah Iran menyumbang sekitar 13 persen hingga 15 persen dari total impor minyak China.
Meskipun Iran secara efektif menutup Selat Hormuz tersebut sejak awal perang pada 28 Februari lalu.
Namun Iran tetap mengizinkan kapal-kapal tertentu dari China untuk melewatinya.
Setidaknya dua kapal tanker minyak mentah berukuran sangat besar milik raksasa perkapalan Tiongkok, Cosco, berhasil melewati jalur air tersebut pada tanggal 11 April, menjadi kapal tanker milik negara pertama yang meninggalkan Teluk Timur Tengah sejak pecahnya konflik, menurut data pelacakan kapal Lloyd's List Intelligence.
Menurut data tersebut, salah satu kapal membawa minyak mentah Irak sementara yang lainnya membawa minyak mentah Saudi.
Namun data tersebut tidak menunjukkan apakah kapal tanker tersebut mengunjungi pelabuhan Iran. Cosco setidaknya masih memiliki lima kapal lain yang menunggu di Teluk Persia.
Pada 14 April, sebuah kapal tanker yang dikenai sanksi AS dan terkait dengan China dilaporkan melintasi selat tersebut, meskipun tidak jelas apakah kapal itu mengunjungi pelabuhan Iran atau membawa kargo, menurut laporan Bloomberg.
Meski Washington menyatakan jalur pelayaran telah dibuka, situasi di lapangan belum sepenuhnya stabil.
Iran disebut masih memiliki pengaruh terhadap arus lalu lintas kapal, khususnya terhadap kapal yang berafiliasi dengan Amerika Serikat dan sekutunya.
Kondisi ini memunculkan keraguan terhadap efektivitas kebijakan pembukaan tersebut, mengingat pengawasan di wilayah strategis itu belum sepenuhnya terkendali.
Selat Hormuz merupakan jalur vital yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas dunia.
Setiap gangguan di wilayah ini berdampak langsung pada harga energi global serta stabilitas ekonomi internasional.
Sebelumnya, blokade sempat menyebabkan penurunan drastis lalu lintas kapal hingga lebih dari 90 persen.
Ribuan kapal dilaporkan tertahan di kawasan Teluk, memicu kekhawatiran akan krisis pasokan energi.
Negara-negara seperti China dan India menjadi pihak yang paling terdampak karena ketergantungan tinggi terhadap impor energi, termasuk minyak dari Iran.
Di tengah situasi yang masih belum sepenuhnya kondusif, Trump juga mengisyaratkan kelanjutan negosiasi dengan Iran dalam waktu dekat.
Pembicaraan tersebut kemungkinan kembali digelar di Pakistan setelah perundingan sebelumnya belum mencapai kesepakatan.
Wakil Presiden AS JD Vance menyebut bahwa pemerintah AS tengah mengupayakan “kesepakatan besar” yang tidak hanya menyangkut isu nuklir, tetapi juga stabilitas kawasan dan kesejahteraan ekonomi Iran.
Di tempat berbeda, Wakil Presiden AS JD Vance juga membenarkan rencana negosiasi dari Trump tersebut.
Saat berbicara dalam acara Turning Point USA di Georgia, Vance menegaskan bahwa Trump tidak tertarik pada solusi jangka pendek atau skala kecil dalam menangani isu Teheran.
Vance mengatakan, hari ini bahwa Trump ingin membuat "kesepakatan besar” terkait Iran.
Ia juga mengklaim bahwa Trump menjanjikan kesuksesan ekonomi bagi Iran dalam negosiasi tersebut.
“Dia tidak ingin membuat kesepakatan kecil. Dia ingin membuat kesepakatan besar,” tegas Vance.
Terkait kegagalan proses negosiasi yang berjalan di Islamabad, Pakistan, pada akhir pekan kemarin, Vance pun buka suara.
Ia mengakui adanya kemajuan pemahaman antara kedua belah pihak meskipun pertemuan kala itu belum membuahkan kesepakatan final.
“Di Pakistan, kami membuat banyak kemajuan,” ungkap Vance mengenai negosiasi tersebut.
Vance pun menjelaskan lebih detail mengenai alasan di balik alotnya perundingan.
Menurutnya, Presiden AS menginginkan sebuah perjanjian komprehensif yang menjamin keamanan global sekaligus kesejahteraan rakyat Iran.
“Tetapi alasan mengapa kesepakatan itu belum selesai adalah karena presiden benar-benar menginginkan kesepakatan di mana Iran tidak memiliki senjata nuklir dan Iran tidak menjadi negara sponsor terorisme. Selain itu, Trump juga ingin rakyat Iran dapat berkembang dan makmur serta bergabung dengan ekonomi dunia,” papar Vance.
Meski ada sinyal deeskalasi, komunitas internasional masih mencermati perkembangan situasi di Selat Hormuz.
Tanpa kepastian di lapangan dan konfirmasi resmi dari semua pihak, kebijakan pembukaan ini dinilai belum sepenuhnya menjamin stabilitas kawasan.
Perubahan sekecil apa pun di jalur strategis ini diyakini akan membawa dampak luas, tidak hanya bagi negara-negara di kawasan, tetapi juga bagi perekonomian global secara keseluruhan.
Tribunnews.com/Tribunjatim.com