TRIBUNNEWS.COM - Ketegangan di kawasan Teluk kembali meningkat setelah Iran menutup kembali Selat Hormuz pada Sabtu (18/4/2026), menyusul laporan serangan terhadap sejumlah kapal dagang.
Penutupan ini dilakukan sehari setelah jalur vital perdagangan energi dunia sempat dibuka sementara.
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan setiap kapal yang mendekat akan dianggap bekerja sama dengan musuh dan menjadi target.
Penutupan tersebut disebut sebagai respons atas blokade Amerika Serikat terhadap pelabuhan Iran.
Presiden AS Donald Trump menegaskan negaranya tidak akan “diblackmail” oleh ancaman Iran dan blokade akan terus berlanjut hingga tercapai kesepakatan damai.
Data pelacakan menunjukkan sebagian kapal berhasil melintas saat strait sempat dibuka, namun banyak yang terpaksa mengubah rute setelah IRGC kembali menutup akses.
Laporan UK Maritime Trade Operations (UKMTO) menyebut sebuah tanker ditembaki kapal patroli Iran, sementara sebuah kontainer dihantam proyektil tak dikenal di lepas pantai Oman.
India bahkan memanggil duta besar Iran untuk menyampaikan keprihatinan atas insiden penembakan terhadap dua kapal berbendera India.
Situasi ini menambah tekanan global, mengingat sekitar 20 persen pasokan minyak dan LNG dunia melewati Selat Hormuz.
Harga minyak pun melonjak di atas 100 dolar per barel. Iran sebelumnya telah berulang kali mengancam akan menyerang kapal tanker dan menebar ranjau di jalur tersebut.
Dengan masa gencatan senjata yang akan berakhir 22 April, krisis ini menimbulkan kekhawatiran akan eskalasi konflik lebih luas di kawasan.
Baca juga: IRGC Tangkap 69 Mata-mata AS-Israel: Aktivitas Mencurigakan hingga Rencana Sabotase di Iran
Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Pertahanan Australia, Richard Marles, menyebut penutupan kembali Selat Hormuz oleh Iran sebagai langkah yang “mengecewakan”.
Ia menegaskan kebebasan navigasi di jalur vital perdagangan energi dunia itu merupakan kepentingan nasional utama bagi Australia.
Marles mengatakan setiap upaya diplomasi harus ditempuh untuk memastikan gencatan senjata permanen di Timur Tengah. Namun, ia berhati-hati dalam menanggapi blokade pelabuhan Iran oleh Amerika Serikat.
“Saya memahami reaksi Amerika, tetapi tidak akan berspekulasi lebih jauh. Yang jelas, kami ingin Selat Hormuz tetap terbuka,” ujarnya dalam program Insiders pada Minggu (19/4/2026).
Pernyataan ini muncul setelah Iran kembali menutup strait hanya sehari setelah sempat dibuka untuk kapal komersial.
Penutupan dilakukan sebagai respons atas blokade AS yang masih berlangsung. Presiden Donald Trump sebelumnya menegaskan blokade akan diteruskan hingga tercapai kesepakatan damai.
Hubungan Australia-AS ikut menjadi sorotan setelah Trump mengkritik Australia karena dianggap tidak memberikan dukungan di Selat Hormuz.
Pemerintah Australia menegaskan belum menerima permintaan resmi dari Washington, namun tetap berkomunikasi dengan AS dan sekutu lain mengenai kemungkinan kontribusi di masa depan.
Sementara itu, oposisi melalui Jonathan Duniam meminta pemerintah lebih transparan terkait permintaan bantuan yang mungkin diajukan AS. “Situasi di Selat Hormuz berdampak pada kehidupan kita, termasuk biaya hidup. Jika ada permintaan, publik berhak tahu,” katanya.
Kasus ini menambah tekanan internasional untuk mencari solusi jangka panjang atas konflik di kawasan, dengan lebih dari 40 pemimpin dunia telah berdiskusi mengenai keamanan jalur tersebut.
Australia menyatakan akan berpartisipasi dalam pembicaraan, meski belum merinci bentuk kontribusi yang akan diberikan.
Selat Hormuz merupakan jalur air strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman. Di utara berbatasan dengan Iran, sementara di selatan terdapat Semenanjung Musandam yang terbagi antara Uni Emirat Arab dan eksklave Oman.
Selat ini memiliki panjang sekitar 167 km dengan lebar bervariasi antara 39–97 km. Hormuz menjadi satu-satunya jalur laut dari Teluk Persia menuju samudra lepas, menjadikannya titik rawan strategis paling penting di dunia.
Data tahun 2023–2025 menunjukkan sekitar 20 persen gas alam cair (LNG) dunia dan 25% perdagangan minyak global melewati selat ini setiap tahun. Pasokan energi dari kawasan Teluk melalui Hormuz menjadi sumber utama bagi Eropa dan Asia, sehingga gangguan di jalur ini berpotensi menimbulkan krisis energi global.
Selain itu, Hormuz adalah jalur maritim tunggal bagi Qatar, Kuwait, dan Bahrain.
Penutupan atau gangguan di selat ini dapat menyebabkan kekurangan pasokan yang parah. Karena itu, kebebasan navigasi di Hormuz dianggap “kritis” bagi keamanan energi internasional.
Secara historis, Selat Hormuz jarang ditutup lama meski konflik di Timur Tengah kerap terjadi.
Namun, ancaman Iran untuk menutup jalur ini, termasuk persiapan pemasangan ranjau, sering menimbulkan ketegangan. Situasi semakin memanas dalam Perang Iran 2026, ketika selat menjadi pusat perhatian komunitas internasional dan memicu krisis Selat Hormuz.
(ABC/CNN)