Berdiri Sejak Tahun 1458, Masjid Jami Gresik Jadi Saksi Perkembangan Islam di Pesisir Jawa
Mujib Anwar April 19, 2026 01:14 PM

 

TRIBUNJATIM.COM – Masjid Jami Gresik menjadi salah satu bangunan bersejarah yang memiliki peran penting dalam perkembangan Islam di Kabupaten Gresik. 

Berdiri sejak abad ke-15, masjid ini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga saksi perjalanan panjang sejarah, mulai dari era Majapahit hingga masa modern.

Didirikan Nyai Ageng Pinatih pada Abad ke-15

Potret Masjid Jami’ Gresik, bangunan bersejarah peninggalan abad ke-15 yang didirikan Nyai Ageng Pinatih.
Potret bangunan lama Masjid Jami’ Gresik, peninggalan abad ke-15 yang didirikan Nyai Ageng Pinatih. (disparekrafbudpora.gresikkab.go.id)

Diketahui, Masjid Jami Gresik pertama kali didirikan sekitar tahun 1458 oleh Nyai Ageng Pinatih.

Nyai Ageng Pinatih sendiri merupakan seorang tokoh perempuan berpengaruh yang juga dikenal sebagai ibu asuh Sunan Giri.

Pada masa itu, ia menjabat sebagai Syahbandar Pelabuhan Timur di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit.

Awalnya, masjid dibangun di kawasan perbukitan dekat pelabuhan Teluk Lamong, tepatnya di wilayah yang kini dikenal sebagai Kelurahan Kebungson, Kecamatan Gresik.

Bangunan masjid saat itu masih sangat sederhana dengan konstruksi berbahan kayu.

Sejak awal berdirinya, Masjid Jami’ Gresik tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat kegiatan keagamaan dan dakwah Islam di wilayah pesisir utara Jawa.

Baca juga: Masjid Rahmat Kembang Kuning, Masjid Tertua di Surabaya Peninggalan Dakwah Sunan Ampel

Pindah Lokasi ke Pusat Kota Gresik

Seiring berkembangnya jumlah jamaah dan aktivitas keagamaan, Masjid Jami Gresik mengalami beberapa kali perpindahan lokasi.

Pemindahan besar terjadi pada tahun 1712 saat Gresik dipimpin Tumenggung Puspanegara.

Masjid yang sebelumnya berada di kawasan pesisir dipindahkan ke pusat pemerintahan dan perekonomian, yang kini menjadi kawasan alun-alun Kabupaten Gresik.

Lokasi ini juga berdekatan dengan makam Sunan Maulana Malik Ibrahim, sehingga memperkuat peran masjid sebagai pusat ibadah dan pendidikan Islam.

Pemindahan tersebut dilakukan untuk menyesuaikan kebutuhan jamaah yang semakin meningkat sekaligus mendekatkan fungsi masjid dengan pusat aktivitas masyarakat.

Baca juga: Menilik Jejak Sejarah Masjid Kuningan Pondok Kidul, Masjid Tertua Saksi Siar Islam di Blitar

Berkali-kali Dilanda Kebakaran dan Bencana

Perjalanan Masjid Jami Gresik tidak lepas dari berbagai ujian bencana, terutama kebakaran dan sambaran petir yang berulang kali merusak bangunannya.

Dilansir dari disparekrafbudpora.gresikkab.go.id, kebakaran besar pertama terjadi pada tahun 1712 yang membuat masjid harus dibangun ulang.

Setelah itu, kebakaran kembali terjadi pada tahun 1786 dan 1796, serta insiden sambaran petir pada tahun 1789.

Akibat berbagai peristiwa tersebut, bangunan masjid beberapa kali mengalami renovasi.

Salah satu renovasi besar terjadi pada tahun 1806 setelah serangkaian kebakaran yang merusak struktur bangunan.

Renovasi tersebut dilakukan dengan tetap mempertahankan unsur arsitektur khas Nusantara meski menggunakan teknik konstruksi yang lebih modern.

Peristiwa serupa kembali terjadi pada tahun 1927, ketika masjid tersambar petir dan mengalami kerusakan cukup parah, terutama pada bagian atap hingga mengalami kebocoran.

Renovasi pun besar kembali dilakukan mulai tahun 1927, ditandai dengan peletakan batu pertama dari granit merah.

Proses pembangunan ini kemudian rampung pada tahun 1929, sekaligus memperluas area masjid.

Baca juga: Sejarah Kampung Ampel Surabaya, dari Pusat Dakwah Hingga Wisata Kuliner

Perpaduan Arsitektur Nusantara dan Kolonial

Meski telah mengalami berbagai renovasi, Masjid Jami’ Gresik tetap mempertahankan ciri khas arsitektur aslinya yang kental dengan nuansa Nusantara.

Dikutip dari cagarbudaya.kemdikbud.go.id, hal tersebut terlihat dari penggunaan soko guru (tiang utama), soko rowo, serta bentuk atap tradisional berbahan kayu yang masih dipertahankan hingga kini.

Pada awalnya, bangunan masjid memang sederhana dengan ukuran kecil dan atap payon.

Seiring perkembangannya, terutama setelah renovasi pada abad ke-18, konstruksi masjid mulai mengadopsi teknik kolonial Belanda tanpa menghilangkan nilai arsitektur lokal.

Perpaduan ini menjadikan Masjid Jami Gresik sebagai bangunan unik yang menggabungkan budaya lokal dengan pengaruh luar.

Baca juga: Menengok Sejarah Masjid Agung At Taqwa, Masjid Pertama di Bondowoso di Tahun 1809

Pengembangan Bangunan dari Masa ke Masa

Perkembangan Masjid Jami Gresik terus berlanjut hingga abad ke-20, termasuk fasilitas masjid yang terus dikembangkan.

Dinukil dari disparekrafbudpora.gresikkab.go.id, berbagai penambahan fasilitas dilakukan, seperti pembangunan serambi dan tempat wudhu pada tahun 1955.

Kemudian pada tahun 1977 hingga 1982, dilakukan pembangunan tambahan berupa bangunan bertingkat, kantor pengelola, serta fasilitas penunjang lainnya.

Hal ini dilakukan untuk mengakomodasi kebutuhan jamaah yang terus meningkat.

Baca juga: Menengok Sejarah Masjid Jami Bathoro Katong, Jadi Masjid Tertua dan Tempat Makam Pendiri Ponorogo

Ikon Religi dan Warisan Sejarah Gresik

Hingga kini, Masjid Jami Gresik tetap berdiri kokoh di kawasan alun-alun kota dan menjadi salah satu ikon religi di Kabupaten Gresik.

Keberadaannya tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai saksi bisu perjalanan sejarah Islam di Jawa Timur.

Masjid ini mencerminkan semangat dakwah, ketahanan terhadap berbagai bencana, serta perpaduan budaya yang terus terjaga dari masa ke masa.

Sejarah panjangnya menjadi inspirasi bagi generasi saat ini dalam menjaga warisan budaya dan nilai-nilai keislaman.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.