Indonesia-Malaysia Berburu Minyak ke Rusia, tapi Emas Hitam Moskow Jadi Target Serangan Ukraina
Glery Lazuardi April 19, 2026 03:32 PM

TRIBUNNEWS.COM - Indonesia dan Malaysia kini menoleh ke Rusia untuk mengamankan pasokan energi, di tengah ketidakpastian global akibat perang.

Namun, langkah ini beriringan dengan risiko besar, di mana serangan Ukraina terhadap infrastruktur minyak yang disebut sebagai “emas hitam” dunia, menjadikan jalur energi semakin rapuh dan penuh ancaman.

Indonesia-Malaysia Berburu Minyak ke Rusia

Pemerintah Indonesia mulai melirik pasokan minyak mentah dari Rusia sebagai langkah strategis untuk menutup defisit energi nasional yang semakin lebar di tengah ketidakpastian global.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa pemerintah tidak akan membatasi sumber impor minyak hanya dari negara tertentu, selama memberikan keuntungan bagi kepentingan nasional.

“Kita masih impor kurang lebih sekitar 1 juta barel per hari. Di tengah kondisi global seperti ini, kita harus mencari sumber dari berbagai negara,” ujar Bahlil di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (17/4/2026).

Saat ini, konsumsi bahan bakar minyak (BBM) nasional mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari. Namun, produksi dalam negeri baru berada di kisaran 600 ribu barel per hari, sehingga Indonesia masih bergantung pada impor dalam jumlah besar.

Menurut Bahlil, kebutuhan minyak mentah Indonesia setiap tahun mencapai sekitar 300 juta barel. Oleh karena itu, pemerintah akan mengambil langkah pragmatis dengan membeli dari negara mana pun yang memberikan nilai terbaik.

“Semua kita ambil, mana yang menguntungkan untuk negara, itu yang kita lakukan,” tegasnya.

Baca juga: Ketum TP PKK Tri Tito Karnavian Apresiasi Produk Minyak Kemiri Unggulan dari Belu

Selain minyak mentah, pemerintah juga tengah menjajaki impor LPG dari Rusia sebagai bagian dari diversifikasi sumber energi. Kebutuhan LPG nasional pada 2026 diperkirakan mencapai 10 juta ton, sementara produksi dalam negeri hanya sekitar 1,6 juta ton.

Langkah ini merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat ketahanan energi nasional di tengah dinamika geopolitik global.

Bahlil menegaskan bahwa kerja sama dengan Rusia tidak akan mengganggu hubungan Indonesia dengan negara lain, termasuk Amerika Serikat. Pemerintah tetap berpegang pada prinsip politik luar negeri bebas aktif.

“Dalam politik bebas aktif, kita juga menerapkan ekonomi bebas aktif. Artinya, kita bisa bekerja sama dengan siapa saja selama menguntungkan dan tetap menjaga komitmen dengan mitra lain,” jelasnya.

Lebih jauh, kerja sama Indonesia dengan Rusia tidak hanya mencakup pembelian minyak mentah, tetapi juga membuka peluang pembangunan infrastruktur energi seperti kilang dan fasilitas penyimpanan strategis.

Minyak mentah dari Rusia bahkan ditargetkan mulai masuk ke Indonesia pada April 2026, meski volume dan skema harga masih dalam tahap pembahasan bisnis antarperusahaan.

Langkah agresif ini menandai perubahan pendekatan Indonesia dalam mengamankan pasokan energi—lebih fleksibel, pragmatis, dan berorientasi pada kepentingan nasional di tengah lanskap global yang kian dinamis.

Isu Diskon Minyak Rusia ke Indonesia Disorot

Berdasarkan penelusuran akun Cek Fakta RI, judul-judul tersebut disebut membelokkan konteks pernyataan resmi dan berpotensi menimbulkan kesalahpahaman di ruang publik.

“Pada prinsipnya, Rusia tetap terbuka untuk menjalin kerja sama energi dengan Indonesia secara berkelanjutan. Penetapan harga dilakukan melalui mekanisme bisnis yang mengikuti dinamika pasar global,” tulis Cek Fakta RI dalam unggahannya, dikutip Minggu (19/4/2026).

Pihak Kedutaan juga menegaskan bahwa pembahasan harga minyak tidak ditentukan secara sepihak, melainkan melalui skema business-to-business antara entitas terkait di kedua negara.

Selain itu, kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Moskow disebut menjadi momentum penting dalam memperkuat kerja sama strategis di sektor energi, khususnya minyak dan gas.

“Komitmen kedua negara untuk memperluas kemitraan strategis di bidang tersebut sangat kuat. Format kerja sama tertentu saat ini sedang dibahas, sesuai dengan mekanisme bisnis yang berlaku,” demikian pernyataan Kedutaan Besar Rusia di Indonesia.

Klarifikasi ini sekaligus meredam spekulasi publik terkait isu harga minyak, serta menegaskan bahwa hubungan energi Indonesia dan Rusia tetap berjalan dalam koridor kerja sama yang terbuka dan profesional.

Di tengah dinamika geopolitik global, pemerintah Indonesia terus mengedepankan pendekatan pragmatis dalam menjaga ketahanan energi nasional, termasuk menjalin kemitraan dengan berbagai negara.

Baca juga: RI Dapat Pasokan Minyak Rusia, Pakar Sebut Upaya Pemerintah Kurangi Konsentrasi Impor

Malaysia Siap Negosiasi Minyak dengan Rusia

Pemerintah Malaysia membuka peluang kerja sama energi dengan Rusia guna memastikan pasokan minyak dalam negeri tetap aman di tengah gejolak geopolitik global.

Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, menyatakan bahwa perusahaan energi nasional PETRONAS akan melakukan negosiasi langsung dengan Rusia untuk pembelian minyak mentah.

Menurut Anwar, hubungan baik antara Malaysia dan Rusia menjadi modal penting dalam menjalin kerja sama tersebut, terutama saat banyak negara kini berlomba mendapatkan pasokan energi.

“Hubungan kita dengan Rusia tetap baik. Karena itu, tim PETRONAS bisa bernegosiasi dengan mereka,” ujar Anwar dalam keterangannya saat peresmian terminal baru Bandara Sultan Ismail Petra di Kota Bharu, Sabtu (18/4/2026).

Ia juga menyoroti perubahan sikap sejumlah negara Barat yang sebelumnya menjatuhkan sanksi terhadap Rusia, namun kini justru ikut bersaing membeli minyak dari negara tersebut.

Di tengah ketegangan global yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan negara-negara Eropa, Anwar mengungkapkan bahwa pemerintah Malaysia bergerak cepat melalui jalur diplomasi untuk menjaga kelancaran distribusi energi.

Salah satu langkah krusial adalah memastikan kapal tanker minyak Malaysia dapat melintasi Selat Hormuz yang sempat terdampak konflik.

“Alhamdulillah, tanker PETRONAS berhasil tiba dengan selamat di kompleks Pengerang. Ini penting karena proses pengolahan hanya bisa dilakukan di sana,” jelasnya.

Keberhasilan tersebut, lanjut Anwar, merupakan hasil komunikasi awal pemerintah Malaysia dengan pihak Iran di tengah negosiasi internasional yang masih berlangsung terkait keamanan jalur tersebut.

Meski demikian, ia mengakui masih ada beberapa kapal Malaysia yang mengalami kendala seperti keterlambatan dan kerusakan, namun pemerintah terus berupaya mengatasinya.

Anwar juga menegaskan bahwa prioritas utama pemerintah adalah memenuhi kebutuhan energi domestik sebelum membantu negara lain.

“Jika ada kelebihan, kita akan bantu negara sahabat. Jika tidak, kita utamakan kebutuhan rakyat kita terlebih dahulu,” tegasnya.

Langkah Malaysia ini mencerminkan strategi adaptif negara-negara di tengah krisis energi global, dengan memperluas sumber pasokan dan memperkuat diplomasi energi demi menjaga stabilitas nasional.

‘Emas Hitam’ Jadi Target Serangan Ukraina

Namun, upaya Indonesia dan Malaysia mendapatkan minyak dari Rusia bukan tanpa hambatan. ‘Emas Hitam’ menjadi target serangan Ukraina.

Terbaru, Militer Ukraina melancarkan serangan terhadap empat fasilitas industri minyak penting milik Rusia dalam operasi semalam pada 18 April 2026. 

Serangan ini disebut sebagai bagian dari upaya melemahkan kemampuan militer dan ekonomi Moskow.

Dalam pernyataan resmi, Staf Umum Ukraina menyebut target serangan mencakup kilang minyak di Novokuybyshevsk dan Syzran di wilayah Samara, terminal minyak di Leningrad, serta stasiun pemompaan minyak di Tikhoretsk, Krasnodar.

Serangan tersebut diyakini menargetkan infrastruktur yang berperan penting dalam mendukung operasional militer Rusia, sekaligus menjadi sumber utama pendapatan negara dari sektor energi.

“Serangan ini merupakan bagian dari kampanye untuk melemahkan kemampuan militer dan ekonomi Rusia,” demikian pernyataan militer Ukraina.

Hingga saat ini, tingkat kerusakan dari serangan tersebut masih dalam tahap evaluasi. Namun, sejumlah kanal Telegram Rusia melaporkan terjadinya kebakaran besar di kilang Novokuybyshevsk usai dugaan serangan drone.

Sementara itu, Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim berhasil mencegat sebanyak 258 drone Ukraina dalam serangan yang terjadi di beberapa wilayah, termasuk Leningrad, Samara, dan Krasnodar. Klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.

Dalam beberapa bulan terakhir, Ukraina meningkatkan intensitas serangan terhadap infrastruktur minyak Rusia. Langkah ini bertujuan menekan sumber pendanaan utama Kremlin, terutama di tengah lonjakan harga minyak global akibat konflik geopolitik, termasuk perang di Iran.

Pada Maret lalu, serangan drone jarak jauh Ukraina dan gangguan terhadap armada tanker dilaporkan telah melumpuhkan sekitar 40 persen kapasitas ekspor minyak Rusia.

Serangan terbaru ini menandai eskalasi lanjutan dalam konflik yang tidak hanya berdampak pada sektor militer, tetapi juga memperbesar tekanan terhadap stabilitas energi global.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.