TRIBUNNEWS.COM, TANGERANG – Selama ini, banyak pelaku industri di Indonesia harus menelan pil pahit berupa biaya tinggi dan waktu tunggu yang lama karena terpaksa mengirimkan sampel produk mereka ke laboratorium di luar negeri demi memenuhi standar global.
Namun, pergeseran tren mulai terlihat pada ajang Lab Indonesia 2026 di ICE BSD, Tangerang, Banten, Kamis (16/4/2026).
Pemain jasa laboratorium domestik, Alvalab, mulai mengambil peran strategis dengan memperkenalkan lima layanan pengujian berbasis teknologi tinggi.
Langkah ini dirancang untuk menjawab kompleksitas kebutuhan industri pangan, pertanian, hingga manufaktur yang kian dinamis di pasar internasional.
Head of Sales and Marketing Alvalab, Jonathan A. Widakdo, menjelaskan bahwa kehadiran fasilitas lokal dengan standar global menjadi kunci efisiensi bagi pengusaha nasional.
"Banyak industri selama ini mengirim sampel ke luar negeri. Dengan pengembangan di dalam negeri, pengujian jadi jauh lebih efisien dari sisi biaya dan waktu," ujarnya.
Baca juga: BPOM Sebut Vape Tak Bisa Dilarang Total, Ada Kaitan Pengawasan di UU Kesehatan
Salah satu tantangan terbesar dalam ekspor komoditas seperti rempah-rempah adalah analisis residu pestisida pada material kompleks.
Berbeda dengan bahan berbasis daun, komoditas seperti cassia stick (kayu manis) dan lada hitam memiliki matriks yang lebih sulit diurai.
Alvalab mengklaim telah mengadopsi teknologi analitik yang mampu menembus batasan tersebut untuk memastikan produk lokal memenuhi ambang batas Maximum Residue Limit (MRL) yang dipersyaratkan negara tujuan ekspor.
Selain pestisida, aspek keamanan pangan kini diperketat melalui pengujian alergen dengan metode Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA) yang mampu mendeteksi jejak kontaminasi terkecil sekalipun.
Di dunia industri, waktu adalah komoditas yang mahal.
Menariknya, laboratorium ini menerapkan sistem pengerjaan yang menggunakan kalender hari, termasuk tetap beroperasi pada akhir pekan.
Strategi ini diambil untuk memberikan kepastian lead time bagi klien yang seringkali terbentur jadwal produksi yang ketat.
"Yang dibutuhkan klien itu kepastian, baik dari sisi kualitas maupun waktu pengerjaan," tambah Jonathan.
Akurasi pengujian sendiri didukung oleh instrumentasi asal Eropa yang diklaim mencapai tingkat presisi 99,5 persen.
Tidak hanya menyasar korporasi besar dan pembeli internasional, penguatan ekosistem laboratorium ini juga mulai merambah sektor UMKM.
Hal ini dilakukan melalui penyediaan paket pengujian yang lebih terjangkau serta konsultasi gratis untuk membantu pelaku usaha mikro menembus perizinan BPOM.
Senada dengan itu, Managing Director Alvalab, Billy Laurence, melihat bahwa kebutuhan akan layanan lab yang terintegrasi kini bukan lagi sekadar opsi, melainkan kebutuhan primer untuk mencegah overclaim produk di pasar.
Memasuki kuartal kedua 2026, optimisme terhadap pertumbuhan industri pangan nasional terus meningkat.
Dengan alat dan akreditasi yang semakin lengkap, industri pengujian dalam negeri diharapkan mampu menjadi benteng kualitas bagi produk Indonesia sebelum berlaga di kancah global.