TRIBUNMANADO.CO.ID - Pemandangan antrean panjang kendaraan menghiasi SPBU Kotabangon, Kotamobagu, Sulawesi Utara, pada Minggu (17/4/2026).
Membludaknya kendaraan yang mengantre BBM jenis Pertalite dan Solar ini dipicu oleh lonjakan harga pada tiga jenis BBM non-subsidi yang baru saja ditetapkan pemerintah.
Kenaikan harga tersebut tergolong drastis, dengan selisih mencapai Rp 9.000-an per liter.
Rincian harga terbaru mencakup:
Pertamax Turbo: Dari Rp 13.100 menjadi Rp 19.400 per liter.
Dexlite: Dari Rp 14.200 menjadi Rp 23.600 per liter.
Pertamina Dex: Dari Rp 14.500 menjadi Rp 23.900 per liter.
Kondisi ini memaksa para pengguna jalan, terutama pekerja sektor transportasi, untuk beralih dan bergantung sepenuhnya pada BBM subsidi.
Kenly, seorang sopir truk setempat, mengungkapkan bahwa fenomena ini terjadi karena masyarakat khawatir kehabisan jatah subsidi yang jumlahnya dibatasi.
"Kalau subsidi kan kuotanya terbatas. Jadi siapa cepat, dia dapat," katanya saat ditemui di lokasi antrean.
Perjuangan untuk mendapatkan bahan bakar pun kian berat.
Kenly mengaku telah berada di SPBU sejak pukul 06.00 WITA, namun ia justru merasa tertinggal dibandingkan pengendara lain.
"Ada yang sudah antri dari semalam, saya belum ada apa-apanya," tambah Kenly.
Bagi para sopir, durasi mengantre hingga tiga jam bukan lagi pilihan, melainkan keharusan demi menyambung hidup.
Jika tangki kendaraan kosong, roda ekonomi keluarga mereka pun terancam berhenti berputar.
"Karena kalau mobil tidak terisi, maka kami tak bisa kerja. Bagaimana anak istri mau makan kalau seperti ini kondisinya," tegas dia.
Situasi di lapangan ini memicu harapan besar agar pemerintah segera turun tangan dan meninjau kembali kebijakan tersebut.
Efek domino dari kenaikan harga BBM non-subsidi dianggap sangat membebani masyarakat kelas bawah.
"Karena pada akhirnya, kami rakyat kecil yang kena imbasnya," tuturnya.
"Jadi kami harap ada kajian lagi soal kenaikam harga BBM ini," tandasnya.
WhatsApp TribunManado.co.id : KLIK