Di Mana Surat-surat yang Diterima Kartini dari Sahabat-sahabatnya?
Moh. Habib Asyhad April 20, 2026 01:34 PM

Surat-surat Kartini untuk sahabat-sahabatnya di Belanda sudah terbit jadi buku. Lalu di mana surat-surat yang diterima Kartini dari sahabat-sahabatnya?

Artikel ini tayang pertama di Majalah Intisari edisi Oktober 1979 dengan judul "Dimana Surat-Surat yang Diterima Kartini" | Penulis: Julius Pour

---

Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini

---

Intisari-Online.com -Ada kekecewaan di hati Dr. Sulastin Sutrisno, meski dia berhasil meng-Indonesiakan dengan baik sebagian besar surat-surat yang pernah ditulis Kartini. Dia masih merasa kurang, karena belum berhasil menangani surat-surat yang ditujukan kepada Kartini.

Dia pribadi berkeyakinan, surat-surat ini pernah diterima Kartini. Karena mustahil, para sahabat penanya tidak pernah membalas menulis surat? Kehadiran surat-surat tadi penting.

"Itu akan membantu kita menggambarkan pikiran-pikiran Kartini seutuhnya. Di samping lebih mampu mengetahui segala permasalahan yang pernah dilontarkannya!" kata Sulastin.

Berbagai kemungkinan telah dikemukakan, mengapa kumpulan surat-surat jawaban ini tak pernah ketemu. Mungkin karena Kartini tergesa-gesanya pindah dari Jepara ke Rembang, tatkala ia kawin dengan bupati.

Mungkin karena kematian yang begitu cepat menjemput, sehingga tak seluruh koleksinya terurus. Tetapi mungkin pengaruh buruk kita bersama, menganggap segala surat yang selesai dibaca tak lagi mempunyai nilai.

126 lembar surat

Menurut taksiran, selama hidupnya Kartini melayangkan surat kepada para teman penanya tak kurang dari 126 lembar. Tidak seluruh surat-surat tersebut sudah dikumpulkan. Beberapa di antaranya tetap menjadi koleksi pribadi sahabat-sahabatnya.

Surat-surat ini tak pernah diumumkan, sehingga masyarakat pun tak pernah tahu apa isinya. Walaupun juga terbuka kemungkinan, bahwa surat-surat jenis itu isinya kurang bermanfaat untuk orang lain.

Namun dari seluruh surat yang pernah ditulis Kartini, 78 surat dewasa ini telah terkumpul, di-indonesia-kan dan terbit berupa sebuah buku tebal bersampul merah dalam judul sangat sederhana Surat Surat Kartini. Sebenarnya Sulastin selesai menerjemahkannya sekitar tahun 1976, setelah selama setahun penuh di sela-sela kesibukannya menyisihkan waktu, membaca ulang satu demi satu surat-surat tersebut.

Secara kebetulan, penerbitnya tak bisa langsung mencetak karena masih ada buku-buku lain yang harus diterbitkan. Akhirnya buku kumpulan (cukup) lengkap surat Kartini baru terbit tahun 1979.

"Entah bagaimana kok kebetulan sekali, tahun itu 100 tahun kelahiran Kartini diperingati dengan besar-besaran,” katanya.

Sebagai wanita guru, sejak muda Sulastin menyukai kumpulan surat-surat Kartini yang telah diterbitkan dalam judul Door Duisternis Tot Licht. Tetapi baru ketika ia berkesempatan pergi sendiri ke negeri Belanda dalam rangka tugas belajar, dia menyadari kekurangan-kekurangan buku itu.

Ternyata dari setiap edisi yang telah mencapai cetak-ulang sampai lima kali, sering ada tambahan baru karena terkumpul surat-surat lain. Cara menambahkannya tidak sistematis, sebab surat-surat yang baru dikumpulkan, langsung begitu saja ditambahkan di bagian belakang. Tidak pernah disusun sesuai urutan penulisan surat termaksud.

Salah seorang pembimbingnya ketika studi bahasa dan sastra Belanda, menanyakan mengapa Sulastin tidak berusaha mengindonesiakan surat-surat Kartini? Pembimbing tersebut, Drs, Rob. Nieuwenhuys, menyadarkan bahwa yang justru paling berkepentingan dengan segala pikiran dan ide-ide Kartini adalah masyarakat Indonesia.

Sayangnya, tidak semua buah pikiran tadi mampu dibaca masyarakat karena masih memakai bahasa Belanda.

Kalaupun ada terjemahannya dalam bahasa kita, kurang memuaskan. Di samping mempergunakan bahasa gaya lama, terjemahan tersebut tidak utuh karena hanya beberapa bagian dari isi setiap surat.

Sulastin berpendapat, dalam menerjemahkan sebuah surat, harus keseluruhan surat termaksud utuh disalin. Mengambil sepotong-sepotong bagian yang dianggap penting, tak akan mampu menghayati pikiran penulis surat.

Meskipun keseluruhan surat menyertakan pula hal-hal yang biasa, justru di sanalah keutuhan pengertian bakal bisa didapatkan.

Dikerjakan di dalam negeri

Di muka telah disebutkan, Sulastin mengerjakan pengindonesiaan surat-surat Kartini selama satu tahun. Mungkin juga menarik, mengapa orang Indonesia justru menerjemahkan surat orang Indonesia lain ke dalam bahasa Indonesia.

Buku utama yang dipakai Sulastin adalah edisi paling akhir Door Duisternis Tot Licht. Tentu saja, ini dilengkapi dengan membaca pula segala buku yang pernah terbit tentang Kartini, termasuk perjalanan ke kota-kota tempat Kartini pernah tinggal.

"Judulnya sudah mengisyaratkan tentang surat-surat, isinya memang hanya kumpulan surat-surat. Bagaimanapun pula, pembaca harus mampu memahami pikiran-pikiran Kartini tanpa dibebani embel-embel lain!” tuturnya.

Sulastin bertugas-belajar di negeri Belanda khusus untuk mempelajari bahasa, sesuai jabatannya selaku Koordinator Pengajaran Bahasa Belanda di Universitas Gadjah Mada. Karena itu, Sulastin tidak mungkin "mencuri" waktu di antara kesibukannya di sana untuk tugas-tugas lain.

Jadi seluruh kesibukan menerjemahkan surat Kartini dilakukannya di dalam negeri, walaupun korespondensi dan bantuan dari rekan-rekannya di berbagai tempat terus dilakukan.

Sumbangan Kartini

Terus terang Sulastin tidak puas dengan pengertian kebanyakan masyarakat kita tentang kehidupan Kartini. Masyarakat selalu melihat Kartini dari asal-usulnya dan keberhasilannya membebaskan anak-anak perempuan dari kungkungan adat, sehingga mereka mampu mencapai kemajuan serta ikut menuntut ilmu sebagaimana rekan-rekan prianya.

"Itu kurang tepat. Kartini tidak hanya memperjuangkan emansipasi wanita! Ada garis penghubung yang selalu dilupakan orang antara emansipasi wanita ke arah emansipasi bangsa!" kata Sulastin dengan bersemangat.

Menurut anggapan Kartini, wanita adalah pendidik pertama manusia, pendidik utama anak-anak. Nantinya mereka bakal membentuk keluarga, dasar utama bangunan masyarakat dan bangsa.

Kartini menekankan: di pangkuan ibu anak pertama kali belajar merasa dan berpikir. Anak itulah yang nantinya turut memberi corak bangsanya. Jadi Kartini menunjukkan, kebangkitan wanita senantiasa dalam hubungan kebangkitan bangsa.

Sulastin menolak "tuduhan" lama, apa yang selalu diperjuangkan Kartini melulu untuk ruang lingkup masyarakat Jawa. "Lho, bagaimana bisa demikian?" protesnya.

Sebagai bukti dia menyebutkan, Kartini tak membatasi diri dengan masyarakat sekitarnya, sebab sering ungkapan yang dipakainya adalah mengenai (wanita) Hindia-Belanda. Ini pertanda bahwa permasalahan yang diajukan Kartini, jauh melewati lingkup sekelilingnya.

Surat-surat yang ditulis dan kemudian disebarkan kepada teman-teman dekatnya tidak terbatas dengan keinginan membebaskan kaum wanita. Kartini tidak pernah lupa mengetengahkan berbagai kepincangan, ketidakadilan dan masalah-masalah yang menghimpit masyarakat umum.

Jauh sebelum banyak di antara kita tersentuh pikiran untuk mendirikan tempat perawatan kesehatan menyebar di pedesaan, ia sudah memikirkannya, hanya dengan melihat kenyataan seorang gadis desa tewas kehabisan darah karena kecelakaan dan sulit diangkut ke rumah sakit.

Kartini mencetuskan pikiran, alangkah baiknya jika tempat perawatan kesehatan tak hanya memusat di rumah sakit besar dan jauh di kota-kota. Mengapa tidak membangun sebuah tempat perawatan kesehatan sederhana di desa-desa?

Majunya pikiran Kartini tercermin pula dari keinginan memberikan pendidikan kesejahteraan pada wanita, meningkatkan usaha kerajinan setempat, melepaskan diri dari ketergantungan suami serta berbagai macam buah pikiran lain.

Menurut Sulastin, sebagai wanita sudah tentu Kartini pertama-tama ingin mengangkat derajat kaumnya agar sepadan dengan rekan-rekan pria mereka. Situasi masa itu, peluang wanita dalam mencapai kesejajaran dengan rekan prianya kecil. Inilah memang yang pertama-tama didobrak Kartini.

Tetapi setelah itu, sebagaimana tercermin dalam nota suratnya kepada pemerintah kolonial "Geef den Javaan Opvoeding", Kartini terbukti menginginkan kemajuan masyarakat. Bahkan bukan hanya untuk masyarakat Jawa, melainkan masyarakat Hindia-Belanda (Indonesia).

Contoh lain: pujian yang dengan tulus dikemukakan Kartini terhadap terbitnya majalah bergambar Bintang Hindia. Majalah berbahasa Melayu dan Belanda tersebut diterbitkan di negeri Belanda oleh Ikatan Pemuda Angkatan Baru, para pemuda yang sedang belajar di berbagai perguruan tinggi di sana.

Kemampuan berdialog

Secara khusus, Sulastin mencatat keberhasilan Kartini terlebih-lebih karena kemampuannya mengadakan dialog dengan teman-temannya. Dialog tadi diwujudkan dalam surat-surat yang banyak dikirimkan kepada rekan-rekannya.

"Senjata utamanya pena. Dia pernah menulis harta benda apa pun juga boleh dirampas dari tangannya, asal jangan pena miliknya! Kartini bahkan pernah menulis kesedihan yang nyaris tak tertanggung lagi, tatkala mengetahui pena yang disayanginya patah!"

Bersenjatakan pena, ditambah keterampilan menguraikan masalah dan keberanian melontarkan buah pikiran kepada teman-temannya yang tinggal jauh, bagaimanapun juga, Kartini wajib dikenang sebagai orang yang memiliki kemampuan melebihi kaumnya. Bahkan, mungkin saja, sebuah prestasi yang sulit dicapai wanita lain sampai hari ini.

Latar belakangnya sebagai putri seorang bupati serta keleluasaan yang ditunjukkan oleh ayah maupun suaminya, tak menyusutkan penghargaan tersebut. Sebab berapa banyak wanita lain memiliki kesempatan serupa, ternyata mereka tak menghasilkan apa-apa.

Dr. Sulastin adalah perempuan kelahiran Kediri, Jawa Timur, pada 23 November 1924. Pada 14 Juli 1978, dia mempertahankan disertasinya mengenai "Hikayat Hang Tuah" di kampus Bulaksumur Yogya, dengan promotor Prof. Dr. A. Teeuw dan ko-promotor Prof. Dra. Siti Baroroh Baried.

Atas keberhasilannya itu, Sulastin mendapatkan gelar Doktor dalam Ilmu Sastra dengan predikat: sangat memuaskan.

Dia menyelesaikan studi kesarjanaan di Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM (1959) pada jurusan Sastra Nusantara. Tidak mengherankan mengapa dia memilih penulisan disertasi tentang Hang Tuah. Keterampilannya berbahasa Belanda sehingga mampu mengindonesiakan surat-surat Kartini, diperolehnya antara lain tahun 1941-1942, ketika ia menjadi siswa Sekolah Guru Belanda di kota Bandung.

Ketika ditanya, mengapa ia malahan tidak berusaha menulis disertasi tentang Kartini? Dengan nada tenang Dr. Sulastin menjawab: "Sastra Nusantara adalah bidang studi saya, surat-surat Kartini adalah kegemaran saya! Tentu saja untuk disertasi saya menulis Hikayat Hang Tuah, untuk buku saya menerjemahkan surat-surat Kartini!"

Dia menjadi dosen sejak tahun 1961. Jabatan ini akan terus dipegangnya. Mengapa? "Sejak muda saya sudah guru, mengapa harus melepas profesi itu?"

Dia menempuh hidup dengan dampingan suaminya, Drs. Sutrisno Puspodikoro. Tekad Dr. Sulastin terus memilih tugas sebagai guru sewajibnya dihargai. Apalagi pak Sutrisno adalah Sekretaris Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN), sehingga kesepadanan sebagaimana diinginkan Kartini, tetap seimbang dalam keluarga mereka. (Julius Pour).

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.