Harga LPG Nonsubsidi Naik, Hiswana Migas DIY Sebut Ada Indikasi Pergeseran ke Gas 3 Kg
Joko Widiyarso April 20, 2026 08:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Ketua Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) DIY, Aryanto Sukoco menyebut sudah ada indikasi pergeseran konsumsi LPG 5,5 Kg ke gas 3 kg atau gas melon.

Aryanto mengatakan kenaikan LPG di kisaran 19 persen ini mendorong sebagian konsumen melakukan penyesuaian konsumsi.

Menurut dia, pola konsumsi saat ini cenderung lebih selektif dan tersegmentasi, mirip dengan yang terjadi pada BBM nonsubsidi.

“Kami melihat dampaknya sudah mulai terasa, terutama dari sisi sensitivitas konsumen terhadap harga, terutama dari sisi sensitivitas konsumen terhadap harga. Secara alami mendorong sebagian konsumen melakukan penyesuaian konsumsi. Secara tren, ada indikasi awal sebagian konsumen mempertimbangkan alternatif yang lebih ekonomis (LPG 3 Kg),” Senin (20/4/2026).

Ia menyebut harga LPG nonsubsidi memang mengikuti mekanisme pasar. Harga energi global serta nilai tukar rupiah memengaruhi kenaikan ini.

Tentunya kenaikan ini tidak terlepas dari dinamika harga minyak dunia dan gangguan pasokan global.

Kendati demikian, tidak semua konsumen LPG nonsubsidi beralih ke gas melon. Sebab LPG nonsubsidi memang diperuntukkan bagi masyarakat mampu.

“Namun perlu ditegaskan, LPG 12 kg dan 5,5 kg memang diperuntukkan bagi segmen masyarakat mampu, sehingga tidak seluruhnya berpindah,” sambungnya.

Pihaknya pun memastikan kelancaran distribusi LPG, baik dari Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE) ke agen dan pangkalan.

Di sisi lain, pihaknya juga melakukan pengawasan terhadap konsumsi LPG gas melon. Tujuannya agar penyaluran LPG subsidi tepat sasaran.

“Kami mengantisipasi potensi pergeseran konsumsi agar tidak mengganggu ketersediaan LPG subsidi. Melakukan monitoring konsumsi secara harian agar distribusi tepat sasaran (LPG 3 Kg),” ujarnya.

“Untuk LPG subsidi 3 kg, pemerintah tetap menjaga agar tidak mengalami kenaikan dan tetap diperuntukkan bagi masyarakat yang berhak. Ini juga menjadi bagian dari upaya mendorong penggunaan energi yang lebih tepat sasaran, agar subsidi benar-benar dinikmati oleh kelompok yang membutuhkan,” lanjutnya.

Diinfo minggu lalu

Terpisah, Pemilik Pangkalan di Sleman, Andreas menambahkan pihaknya sudah menerima informasi kenaikan LPG nonsubsidi sejak pekan lalu.

Setelah mengalami kenaikan, ia menjual LPG 5,5 Kg dengan Rp 107.000, sementara LPG 12 Kg sebesar Rp 228.000.

Meski ada kenaikan harga LPG nonsubsidi, namun belum ada pergeseran konsumsi ke LPG 3 Kg.

“Sudah ada informasi kenaikan LPG nonsubsidi dari distributor, sejak minggu lalu. Tapi belum keliatan ada pergeseran, mungkin karena mayoritas pakai gas melon, permintaan gas melon masih stabil,” imbuhnya.

Susul harga BBM nonsubsidi

Setelah menaikkan harga BBM nonsubsidi, Pertamina menaikkan harga LPG nonsubsidi. Kenaikan LPG nonsubsidi ini dikeluhkan oleh warga Sleman.

Seorang pengguna menyayangkan kenaikan LPG 5,5 Kg. Warga Sleman DI Yogyakarta, Aji, mengatakan sebelumnya ia menggunakan LPG 3 Kg. Ia kemudian beralih ke LPG nonsubsidi karena kesulitan mencari LPG 3 Kg.

“Dulu pakai gas melon, karena sempat langka dan susah mencari, terus tukar tambah dengan gas 5,5 Kg,” katanya, Senin (20/4/2026).

Ia mengaku belum melakukan pembelian 5,5 Kg lagi. Terakhir ia membeli dengan harga Rp 100.000 pada awal April lalu.

Kendati demikian, ia belum akan beralih ke gas melon. Sebab ia masih trauma karena kesulitan mencari gas melon di wilayahnya.

Keluhan serupa juga disampaikan oleh Fika. Selama ini, ia menggunakan LPG 3 Kg dan 5,5 Kg secara bergantian. 

“Kalau misal di warung ada yang jual gas melon, ya beli yang melon. Kalau tidak ada ya beli yang 5,5 Kg. Karena memang untuk mencari gas melon itu kan susah-susah gampang,” terangnya.

Kenaikan LPG 5,5 Kg itu pun dirasa memberatkan. Jika sebelumnya ia membeli dengan harga Rp 100.000, kini warga Sleman itu harus membayar Rp 115.000.

Ia pun berencana beralih ke LPG 3 Kg untuk menekan pengeluaran.

“Kalau pakai yang 5,5 Kg itu kan nggak terlalu sering beli, bisa untuk sebulan atau lebih. Tapi kalau yang 3 Kg itu nggak nyampe sebulan udah beli lagi. Tapi kalau harganya naik ya mending pakai yang 3 Kg aja, lebih murah,” imbuhnya. 

Susul harga BBM nonsubsidi

Sebelumnya, Pemerintah menaikkan harga liquified petroleum gas (LPG) nonsubsidi menyusul kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi. 

Sebagai informasi, kenaikan harga elpiji ukuran 5,5 kg dan 12 kg ini juga berlaku per 18 April 2026. 

Dinukil dari laman Pertamina Patraniaga, harga elpiji tabung 5,5 kg atau warna pink di kisaran Rp100.000-Rp134.000 per tabung. 

Namun, harga elpiji nonsubsidi tersebut berbeda di setiap wilayah atau provinsi. 

Di Jawa, harga elpiji tabung 5,5 kg di angka Rp107.000 per tabung. 

Sementara, harga elpiji tabung 12 kg atau warna biru mencapai Rp208.000-285.000 per tabung. 

Harga elpiji tabung 12 kg di Jawa di angka Rp228.000 per tabung. 

Harga tersebut bisa didapat konsumen dengan pembelian di agen. 

Apa itu LPG 5,5 kg?

LPG 5,5 kg atau Bright Gas 5,5 kg adalah LPG non-subsidi Pertamina yang dirancang untuk rumah tangga kecil, memiliki fitur Double Spindle Valve System (DSVS) aman dari kebocoran. 

Berat total sekitar 12,6 kg, lebih ringan dari galon air, sehingga mudah diangkat. Harga isi ulang per 20 April 2026 berkisar Rp107.000-Rp120.000, tergantung wilayah dan agen. 

Tentang Bright Gas 5,5 kg (April 2026):

Fitur Keamanan: Dilengkapi fitur DSVS (Double Spindle Valve System) yang mencegah kebocoran gas.

Berat: Berat isi 5,5 kg, berat kosong 7,1 kg, total berat 12,6 kg.

Warna: Umumnya berwarna merah muda (pink).

Harga Tabung dan Isi: Berkisar antara Rp365.000 - Rp445.000 (tergantung toko/agen). 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.