POSBELITUNG.CO - Kondisi Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei terus dirumorkan sedang dalam kondisi kritis.
Namun, Iran membantahnya.
Iran menyebut Majtaba Khamenei hanya mengalami cedera ringan.
Cedera itu didapat pasca serangan udara yang menargetkan kompleks kediamannya.
Dalam keterangan resmi, otoritas Iran menegaskan bahwa cedera yang dialami hanya bersifat ringan.
Pejabat Iran, Azim Ebrahimpour, menyatakan bahwa Mojtaba berada di lokasi saat serangan terjadi.
Ia dilaporkan mengalami luka di bagian kaki akibat gelombang kejut dari ledakan rudal.
Meski demikian, kondisi tersebut disebut tidak serius dan tidak mengganggu kemampuannya dalam menjalankan tugas sebagai pemimpin.
Pemerintah Iran juga membantah berbagai laporan yang menyebut kondisi Khamenei lebih parah.
Ebrahimpour menilai informasi tersebut tidak akurat dan berpotensi memicu spekulasi yang dapat mengganggu stabilitas internal negara.
Insiden ini terjadi setelah serangan udara yang dikaitkan dengan Amerika Serikat dan Israel terhadap wilayah Teheran pada akhir Februari lalu.
Dalam rangkaian peristiwa tersebut, Pemimpin Tertinggi Iran sebelumnya, Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan tewas.
Tidak lama setelah itu, tepatnya pada 9 Maret Mojtaba Khamenei diangkat sebagai penggantinya.
Spekulasi Kondisi Pemimpin Menguat
Namun sejak pengangkatan itu Mojtaba diketahui hanya menyampaikan dua pernyataan tertulis tanpa disertai rekaman suara atau penampilan visual. Situasi ini dinilai tidak biasa di tengah kemajuan teknologi komunikasi saat ini.
Sejumlah pihak bahkan mempertanyakan validitas kepemimpinannya. Beberapa spekulasi berkembang di ruang publik, termasuk keraguan apakah ia benar-benar memegang kendali pemerintahan.
Di media sosial, muncul berbagai narasi liar yang memperkeruh situasi. Bahkan ada klaim menyebut bahwa Khamenei mengalami cedera serius akibat serangan udara, termasuk dugaan kehilangan salah satu kaki.
Beberapa laporan lain yang dikutip Impressive Times menyebut kemungkinan kondisi Mojtaba yang berada dalam kondisi koma atau tidak mampu menjalankan fungsi kepemimpinan secara aktif.
Selain itu, muncul pula narasi yang menyebut Khamenei mengalami luka berat hingga harus dirawat secara intensif dan terisolasi, sehingga tidak dapat berkomunikasi dengan pejabat tinggi negara.
Dugaan ini diperkuat oleh laporan yang menyebut tidak adanya respons langsung dari Khamenei dalam pengambilan keputusan penting.
Meski demikian, pemerintah Iran berupaya meredam spekulasi tersebut dengan menampilkan citra Mojtaba Khamenei melalui baliho besar di berbagai sudut Teheran.
Langkah ini dinilai sebagai upaya untuk menegaskan keberadaan dan legitimasi kepemimpinan di tengah situasi yang masih belum sepenuhnya stabil.
Hingga kini, belum ada konfirmasi independen yang dapat memastikan secara pasti kondisi terbaru Mojtaba Khamenei.
Situasi ini membuat perhatian internasional tetap tertuju pada perkembangan politik internal Iran di tengah ketegangan kawasan yang masih berlangsung.
Serangan AS–Israel di Iran Tewaskan Ribuan
Lebih lanjut, selain memicu spekulasi terkait kondisi kepemimpinan Iran, serangan ini juga menimbulkan dampak luas terhadap masyarakat sipil.
Serangan militer yang dikaitkan dengan Amerika Serikat dan Israel di Iran dilaporkan menewaskan ribuan warga dan memperparah krisis kemanusiaan di negara tersebut
Berdasarkan data resmi otoritas Iran, sebanyak 3.375 warga dilaporkan tewas selama periode konflik.
Kepala Organisasi Kedokteran Forensik Iran, Abbas Masjedi, menyatakan bahwa mayoritas korban merupakan warga sipil, termasuk anak-anak dan lansia.
Ia juga mengungkapkan bahwa sekitar 40 persen jenazah sempat tidak dapat diidentifikasi akibat parahnya dampak ledakan bom dan rudal.
Salah satu insiden yang paling disorot adalah serangan terhadap sebuah sekolah dasar di wilayah selatan Iran yang dilaporkan menewaskan lebih dari 160 anak.
Peristiwa ini memperkuat kekhawatiran terhadap dampak konflik yang tidak hanya bersifat militer, tetapi juga menyasar kehidupan sipil secara luas.
Tingginya jumlah korban sipil, ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel, serta ketidakpastian politik internal menjadi faktor yang memperbesar risiko instabilitas kawasan.
Para pengamat menilai, jika situasi ini tidak segera mereda, konflik berpotensi berkembang menjadi krisis yang lebih luas dengan dampak tidak hanya pada keamanan regional, tetapi juga terhadap stabilitas global, terutama di sektor energi dan jalur perdagangan internasional.
(Tribunnews.com)