TRIBUNNEWSMAKER.COM - Pernyataan politisi Ade Armando kembali menjadi sorotan publik setelah dirinya menanggapi tuduhan serius yang dialamatkan kepadanya terkait dugaan fitnah terhadap Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla (JK).
Isu tersebut memicu perdebatan di ruang publik dan media sosial, dengan berbagai pihak ikut memberikan komentar dan penilaian.
Ade Armando menegaskan bahwa dirinya tidak memiliki niat untuk menyebarkan informasi yang bersifat menyesatkan atau menyerang pihak tertentu.
Ia juga menyebut bahwa dirinya justru merasa menjadi sasaran kemarahan dari kelompok tertentu yang tidak sepakat dengan pandangannya.
Dalam keterangannya, Ade mengaku mendapatkan tekanan dan bahkan ancaman akibat kontroversi yang berkembang.
Situasi ini membuatnya berada dalam posisi yang cukup sulit di tengah meningkatnya ketegangan opini publik.
Meski demikian, ia tetap berusaha menjelaskan duduk perkara agar tidak terjadi kesalahpahaman yang lebih luas.
Kasus ini pun kembali memantik perhatian terhadap kebebasan berpendapat dan batas-batasnya di ruang digital.
Baca juga: Sosok Nus Kei, Ketua Golkar Maluku Tenggara Tewas Ditikam OTK, Pernah Berkonflik dengan John Kei
Seperti diketahui, politisi Ade Armando dan Abu Janda dilaporkan ke Polda Metro Jaya terkait dugaan penghasutan dan provokasi buntut potongan ceramah Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla (JK) saat berceramah di Masjid Universitas Gadjah Mada (UGM) beberapa waktu lalu.
Atas hal itu Ade Armando buka suara.
Selain dipolisikan, Ade Armando mengungkap kini menerima rentetan teror dan intimidasi setelah mengkritik potongan ceramah Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla (JK), di Masjid UGM.
Laporan polisi yang dilayangkan Aliansi Profesi Advokat Maluku (APAM) dengan nomor LP/B/2767/IV/2026/SPKT/POLDA METRO JAYA terkait dugaan penghasutan, justru dibalas Ade dengan pernyataan menohok.
Lewat kanal Cokro TV, ia membeberkan posisinya yang kini berada di ujung tanduk serangan opini publik.
Ade mengaku dirinya kini menjadi target kemarahan kelompok masyarakat, khususnya dari Sulawesi Selatan.
"Saya sekarang ini kembali jadi sasaran tembak. Baru saja saya dikirimi sebuah flyer yang berisi peringatan dari kelompok Bugis Makassar," ungkap Ade.
Ia merinci bahwa selebaran tersebut memajang fotonya dengan teks mencolok: 'Wanted Bugis Makassar'.
Pesan di dalamnya pun tak kalah tajam, memperingatkan bahwa masyarakat Bugis Makassar adalah pelaut ulung yang tak gentar ombak.
Tak hanya itu, Ade mengaku dihujani makian di media sosial hingga pesan WhatsApp bernada ancaman.
"Dia bilang saya 'keturunan PKI', terlibat perang di Ambon dan Papua, dan dia bilang kalau saya ke Jawa, dia akan cari saya," imbuhnya.
Meski demikian, Ade mengaku tidak gentar.
“Saya rasa tidak (perlu khawatir), karena saya sudah biasa hidup di bawah tekanan… selama yang saya lakukan benar, Tuhan akan selalu melindungi,” ujarnya.
Menanggapi tuduhan bahwa dirinya memfitnah JK dengan potongan video clickbait, Ade membela diri secara detail.
Menurutnya, podcast berjudul "Kok Yusuf Kalla Bilang Orang Kristen Diperintahkan Bunuh Orang Islam" adalah upaya koreksi, bukan provokasi.
"Judulnya memang terkesan sensasional, tapi terus terang kami tidak mengada-ada. Kami membahas ceramah Pak JK di UGM. Pak JK mengatakan dalam Islam membunuh atau dibunuh orang Kristen akan membawa mati syahid, begitu juga sebaliknya dalam Kristen. Pak JK menegaskan ajaran itu sama," urai Ade.
Ia menekankan bahwa tim Cokro TV tidak memanipulasi kalimat asli.
"Itu bukan kalimat kami. Saya dan kawan-kawan tidak mengedit-editnya. Kami hanya prihatin mengapa Pak JK mengatakan begitu, apalagi tentang agama orang lain. Kami menganggap pernyataan itu berbahaya karena bisa menyesatkan masyarakat," tegasnya.
Ade mencium adanya upaya sistematis untuk menghancurkan nama baiknya dengan cara mengadu domba dirinya dengan umat Islam dan tokoh besar seperti JK.
Ia menolak narasi bahwa dirinya bekerja sama dengan pihak PSI untuk menjebloskan JK ke penjara.
"Cerita itu diorkestrasikan dengan sangat rapi oleh pembenci saya. Akibatnya wajar kalau banyak kelompok masyarakat yang jadinya membenci saya," katanya.
Ade menyayangkan sikap kubu JK yang dianggapnya "dikipas-kipasi" sehingga melahirkan reaksi keras, termasuk tantangan JK agar Ade berani berangkat ke Ambon.
Di akhir pernyataannya, Ade Armando menegaskan bahwa ia tidak khawatir karena merasa berdiri di jalan yang benar.
Ia mengajak publik kembali ke "jalan ninja"-nya: akal sehat.
"Intinya apakah saya bersalah atau tidak, saya dengan senang hati menerimanya. Apapun pendapat Anda, yuk gunakan akal sehat. Karena hanya jika kita gunakan akal sehat, Indonesia akan selamat," katanya
(TribunNewsmaker.com/WartaKotalive.com)