Manado, TRIBUNMANADO.CO.ID - Memasuki Bulan April 2026, harga tarif angkutan udara meningkat signifikan.
Kenaikan harga tiket baik rute domestik maupun internasional ini diakibatkan kenaikan bahan bakar Avtur.
Pemicunya, gejolak geopolitik global, yakni perang di Timur Tengah yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat - Israel.
General Manager InJourney Bandara Internasional Sam Ratulangi (Samrat) Manado, Sulawesi Utara (Sulut) Radityo Ari Purwoko mengatakan, kenaikan harga tiket di kisaran 9-13 persen.
"Kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya biaya operasional maskapai," ujar Radityo, Selasa 21 April 2026.
Meskipun demikian, pihaknya tetap optimis karena pemerintah terus berupaya menjaga agar harga tiket tetap terjangkau.
"Kami optimistis kondisi tersebut diproyeksikan tidak memberikan dampak signifikan terhadap minat perjalanan penumpang melalui Bandara Sam Ratulangi," katanya lagi.
Ke depan, diharapkan jumlah wisatawan, baik dari dalam maupun luar negeri yang datang ke Sulawesi Utara meningkat seirring dengan daya tarik keindahan alam dan potensi pariwisata yang ada.
Kenaikan harga tiket akan berdampak langsung ke berbagai sektor ekonomi.
Ekonom Universitas Negeri Manado (Unima), Dr Robert Winerungan mengatakan, pariwisata menjadi sektor yang langsung terdampak akibat kenaikan harga tiket.
"Daya beli wisatawan domestik maupun mancanegara akan turun. Tingkat kunjungan akan terkoreksi," kata mantan Sekretaris ISEI Cabang Manado-Sulut ini kepada Tribunmanado.co.id, Rabu 15 April 2026.
Lanjut Winerungan, menurunnya kunjungan wisman akan berimbas ke objek wisata, restoran, hotel dan industri ikutan lainnya.
"Akomodasi dan makan minum khususnya hotel dan penginapan lainnya pasti terdampak. Hunian hotel turun pendapatan daerah turun serta bisa menimbulkan pengangguran," katanya.
Kemudian, kata dosen yang dikenal familiar ini, dampak lainnya adalah harga barang-barang impor naik.
"Baik barang antarpulau maupun antar negara yg kesemuanya akan berakibat inflasi karena biaya naik," ujarnya lagi.
Lebih jauh, ia bilang, akibat dari kenaikan harga tiket ini muaranya pada turunnya PDRB sektor pariwisata.
Dilansir dari berbagai sumber, harga tiket pesawat domestik di Indonesia per April 2026 naik tajam, tembus Rp1,5 juta hingga Rp 4 juta per orang.
Kenaikan ini dipicu lonjakan harga avtur hingga 70 persen lebih, krisis geopolitik, dan penyesuaian fuel surcharge sebesar 38 persen.
Tak heran, harga tiket pesawat terbang semakin mahal.
Asosiasi Perusahaan Penerbangan Nasional Indonesia (INACA) menyebut kenaikan harga avtur tidak terhindarkan karena mengikuti tren global akibat krisis geopolitik.
"Seperti sudah kami perkirakan sebelumnya, harga avtur akan naik mengikuti harga global karena imbas konflik di Timur Tengah," ujar Ketua Umum INACA Denon Prawiraatmadja, beberapa waktu lalu.
Sementara itu, harga avtur internasional juga meningkat tajam sebesar 80,32 persen, dari 0,742 dollar AS per liter menjadi 1,338 dollar AS per liter.
Jika dibandingkan dengan tahun 2019, lonjakan harga avtur bahkan mencapai 295 persen dari posisi Rp 7.970 per liter.
Kinerja operasional Bandara Internasional Sam Ratulangi pada triwulan I (Januari–Maret) 2026 menunjukkan pertumbuhan positif dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Berdasarkan data operasional, jumlah pergerakan pesawat tercatat sebanyak 5.285 penerbangan, meningkat 23 persen dibandingkan tahun 2025 yaitu sebesar 4.286.
Meskipun masih terkoreksi sekitar 1 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2019 sebesar 5.331.
Sementara itu, jumlah penumpang hingga Maret 2026 mencapai 513.043 orang, atau tumbuh 20 persen dibandingkan tahun 2025 yaitu 428.218 orang.
Pergerakan penumpang triwulan I 2026 masih berada pada kisaran minus 1 persen dibandingkan tahun 2019 yaitu sebesar 517.558 orang.
Sedangkan angkutan kargo, tercatat sebesar 4.974.306 kilogram, meningkat 9 persen dibandingkan tahun 2025 sebesar 4.554.240 kg.
Angka ini melonjak signifikan hingga 70 persen dibandingkan tahun 2019.
Peningkatan tajam ini efek perubahan pola distribusi logistik sejak pandemi Covid-19 sebesar 2.924.052 kg, di mana aktivitas perdagangan berbasis online mengalami pertumbuhan pesat.