SRIPOKU.COM - Tangkap layar citra satelit memperlihatkan visual cairan yang diduga minyak memenuhi Teluk Persia.
Mengutip CNN, tumpahan minyak ini terjadi karena hancurnya fasilitas minyak dan kapal di wilayah tersebut.
Salah satu gambar yang diambil pada 7 April memperlihatkan tumpahan minyak yang membentang lebih dari lima mil di Selat Hormuz dekat Pulau Qeshm di Iran.
Sebuah kapal Iran, Shahid Bagheri, mengalami kebocoran minyak di area yang sama setelah pasukan Amerika Serikat menyerang kapal tersebut pada 28 Februari, kata juru bicara Greenpeace Jerman, Nina Noelle, kepada CNN.
Setidaknya lima lokasi di Lavan mengalami kerusakan, dengan tumpahan minyak terjadi di sekitar pulau dan minyak bocor ke laut, katanya kepada CNN.
Baca juga: Inggris dan Prancis Main Belakang dari AS Temui Puluhan Negara, Perang Iran Tewaskan Ratusan Anak
Tumpahan minyak tersebut kini juga mencapai Pulau Shidvar, yang merupakan situs yang dilindungi.
Pulau itu tidak berpenghuni, tetapi memiliki berbagai spesies yang dilindungi di sana.
Pulau Shidvar adalah pulau karang di Teluk Persia, sekitar satu mil di sebelah timur Pulau Lavan, yang kaya akan satwa liar, termasuk penyu dan burung laut.
Sementara itu, perang Iran melawan Israel dan Amerika Serikat sudah menciptakan krisis energi terbesar sepanjang sejarah.
Badan Energi Internasional atau IEA pada Rabu (21/4/2026) WIB mengatakan, krisis energi ini juga merupakan gabungan dari dampak perang Rusia melawan Ukraina.
"Krisisnya sudah sangat besar, jika Anda menggabungkan dampak krisis minyak bumi dan krisis gas dengan Rusia," kata Fatih Birol selaku Kepala IEA, mengtuip rte.ie.
Perang di Timur Tengah telah menghambat lalu lintas maritim di Selat Hormuz, yang merupakan jalur bagi seperlima aliran minyak dan gas alam cair global.
Hal ini juga terjadi di atas dampak perang Rusia dengan Ukraina, yang sebelumnya telah memutus pasokan gas Rusia ke Eropa.