TRIBUNNEWS.COM – Nasib tragis dialami Leicester City.
Klub yang pernah menjuarai Premier League itu kini resmi terdegradasi ke kasta ketiga, EFL League One, setelah hasil buruk di EFL Championship musim 2025/2026.
Kepastian ini menjadi salah satu kisah kejatuhan paling dramatis dalam sepak bola Inggris modern.
Degradasi Leicester dipastikan setelah mereka gagal meraih kemenangan dalam laga krusial.
Hasil tersebut membuat poin mereka tak lagi mampu mengejar tim di atas zona aman.
Laporan Daily Star menyebutkan bahwa Leicester harus menerima kenyataan pahit turun kasta untuk kedua kalinya secara beruntun—dari Premier League ke Championship, lalu kini ke League One.
Satu dekade lalu, Leicester menciptakan keajaiban dengan menjuarai Premier League musim 2015/2016.
Kini, mereka justru terlempar ke divisi tiga.
Media Inggris seperti The Guardian menyebut kejatuhan Leicester sebagai salah satu “fall from grace” paling ekstrem dalam sejarah sepak bola Inggris.
Dalam waktu kurang dari 10 tahun, mereka berubah dari klub elite menjadi tim yang harus berjuang di kasta bawah.
Musim 2025/2026 menjadi mimpi buruk bagi Leicester. Inkonsistensi performa membuat mereka terus terjebak di papan bawah.
Baca juga: Chelsea Kian Tenggelam Dibantai Brighton 3-0, Mimpi Liga Champions Kian Tamat
Menurut Daily Star, Leicester gagal memanfaatkan momen penting untuk mengumpulkan poin, terutama di paruh kedua musim.
Sementara itu, analisis TalkSport menyoroti lemahnya lini pertahanan serta minimnya produktivitas gol sebagai faktor utama keterpurukan tim.
Krisis Leicester tidak hanya terjadi di lapangan. Klub juga menghadapi tekanan finansial yang signifikan.
Laporan Reuters menyebut Leicester sempat mendapat pengurangan poin akibat pelanggaran aturan keuangan, yang turut mempercepat degradasi mereka.
Beban gaji tinggi dan kerugian operasional membuat situasi semakin sulit bagi klub untuk bertahan.
Turun ke League One dipastikan berdampak besar pada kondisi klub.
Menurut Sky Sports, pendapatan Leicester berpotensi turun drastis, yang bisa memicu penjualan pemain dan perombakan besar-besaran skuad.
Situasi ini juga membuka kemungkinan eksodus pemain kunci yang tidak ingin bermain di kasta ketiga.