​Harga Gas Non Subsidi di Beltim Melejit, Pangkalan di Manggar Sebut Warga Mengeluh Tapi Tetap Beli
Hendra April 22, 2026 05:23 PM

POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Terletak tak jauh dari Taman Kota Manggar, Toko Kingkong berdiri di pinggir Jalan Gajah Mada, Desa Mekar Jaya, Kecamatan Manggar, Kabupaten Belitung Timur, pada Rabu (22/4/2026). 

Toko yang memiliki layout memanjang ke belakang ini menjadi satu di antara tempat warga untuk mendapatkan kebutuhan pokok, termasuk bahan bakar gas.

Deretan tabung gas berwarna biru dan merah muda ukuran 12 kg dan 5,5 kg terpajang. Disisi sebelahnya tersusun tumpukan gas melon 3 kg.

Sang pemilik toko yang biasa dipanggil Baba, nampak sibuk memantau stok. Namun, saat Posbelitung.co hendak menggali informasi lebih dalam, ia secara rendah hati mengarahkan kami kepada Nurul Qomariyah (23), sang kasir. 

Baba mengatakan Nurul adalah orang yang paling paham karena ia yang berada di garda terdepan, berhadapan langsung pada para pelanggan setiap hari.

Nurul menyambut kami di meja kasirnya. Gadis muda ini sigap melayani pembeli yang datang silih berganti di tengah obrolan kami. Di balik komputer kasir, ia mulai menceritakan bagaimana harga gas non subsidi berubah secara signifikan.

"Sekarang yang 12 kilo harganya sudah Rp245 ribu, Kak. Kalau yang 5,5 kilo naik jadi Rp125 ribu," ujar Nurul.

Kenaikan ini cukup drastis jika dibandingkan harga sebelumnya. Nurul mencatat, sebelum lonjakan ini terjadi harga gas 12 kg masih berada di angka Rp210 ribu, sementara gas 5,5 kg dibanderol Rp105 ribu. Artinya, ada kenaikan Rp20 ribu hingga Rp35 ribu per tabungnya.

"Kenaikan ini sudah berlangsung hampir seminggu ini. Harganya melonjak tinggi dari harga awal," ucapnya.

Sebagai pangkalan, Toko Kingkong menjaga ketersediaan stok agar warga tak kesulitan. Sejauh ini pun tidak ada pengurangan stok, dimana di Toko Kingkong sendiri tersedia sekitar 12 tabung untuk ukuran 12 kg dan empat tabung untuk ukuran 5,5 kg.

"Kalau isi pun kadang per hari, tergantung ada enggaknya kiriman dari agen. Hari ini kebetulan belum ada pengisian, mungkin masih nunggu jadwal," ungkap Nurul.

Selama sepekan kenaikan ini, Nurul sudah cukup banyak mendengar keluh kesah para pembeli. Mulai dari ibu rumah tangga hingga pelaku usaha, hampir semua kalangan melontarkan kalimat yang sama, "Kok harganya naiknya melonjak tinggi ya?".

Meski banyak keluhan, lucunya tetap saja membeli seolah tak punya pilihan lain. Nurul mengatakan alasan mereka tetap membeli gas tersebut demi memastikan kompor di rumah atau di tempat usaha mereka tetap menyala.

"Keluhan pasti ada, apalagi dari kalangan masyarakat menengah sampai atas. Mereka bilang harganya tinggi sekali. Tapi ya mau gimana lagi, tetap dibeli juga sama mereka," ujarnya.

Menariknya, di tengah kenaikan harga gas nonsubsidi, kondisi gas subsidi 3 kg di Toko Kingkong terpantau masih stabil. Tidak terlihat adanya kelangkaan yang seringkali memicu kepanikan warga.

Sejauh ini, stok gas 3 kg masih aman dan belum terlihat adanya antrean panjang yang mengular di depan toko.

Mendengar keluhan-keluhan pembeli, Nurul cukup memahami perasaan mereka. Ia merasa kasihan, apalagi ia tahu betul kondisi ekonomi sedang sulit dan banyak usaha yang sedang berjuang di tengah sepinya pelanggan.

"Harapannya sih semoga bisa turun lagi. Soalnya dua minggu terakhir ini kelihatannya barang-barang naik terus, enggak ada yang turun sama sekali," ucapnya.

Nurul membayangkan bagaimana beratnya perjuangan para pelaku usaha yang harus menanggung beban biaya bahan bakar yang terus merangkak naik.

"Kasihan sama masyarakat, terutama yang buka usaha tapi sekarang lagi sepi. Kalau harga gas naik terus, omzet mereka otomatis berkurang," tutupnya. (Posbelitung.co/Kautsar Fakhri Nugraha)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.