Menilik Dapur Tape Singkong di Desa Merah Mata Banyuasin, Sehari Produksi Satu Ton
Welly Hadinata April 22, 2026 06:27 PM

SRIPOKU.COM, BANYUASIN – Aroma khas fermentasi ragi menyambut setiap orang yang melintas di Lorong Sidomulyo, Desa Merah Mata, Kecamatan Banyuasin I, Sumsel.

Di kawasan ini, produksi tape singkong telah menjadi denyut ekonomi warga yang bertahan selama puluhan tahun.

Desa Merah Mata kini dikenal sebagai salah satu sentra utama pemasok tape singkong ke pasar-pasar tradisional di Palembang.

Sedikitnya terdapat sembilan perajin yang terus menjaga kualitas dan cita rasa produk warisan turun-temurun.

Sukarno (50), salah satu perajin, mengatakan keahlian membuat tape singkong merupakan tradisi keluarga yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Ia menyebut sebagian besar perajin merupakan keturunan perantau dari Semarang dan Pati.

“Kami lahir di Sumsel, tapi resep asli dari Jawa tetap kami pertahankan. Ini bukan sekadar usaha, tapi warisan,” ujarnya.

Dalam kondisi normal, total produksi dari sembilan perajin mencapai sekitar 1 ton per hari dan didistribusikan ke berbagai pasar, termasuk Pasar Perumnas Palembang.

Produksi meningkat signifikan saat bulan Ramadan, bahkan bisa mencapai 5 ton per hari.

Perajin lainnya, Wahyu Ningsih (45), mengungkapkan bahwa kapasitas produksinya naik dua kali lipat saat Ramadan.

“Biasanya 100 kilogram per hari, saat Ramadan bisa sampai 200 kilogram,” katanya.

Dari sisi ekonomi, usaha ini tergolong stabil. Dengan modal sekitar Rp400 ribu untuk 100 kilogram singkong, perajin dapat meraup keuntungan bersih Rp200 ribu hingga Rp250 ribu per hari di luar musim puncak.

Bahan baku singkong sebagian besar berasal dari kebun warga setempat dan pasokan tambahan dari Indralaya.

Kepala Desa Merah Mata, Seftian, menyebut Dusun Sidomulyo sebagai salah satu penggerak ekonomi kreatif di wilayahnya.

Selain tape singkong, warga juga mengembangkan usaha keripik singkong serta budidaya laos untuk pasar ekspor.

Untuk mendukung pengembangan usaha, pemerintah desa tengah menginisiasi pembentukan koperasi guna memperkuat akses permodalan bagi para perajin.

“Kami ingin potensi ini terus berkembang. Para perajin ini adalah aset desa,” ujarnya.

Keberadaan sentra tape singkong ini menjadi bukti bahwa usaha tradisional berbasis kearifan lokal mampu menjadi penopang ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.