TRIBUN-SULBAR.COM,PASANGKAYU - Pagi itu, di sebuah sudut Desa Ako, Kecamatan Pasangkayu, aktivitas di posyandu mulai menggeliat.
Timbangan bayi digantung, buku pencatatan dibuka, dan satu per satu ibu datang membawa anak mereka.
Di balik kesibukan itu, ada sosok yang tak banyak disorot, namun memegang peran penting dalam menjaga masa depan generasi, kader posyandu.
Baca juga: Kasat Intelkam Polres Mamasa AKP Ilyas Salurkan Bantuan untuk Kakak Beradik Viral di Tapalang Mamuju
Baca juga: Jempol MaMa di Majene Imigrasi Polman Layani 7 Pengurusan Paspor Baru & 6 Paspor Habis Masa Berlaku
Safitri, kader posyandu di Desa Ako, telah menjalani peran itu selama dua tahun terakhir.
Saat ditemui, Rabu (22/4/2026), ia bercerita tentang perjalanan yang tak selalu mudah, bahkan kerap menguras tenaga dan perasaan.
“Senang sebenarnya jadi kader, karena bisa lebih dekat dengan warga. Kita jadi tahu kondisi mereka, apa yang mereka butuhkan,” ujarnya.
Namun di balik rasa senang itu, tersimpan cerita-cerita yang tak jarang membuatnya harus menelan lelah sendirian.
Tantangan terberat bagi Safitri bukan soal waktu atau tenaga, melainkan bagaimana meyakinkan para ibu untuk datang ke posyandu.
Menurutnya, respon yang diterima beragam. Ada yang menyambut dengan antusias, namun tak sedikit pula yang enggan, bahkan menolak.
“Kadang sudah diingatkan berkali-kali, tapi tetap tidak datang. Itu yang paling berat,” katanya pelan.
Setiap bulan, ia dan kader lainnya melayani sekitar 70 ibu dengan bayi dan balita. Namun realitanya, hanya sekitar 40 orang yang rutin hadir.
Sisanya, Safitri harus mendatangi mereka satu per satu.
Di bawah terik matahari, ia menyusuri jalan desa, mengetuk pintu rumah warga, mengajak dengan sabar agar anak-anak mereka tetap dipantau tumbuh kembangnya.
“Kalau tidak didatangi, kita khawatir. Karena penimbangan ini penting, untuk tahu apakah ada risiko stunting atau tidak,” jelasnya.
Baginya, posyandu bukan sekadar rutinitas bulanan.
Lebih dari itu, ini adalah garis depan dalam mencegah stunting masalah yang bisa berdampak panjang pada kualitas hidup anak.
Safitri memahami betul, satu anak yang luput dari pemantauan bisa berarti kehilangan kesempatan untuk intervensi dini.
Ia mengaku, Desa Ako kini sudah terbebas dari kasus stunting. Namun kondisi itu bukan terjadi begitu saja.
Sebelumnya, desa ini sempat menghadapi kasus serupa. Upaya panjang pun dilakukan, mulai dari pendampingan ibu hamil hingga anak berusia 23 bulan.
Pemberian makanan tambahan, edukasi gizi, hingga pemantauan rutin menjadi kunci.
“Dulu ada, tapi sekarang sudah tidak ada. Itu karena kita dampingi terus, dari ibu hamil sampai anaknya besar,” ungkapnya.
Bagi Safitri, memastikan tidak ada lagi anak stunting adalah tanggung jawab bersama.
Meski jalannya tidak mudah, ia memilih bertahan.
Di balik langkahnya yang sederhana, tersimpan harapan besar, agar setiap anak di desanya tumbuh sehat, kuat, dan memiliki masa depan yang lebih baik.
Sebab bagi Safitri, menjadi kader posyandu bukan hanya soal pengabdian tetapi tentang menjaga harapan, satu anak, satu keluarga, dalam setiap langkah kecil yang ia tempuh.(*)
Laporan wartawan Tribun-Sulbar.com Taufan