SRIPOKU.COM - Kasus dugaan pelecehan seksual yang menyeret nama pendakwah Syekh Ahmad Al Misry alias SAM terus berkembang dan menghadirkan fakta-fakta baru.
Di tengah proses hukum yang berjalan, muncul peran penting seorang figur publik yang turut membantu mengungkap kasus ini.
Aktris sekaligus pendakwah, Oki Setiana Dewi, disebut menjadi salah satu sosok kunci dalam terbongkarnya dugaan kasus tersebut, khususnya yang terjadi di luar negeri.
Perwakilan korban, Habib Mahdi, mengungkapkan bahwa Oki memiliki andil besar dalam menguak peristiwa yang diduga terjadi di Mesir.
"Ustazah Oki jadi saksi (atas laporan di Bareskrim). Karena kasus di Mesir dia yang ngungkap," terang Habib Mahdi.
Ia menjelaskan, peristiwa di Mesir disebut berlangsung dalam rentang waktu cukup lama pada tahun 2025.
"Kasus yang di Mesir ini kejadiannya pada Minggu terakhir bulan Agustus sampai dengan minggu pertama bulan September. Artinya, 14 hari," tandasnya.
"Selama 14 hari ini, kejadian itu 11 hari berturut-turut di tahun 2025," lanjutnya.
Terungkapnya kasus ini bermula dari komunikasi antara pihak keluarga korban dengan Oki. Disebutkan, kakak korban memiliki hubungan dengan Oki karena pernah mendapatkan beasiswa dan terlibat di lingkungan pendidikannya.
"Nah, terungkap sama Ustazah Oki kebetulan kakaknya si korban itu mendapatkan beasiswa Ustazah Oki ya. Diperbantukan di sekolahannya Ustazah Oki. Nah, si kakaknya ini tidak bisa langsung komunikasi sama Ustazah Oki, minta tolong sama orang lain."
"Orang lainnya ini minta izin kepada Ustazah Oki untuk memberikan nomornya pada si kakak. Si kakak ini akhirnya komunikasi sama Ustazah Oki, menanyakan peristiwa itu pada si korban," tambahnya.
Awalnya, korban disebut belum sepenuhnya terbuka terkait kejadian yang dialaminya. Namun, setelah proses komunikasi berjalan, dugaan pelecehan mulai terungkap.
"Si korban saat itu tidak mengungkap 100 persen, tapi adanya pelecehan itu terungkap," tegasnya.
Setelah kembali ke Indonesia, korban akhirnya memberikan keterangan lebih lanjut mengenai pengalaman yang dialaminya.
"Setelah pulang ke Indonesia, saya ketemuin si korban. Saya ajak bicara ternyata 11 hari. Dan si korban yang di Mesir ini umurnya sekarang baru 17 tahun. Waktu kejadian itu umur 16, berangkat itu umur 15," bebernya lagi.
Habib Mahdi juga menegaskan bahwa dalam kasus ini, korban yang terlibat disebut seluruhnya berjenis kelamin laki-laki.
"Dan itu rata-rata korbannya laki-laki semua," pungkasnya.
Baca juga: Lepas Dr. Izro Maita Jadi Sekda Lahat, Bupati Askolani: Tetap Kerja Keras, Cerdas, dan Ikhlas
Syekh Ahmad Al Misry dikenal sebagai seorang pendakwah asal Mesir yang telah cukup lama menetap dan berdakwah di Indonesia.
Kehadirannya di tengah masyarakat Indonesia membuatnya dikenal luas, bahkan sering dijuluki sebagai “Syekh Mesir” oleh para jemaah.
Ia disebut memiliki latar belakang pendidikan agama yang kuat, dengan riwayat menempuh studi di Universitas Al-Azhar, Kairo.
Kampus tersebut dikenal sebagai salah satu pusat keilmuan Islam tertua dan paling berpengaruh di dunia.
Dari sana, ia mendalami berbagai disiplin ilmu keislaman seperti fikih, tafsir Al-Qur’an, hadis, hingga tasawuf.
Dengan bekal keilmuan tersebut, Syekh Ahmad aktif berdakwah di berbagai daerah di Indonesia. Ia kerap mengisi kajian di masjid, pondok pesantren, serta majelis taklim.
Gaya penyampaiannya yang tenang, lembut, dan mudah dipahami membuatnya memiliki banyak pengikut dari berbagai kalangan.
Secara penampilan, ia identik dengan busana khas ulama Timur Tengah, seperti jubah panjang berwarna putih, sorban, serta jenggot yang tertata rapi.
Penampilannya yang sederhana namun berwibawa membuat banyak orang merasa segan sekaligus nyaman saat mendengarkan ceramahnya.
Tak hanya berdakwah secara langsung, ia juga aktif di media sosial. Melalui platform seperti YouTube dan akun lainnya, ia rutin membagikan ceramah, kajian kitab, serta nasihat keagamaan.
Kehadirannya di dunia digital turut memperluas jangkauan dakwahnya hingga ke berbagai daerah.
Selain itu, namanya juga sempat dikenal publik karena keterlibatannya dalam program televisi keagamaan, termasuk menjadi salah satu juri dalam ajang Hafiz Indonesia.
Hal ini semakin menguatkan citranya sebagai ulama yang memiliki kapasitas di bidang Al-Qur’an.
Dalam aktivitasnya, ia juga disebut terlibat dalam pembinaan santri dan pendidikan keagamaan.
Banyak jemaah mengenalnya sebagai sosok yang sabar dalam membimbing serta memiliki pendekatan yang lembut dalam menyampaikan ajaran Islam.
Meski dikenal luas sebagai pendakwah, kehidupan pribadinya relatif tertutup.
Informasi mengenai keluarga, termasuk istri dan anak, tidak banyak diungkap ke publik.
Ia disebut lebih memilih menjaga privasi keluarga agar tetap fokus pada aktivitas dakwah.
Namun, di tengah citra tersebut, kasus yang kini menjerat namanya membuat publik kembali menyoroti perjalanan hidup dan aktivitasnya.
Proses hukum yang sedang berjalan pun akan menjadi penentu atas kebenaran dari berbagai tudingan yang beredar.