SRIPOKU.COM - Isu dugaan pelecehan seksual yang menyeret nama Syekh Ahmad Al Misry alias SAM kini memasuki tahap penyidikan setelah dilaporkan ke Bareskrim Polri.
Kasus ini menjadi sorotan publik karena melibatkan sejumlah santri pria dan disebut menggunakan modus pendekatan agama.
Pendakwah asal Mesir yang dikenal luas di Indonesia itu membantah seluruh tuduhan yang dialamatkan kepadanya.
Ia menegaskan telah menyiapkan bukti-bukti untuk membantah tudingan tersebut dan menyerahkannya kepada kuasa hukum.
"Tuduhan pelecehan kepada santri, itu tidak benar adanya. Maka mohon teliti karena bukti-bukti yang saya punya, sudah saya serahkan kepada kuasa hukum saya untuk menyerahkannya kepada pihak yang berwenang dan juga ada saksi-saksinya," jelasnya.
Syekh Ahmad juga menyoroti adanya penyebutan nama Nabi Muhammad SAW dalam tuduhan tersebut.
Ia menilai hal itu sebagai fitnah yang sangat menyakitkan bagi umat Islam.
"Tuduhan fitnah yang sangat kejam yang sangat melukai hati saya dan setiap orang muslim adalah fitnah terhadap Rasulullah SAW melakukan pelecehan kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Nauzubillah," tandasnya.
Ia pun bersumpah tidak pernah melakukan atau mengajarkan hal yang dituduhkan, serta menyayangkan informasi yang beredar luas tanpa klarifikasi langsung kepadanya.
"Demi Allah, saya tidak pernah berfatwa dengan hal demikian. Dan ini adalah fitnah yang sangat kejam yang disebarluaskan di banyak medsos," katanya.
Lebih lanjut, ia mengimbau masyarakat, khususnya umat Muslim, agar berhati-hati dalam menyampaikan dan menerima informasi.
"Para jemaah yang dimuliakan Allah SWT, seluruh kaum muslimin muslimat, kita harus berhati-hati ketika kita menyampaikan suatu informasi," pungkasnya.
Di sisi lain, perwakilan korban mengungkap dugaan modus yang digunakan pelaku, mulai dari iming-iming pendidikan agama hingga permintaan pemeriksaan fisik terhadap santri. Kasus ini pun masih terus bergulir dan menjadi perhatian publik.
Baca juga: Curhat Syarifah Istri Gubernur Kaltim Usai Suami Didemo hingga Ricuh, Sindir Etika Tak Ikut Campur
Syekh Ahmad Al Misry dikenal sebagai seorang pendakwah asal Mesir yang telah cukup lama menetap dan berdakwah di Indonesia.
Kehadirannya di tengah masyarakat Indonesia membuatnya dikenal luas, bahkan sering dijuluki sebagai “Syekh Mesir” oleh para jemaah.
Ia disebut memiliki latar belakang pendidikan agama yang kuat, dengan riwayat menempuh studi di Universitas Al-Azhar, Kairo.
Kampus tersebut dikenal sebagai salah satu pusat keilmuan Islam tertua dan paling berpengaruh di dunia.
Dari sana, ia mendalami berbagai disiplin ilmu keislaman seperti fikih, tafsir Al-Qur’an, hadis, hingga tasawuf.
Dengan bekal keilmuan tersebut, Syekh Ahmad aktif berdakwah di berbagai daerah di Indonesia. Ia kerap mengisi kajian di masjid, pondok pesantren, serta majelis taklim.
Gaya penyampaiannya yang tenang, lembut, dan mudah dipahami membuatnya memiliki banyak pengikut dari berbagai kalangan.
Secara penampilan, ia identik dengan busana khas ulama Timur Tengah, seperti jubah panjang berwarna putih, sorban, serta jenggot yang tertata rapi.
Penampilannya yang sederhana namun berwibawa membuat banyak orang merasa segan sekaligus nyaman saat mendengarkan ceramahnya.
Tak hanya berdakwah secara langsung, ia juga aktif di media sosial. Melalui platform seperti YouTube dan akun lainnya, ia rutin membagikan ceramah, kajian kitab, serta nasihat keagamaan.
Kehadirannya di dunia digital turut memperluas jangkauan dakwahnya hingga ke berbagai daerah.
Selain itu, namanya juga sempat dikenal publik karena keterlibatannya dalam program televisi keagamaan, termasuk menjadi salah satu juri dalam ajang Hafiz Indonesia.
Hal ini semakin menguatkan citranya sebagai ulama yang memiliki kapasitas di bidang Al-Qur’an.
Dalam aktivitasnya, ia juga disebut terlibat dalam pembinaan santri dan pendidikan keagamaan.
Banyak jemaah mengenalnya sebagai sosok yang sabar dalam membimbing serta memiliki pendekatan yang lembut dalam menyampaikan ajaran Islam.
Meski dikenal luas sebagai pendakwah, kehidupan pribadinya relatif tertutup.
Informasi mengenai keluarga, termasuk istri dan anak, tidak banyak diungkap ke publik.
Ia disebut lebih memilih menjaga privasi keluarga agar tetap fokus pada aktivitas dakwah.
Namun, di tengah citra tersebut, kasus yang kini menjerat namanya membuat publik kembali menyoroti perjalanan hidup dan aktivitasnya.
Proses hukum yang sedang berjalan pun akan menjadi penentu atas kebenaran dari berbagai tudingan yang beredar.