BANGKAPOS.COM--Situasi keamanan di Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, dipastikan tetap terkendali meski kelompok kriminal bersenjata (KKB) kembali menyebarkan ancaman dan propaganda di media sosial.
Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Lucky Avianto menegaskan klaim yang disampaikan juru bicara TPNPB-OPM, Sebby Sambom, hanyalah hoaks yang bertujuan menebar ketakutan di tengah masyarakat.
Menurut Lucky, aktivitas masyarakat di Kota Dekai, Jalan Gunung, hingga kawasan bandara tetap berjalan normal selama 24 jam dan berada dalam pengamanan aparat TNI.
“Saya pastikan isu dan teror, terutama klaim juru bicara TPNPB-OPM, Sebby Sambom adalah hoaks. Kota Dekai, Jalan Gunung serta bandara sebagai penunjang aktivitas sosial ekonomi masyarakat yang didampingi oleh TNI, tetap berjalan 24 jam seperti biasanya,” ujar Lucky dalam keterangannya, Rabu (22/4/2026).
Lucky menilai penyebaran ancaman yang dilakukan KKB bukan hanya bentuk propaganda, tetapi juga upaya penghasutan agar masyarakat Papua merasa takut dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
Namun, menurut dia, kondisi di lapangan justru menunjukkan hal yang berbeda.
Warga tetap menjalankan kegiatan ekonomi, pendidikan, hingga pelayanan publik seperti biasa tanpa gangguan berarti.
Ia menegaskan masyarakat Papua kini semakin sadar dan tidak mudah dipengaruhi isu-isu yang disebarkan kelompok separatis bersenjata tersebut.
“Kedaulatan masyarakat Papua tidak akan goyah oleh intimidasi melalui penebaran aksi teror dan ancaman,” tegasnya.
Mayjen Lucky juga menyoroti tingginya antusiasme warga saat menyambut kunjungan kerja Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka ke Papua beberapa waktu lalu.
Menurutnya, kondisi itu menjadi bukti nyata bahwa masyarakat lebih menginginkan pembangunan dibanding konflik dan kekacauan.
Sebelumnya, KKB sempat mengancam akan melakukan serangan besar-besaran di wilayah Yahukimo menjelang kunjungan Wapres.
Namun kenyataannya, agenda kunjungan berjalan aman dan disambut ribuan warga.
“Meski KKB sebelumnya gencar menyebarkan ancaman serangan besar-besaran di Kabupaten Yahukimo, kenyataan di lapangan justru menunjukkan pemandangan yang kontras,” kata Lucky.
Ia menilai ramainya warga yang hadir menyambut Wapres menjadi pukulan telak bagi propaganda kelompok bersenjata tersebut.
“Masyarakat Papua sudah tidak dapat lagi terhasut, apalagi takut pada teror KKB. Parameternya sederhana, lihat tingginya volume dan antusiasme warga menyambut Bapak Gibran di Yahukimo. Ini adalah bukti rakyat ingin pembangunan, bukan kekacauan,” lanjutnya.
Pangdam memastikan aparat keamanan terus melakukan pengamanan di sejumlah titik vital, termasuk kawasan bandara, akses jalan utama, dan pusat aktivitas masyarakat di Dekai.
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan distribusi logistik, pelayanan publik, dan aktivitas ekonomi masyarakat tetap berjalan lancar di tengah situasi keamanan Papua yang masih dinamis.
Menurut Lucky, keberadaan aparat bukan untuk menciptakan ketakutan, melainkan memberikan rasa aman kepada masyarakat agar bisa beraktivitas dengan normal.
Ia juga meminta masyarakat tidak mudah percaya pada informasi yang beredar di media sosial tanpa sumber yang jelas.
Dalam beberapa waktu terakhir, kelompok bersenjata di Papua memang aktif menyebarkan berbagai klaim dan ancaman melalui media sosial.
Aparat menilai pola tersebut merupakan strategi propaganda untuk menciptakan kepanikan publik.
Namun, Lucky memastikan kondisi riil di lapangan jauh berbeda dengan narasi yang dibangun kelompok tersebut.
“Segala bentuk propaganda yang diunggah KKB di media sosial hanya bagian dari upaya keputusasaan untuk menciptakan rasa takut,” ujarnya.
Pemerintah dan aparat keamanan, kata dia, akan terus menjaga stabilitas keamanan di Papua agar pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan tanpa hambatan.
Di sisi lain, pemerintah pusat terus mendorong percepatan pembangunan di Papua melalui berbagai program infrastruktur, pendidikan, kesehatan, hingga penguatan ekonomi masyarakat.
Kunjungan para pejabat negara ke Papua juga disebut sebagai bentuk perhatian pemerintah terhadap percepatan pembangunan di wilayah timur Indonesia.
Lucky menegaskan masyarakat Papua saat ini semakin terbuka terhadap pembangunan dan tidak ingin kembali hidup dalam suasana konflik berkepanjangan.
“Rakyat Papua ingin kehidupan yang aman, pembangunan yang maju, dan masa depan yang lebih baik,” pungkasnya.
Tribunnews.com/Kompas.com