SERAMBINEWS.COM – Nama Syekh Ahmad Al Misry alias SAM akhirnya angkat suara di tengah derasnya sorotan publik. Ia merespons langsung tuduhan dugaan pelecehan seksual sesama jenis terhadap santri yang menyeret namanya.
Kasus ini sebelumnya dilaporkan ke Bareskrim Polri dan kini disebut telah masuk tahap penyidikan. SAM dituding melakukan pelecehan terhadap santri pria dengan dalih agama, isu yang kemudian menyebar luas di berbagai platform media sosial.
Menanggapi tuduhan tersebut, Syekh Ahmad dengan tegas membantah. Ia menyebut seluruh tudingan itu tidak benar dan mengklaim memiliki bukti untuk membantahnya.
"Tuduhan pelecehan kepada santri, itu tidak benar adanya. Maka mohon teliti karena bukti-bukti yang saya punya, sudah saya serahkan kepada kuasa hukum saya untuk menyerahkannya kepada pihak yang berwenang dan juga ada saksi-saksinya," jelasnya, dikutip dari YouTube Reyben Entertainment, Kamis (23/4/2026).
Tak hanya membantah, ia juga menyoroti narasi yang menyebut-nyebut tokoh agama dalam kasus tersebut. Menurutnya, hal itu sangat melukai perasaan umat Muslim.
"Tuduhan fitnah yang sangat kejam yang sangat melukai hati saya dan setiap orang muslim adalah fitnah terhadap Rasulullah SAW melakukan pelecehan kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Nauzubillah," tandasnya.
"Itu adalah dusta dan fitnah yang sangat kejam yang melukai hati kita sebagai muslim," tegasnya.
Baca juga: Hidung Ria Ricis Mendadak Mancung, Akhirnya Ngaku Operasi: Demi Bisa Napas Lega
Di bagian lain pernyataannya, Syekh Ahmad kembali menegaskan bahwa dirinya tidak pernah melakukan perbuatan seperti yang dituduhkan. Ia bahkan bersumpah atas bantahan tersebut.
"Demi Allah, saya tidak pernah berfatwa dengan hal demikian. Dan ini adalah fitnah yang sangat kejam yang disebarluaskan di banyak medsos," katanya.
Ia juga mengaku heran dengan pihak-pihak yang menyebarkan tudingan tersebut. Menurutnya, orang-orang yang menuduh tidak pernah berinteraksi langsung dengannya.
"Orang-orang itu tidak pernah berjumpa dengan saya, berkomunikasi lewat WA juga tidak pernah. Disayangkan banyak dai-dai yang menyebarluaskan fitnah tanpa tabayun kepada saya," sesalnya.
Menutup pernyataannya, Syekh Ahmad mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam menyampaikan informasi, khususnya di era digital saat ini.
"Para jemaah yang dimuliakan Allah SWT, seluruh kaum muslimin muslimat, kita harus berhati-hati ketika kita menyampaikan suatu informasi," pungkasnya.
Modus yang digunakan SAM, dikatakan perwakilan para korban, Habib Mahdi, turut membawa-bawa nama Nabi Muhammad SAW.
"Saya buka, ada satu video yang singkat ya. Kurang lebih durasinya 9 detik. Itu kalimat bahwa 'Syekh, kenapa demikian'. Lalu si Syekh itu mengatakan, 'enggak apa-apa kok, Nabi Muhammad dengan Sayyidina Ali pun melakukan hal yang seperti itu' gitu," terang Habib Mahdi, dikutip dari YouTube Seleb On Cam News, Kamis (23/4/2026).
Habib Mahdi kemudian membuka video lain yang ia terima.
"Saya cari video yang berkaitan dengan orang tersebut. Ada muka, ada baju yang sama, saya buka. Saya dengerin dari awal sampai akhir. 'Loh ini apa ini, kok gitu? Kok ho**se****al, kok pelecehan yang ada di luar nalar saya. Laki sama lelaki'," ucapnya lagi.
Baca juga: Purbaya Wacanakan Penerapan Tarif di Selat Malaka, Singapura Tegas Menolak
Dikatakan Habib Mahdi, antara satu korban dengan korban lainnya tak saling mengenal.
"Antara korban di video ini dengan di video itu tak saling kenal. Lokasinya juga berbeda. Jadi, dua orang ini tidak saling kenal," imbuhnya.
Ia lantas mengurai modus lain yang digunakan SAM merayu korban.
"Lalu saya tanya, apa kok sampai Anda mau melakukan seperti itu. Pertama kejadiannya di Purbalingga. Si korban berusia 15 tahun. Saat itu Syekh Ahmad sedang berdakwah di sana," tuturnya.
"Kebetulan bertamu di pondok pesantren pamannya si korban ya. Sebagai tamu, minta ditemenin. Setelah ditemenin ngobrol-ngobrol ditawarin, mau enggak saya berangkatin ke Mesir menjadi hafiz Alquran. Nanti kalau ke sana memiliki sanad," jelas Habib Mahdi lagi.
Habib Mahdi menjelaskan, sanad merupakan sesuatu pencapaian yang luar biasa bagi penghafal Alquran.
"Otomatis dia mau, iming-iming agama ya. Setelah mau, 'Oke setelah ngobrol semua, kamu benar mau, yakin? Ya udah saya cek fisik'," tambah Habib Mahdi menirukan ucapan SAM.
"Namanya anak umur 15 tahun, enggak pernah ke luar negeri suruh cek fisik. Apa cek fisiknya? Buka baju, buka baju begini, mau lihat ada tatonya enggak, ada cacat enggak, dan sebagainya," seloroh Habib Mahdi.
Korban sempat menolak ketika diminta membuka celananya.
"Tanya suruh buka celananya. Tadinya enggak mau. Termasuk mohon maaf, alatnya dipegang ya. Sudah kejadian, korban diberangkatin karena janjinya," lanjut Habib Misri.
Korban kembali menerima perlakuan penyimpangan lainnya saat menginap di rumah SAM.
"Waktu di Jakarta, rumahnya si Ahmad Misry ini itu korban yang sama juga dilu*ut bibirnya karena katanya supaya fasih," jelasnya.
Dia menyayangkan aksi SAM melecehkan santri-santri di bawah umur itu.
"Saya sembilan tahun di Arab, enggak pernah dilu*ut gitu sama guru saya," pungkasnya.
Adapun laporan di Bareskrim Polri kini telah sampai ke tahap penyidikan.
Kuasa hukum korban, Benny Jehadu menyebut, laporan yang diajukan pihaknya kini telah naik ke tahap penyidikan.
Ia menyebut pihak kepolisian juga sudah mengantongi bukti yang cukup kuat untuk menindaklanjuti perkara tersebut.
Karena itu, tim kuasa hukum mendesak penyidik agar segera memanggil terlapor dan menetapkannya sebagai tersangka.
“Tentu kami secara tegas terkait laporan kami adalah harapan kami kepada teman-teman penyidik untuk segera panggil terhadap terlapor ya, lalu segera ditetapkan sebagai tersangka,” tegas Benny.
Selain laporan, pihak korban juga telah menyerahkan sejumlah barang bukti kepada penyidik untuk memperkuat dugaan tindak pidana tersebut.
Bukti yang diserahkan antara lain jejak digital percakapan hingga rekaman video yang berkaitan dengan kasus itu.