TRIBUNJATENG.COM, JEPARA - Pemerintah Desa Kawak, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Jepara menggelar Festival Jondang dalam rangkaian Gebyar Sedekah Bumi, Kamis (23/4/2026).
Jondang merupakan sebuah tempat khusus dari kayu berbentuk persegi panjang yang dahulu dijadikan sebagai tempat membawa barang atau hantaran lamaran dan pernikahan.
Konon festival jondang ini dipercaya sebagai bentuk syukur masyarakat atas "Jodo Ngandang" atau Jondang. Artinya ngandang rizki, ngandang kemakmuran dan ngandang keselamatan.
Tahun ini 26 jondang berisikan makanan, buah-buahan, sayuran, dan aneka ragam hasil bumi diarak dari halaman Balaidesa Kawak ke Punden Sitinggil Masjid Wali.
Proses perayaan festival jondang diikuti kurang lebih 2 ribu warga, mulai dari anak-anak, remaja, pemuda, hingga dewasan dan lansia.
Mereka mengarak jondang dengan cara dipikul sejauh kurang lebih 2,5 kilometer.
Jondang dipikul mayoritas oleh kaum laki-laki, mengingat berat jondang dalam keadaan kosong sekitar 10 kilogram dan jika diisi maksimal bisa mencapai 20 kilogram.
Satu-satunya jondang yang dipikul perempuan adalah jondang milik RT 20 RW 3.
Jondang tersebut berisikan sayuran, buah-buahan dan makanan dengan berat sekitar 10-15 kilogram.
Pemikulnya adalah dua sosok perempuan paruhbaya bernama Mauludiyah (56) dan Sukim (53).
Dengan langkah tegap, keduanya memikul jondang tersebut diikuti rombongan pawai di belakangnya.
Mauludiyah mengatakan, setiap festival jondang digelar, perempuan di tempatnya mengambil peran sebagai pemikul jondang.
Bukan untuk merendahkan kaum laki-laki, namun memberikan kesempatan bagi kaum laki-laki untuk mengambil peran lain dalam rombongan festival arak-arakan.
Kelompoknya juga sepakat bahwa setiap pagelaran festival jondang harus ada yang berbeda. Satu di antaranya dengan perempuan mengambil peran sebagai pemikul jondang. Menunjukkan bahwa perempuan juga kuat dan bisa, tanpa merendahkan derajat kaum laki-laki.
"Maka dari itu, kami sepakat mengisi jondang dengan barang-barang yang tidak terlalu berat, supaya kaum perempuan juga bisa mengambil peran," ujar dia.
Dalam festival tersebut, masyarakat masing-masing RT diberikan keleluasaan untuk mengisi jondang sesuai selera dan kemampuan.
Ada yang mengisi buah-buahan, ada juga yang mengisi sayur-sayuran, bahkan ada pula yang mengisi hasil bumi seperti padi, ketela, pisang, juga singkong.
Perwakilan dari panitia festival, Raka Tyas Wara menyampaikan, setelah semua jondang dikirab sejauh 2,5 kilometer ke Punden Sitinggil Masjid Wali, peserta kirab memanjatkan doa bersama dan menyantap hasil bawaan masing-masing.
Ada juga peserta yang sengaja membawa makanan lengkap nasi dengan lauknya semata-mata untuk selamatan bersama atas berkah hasil bumi yang telah didapatkan masyarakat.
"Di Masjid Wali makan bersama. Apa yang dibawa, dimakan bersama yang bisa dimakan langsung," ujar dia.
Kepala Desa Kawak, Eko Heri Purwanto menyampaikan, penggunaan jondang sebagai media membawa hantaran lamaran atau nikahan sudah mengakar dan menjadi tradisi bagi masyarakat Desa Kawak sampai saat ini.
Pemerintah desa pun menyulap kebiasaan tersebut dengan perayaan Festival Jondang yang digagas pertama kali pada 2014 lalu.
Dilaksanakan setiap bulan apit atau Dzulqo'dah bersamaan dengan rangkainan Gebyar Sedekah Bumi.
Eko menegaskan bahwa Pemerintah Desa Kawak bersama masyarakat tetap berupaya mempertahankan budaya lokal yang sudah ada agar bisa dikenang di kalangan masyarakat luas.
"Marilah tetap jaga kerukunan, kebersamaan dan gotong-royong untuk menghasilkan kreasi dan inovasi. Dengan festival ini bagian dari mensyukuri nikmat dari Allah SWT atas panen raya. Dan semoga masyarakat diberikan aman, tentram, berkecukupan dan keberkahan," tegas dia.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jepara, Ali Hidayat menyampaikan, tradisi Festival Jondang yang dilakukan masyarakat Kawak bagian dari upaya nguri-uri tradisi budaya Jawa.
Dengan harapan edukasi atas tradisi yang ada tetap dilakukan sebagai langkah menyiapkan generasi selanjutnya, agar adanya tradisi tidak putus.
Pihaknya berjanji bahwa pemerintah daerah bakal mendukung setiap kegiatan tradisi budaya, termasuk Festival Jondang agar dapat terselenggara dengan lebih baik lagi ke depannya.
"Kita akan tata festival ini ke depan lebih baik lagi agar bisa menarik pengunjung dari luar daerah dan mancanegara seperti festival buka luwur," harap dia. (Sam)