TRIBUNMANADO.COM, MANADO - Kenaikan harga LPG non-subsidi mulai dirasakan langsung oleh masyarakat dari berbagai kalangan.
Sejumlah warga mengaku harus memutar otak untuk menyesuaikan pengeluaran, bahkan mempertimbangkan beralih ke LPG subsidi ukuran 3 kilogram.
Rahayu, seorang pekerja yang tinggal di indekos, mengungkapkan kebingungannya menghadapi kenaikan harga tersebut.
Menurutnya, jumlah penghuni yang sedikit membuat beban iuran gas semakin terasa.
“Iya, jadi bingung karena di kos kami hanya sedikit orang, sedangkan harga gas naik. Iuran gasnya jadi naik juga,” ujarnya, Kamis (23/4/2026).
Ia dan teman-temannya sempat mempertimbangkan untuk beralih ke LPG subsidi.
Namun, berbagai hal menjadi pertimbangan tersendiri.
"Cuma malas karena (LPG subsidi) sering kosong, harus antre, harus bawa KTP, pokoknya ribet,” jelasnya.
Secara ekonomi, Rahayu dan teman-teman penghuni indekos juga masih tergolong mampu sehingga merasa tidak seharusnya menggunakan LPG subsidi.
Hal serupa disampaikan oleh seorang ibu rumah tangga bernama Anita Lalujan.
Ia selama ini menggunakan LPG non-subsidi karena dinilai lebih praktis dan mudah didapatkan.
“Saya biasa pakai gas LPG non-subsidi karena lebih sering tersedia di pangkalan dan lebih lama habisnya,” katanya.
Namun dengan adanya kenaikan harga, Anita mulai mempertimbangkan untuk beralih ke LPG subsidi demi menekan pengeluaran rumah tangga.
"Selama ini pakai non-subsidi karena puji Tuhan masih mampu, lebih tersedia, dan bisa juga diantar ke rumah,” tambahnya.
Baca juga: Harga LPG Non-Subsidi Naik, Pangkalan di Manado Layani Konsumen Seperti Biasa
Baca juga: Jadwal Kapal dari Pelabuhan Manado 24 April 2026: Hanya ke Nusa Utara
Kenaikan harga LPG non-subsidi ini rupanya tidak hanya berdampak pada daya beli masyarakat, tetapi juga berpotensi meningkatkan minat terhadap LPG subsidi.(*)