Oleh:
Yunidar ZA, Analis Kebijakan
SERAMBINEWS.COM - Dinamika perkembangan konflik global agresi militer Amerika Serikat ke Iran kembali menempatkan dunia pada persimpangan antara perang dan perdamaian. Pertemuan lanjutan antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung di Islamabad Pakistan, Senin (20/4), belum menunjukkan hasil yang signifikan.
Dalam pertemuan tersebut dikabarkan Iran tidak mengirimkan tim delegasi ke Islamabad. Negosiasi masih berada dalam situasi mengambang, penuh kehati-hatian, dan dibayangi oleh ketidakpercayaan di antara para pihak.
Namun demikian, satu hal yang patut diapresiasi adalah mulai menurunnya eskalasi ketegangan, yang membuka ruang bagi perpanjangan gencatan senjata sebagai langkah awal membuka ruang komunikasi kembali dialog, perdamaian yang lebih substansial.
Perpanjangan gencatan senjata bukan sekadar “jeda perang”, melainkan fondasi penting dalam membangun jalan komunikasi untuk merajut kembali kepercayaan. Dalam sejarah konflik internasional, jeda kekerasan sering kali menjadi pintu masuk menuju dialog yang lebih konstruktif.
Penghentian sementara aksi militer, menguntungkan semua pihak, jaringan perdamaian mendorong kembali para pihak untuk duduk bersama dalam suasana yang rasional dan setara. Gencatan senjata lanjutan harus dipandang sebagai instrumen strategis menuju negosiasi damai, bukan sebagai bentuk kelemahan.
Salah satu titik krusial dalam konflik ini adalah kawasan Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital distribusi energi dunia. Lebih dari sepertiga perdagangan minyak global dan energi melewati selat ini. Ketegangan yang terjadi, termasuk ancaman penutupan jalur tersebut, telah menimbulkan kekhawatiran serius terhadap stabilitas ekonomi global. Gangguan pada distribusi energi tidak hanya berdampak pada negara-negara kawasan di Timur Tengah, kini juga telah merambat ke kawasan Asia, Eropa, hingga Asia Tenggara.
Dalam konteks ini, pembukaan kembali Selat Hormuz secara aman, dalam keleluasaan navigasi laut yang bebas berlayar merupakan suatu keniscayaan. Stabilitas jalur energi global adalah kepentingan bersama umat manusia.
Tanpa jaminan keamanan di kawasan selat ini, seluruh dunia berpotensi menghadapi krisis energi, inflasi global, hingga resesi ekonomi yang meluas. Karenanya gencatan senjata agar terwujudnya dialog, diplomasi, negosiasi, dan memastikan keberlangsungan berjalannya sistem ekonomi global.
Di sisi lain, Iran memiliki posisi strategis yang tidak bisa diabaikan. Secara geografis, Iran memiliki bentang alam pegunungan yang kompleks, yang memberikan keunggulan pertahanan alami. Ditambah dengan kapasitas militer, termasuk sistem rudal, Iran berada dalam posisi yang relatif kuat untuk bertahan dari tekanan eksternal. Kekuatan ini semakin diperkuat oleh dukungan domestik dan jaringan aliansi regional yang dimilikinya.
Kekuatan militer bukan satu-satunya bahasa dalam hubungan internasional. Perdamaian hanya dapat dicapai apabila para pihak yang berunding berada dalam posisi yang setara dan saling menghormati. Negosiasi yang timpang hanya akan melahirkan ketidakpuasan dan berpotensi konflik laten, memicu konflik baru di masa depan. Dalam negosiasi prinsip kesetaraan dan saling menguntungkan harus menjadi dasar dalam setiap proses dialog, perundingan yang bermartabat.
Bagaimanapun, kenyataannya tidak dapat menutup mata terhadap keberadaan aktor-aktor yang diuntungkan dari konflik berkepanjangan. Apa yang sering disebut sebagai “ekonomi perang” telah menciptakan insentif bagi sebagian pihak untuk terus mempertahankan konflik. Kompleksitas konflik dalam kegiatan industri persenjataan, perlombaan senjata, kepentingan geopolitik, dan dominasi sumber daya sering kali menjadi faktor yang memperpanjang perang. Dalam situasi seperti ini, suara masyarakat dunia menjadi sangat penting untuk mendorong arah kebijakan menuju dialog, negosiasi menuju perdamaian berkelanjutan.
Perang modern tidak lagi sekadar pertarungan militer, tetapi telah menjadi ancaman nyata bagi peradaban manusia, keamanan manusia, kini terlihat jelas dampaknya meluas ke berbagai sektor, mulai dari keamanan manusia, ekonomi, sosial, politik, kemanan, hingga lingkungan. Ribuan bahkan jutaan warga sipil menjadi korban, pengungsian, penyakit, penderitaan, tanpa kepastian masa depan, infrastruktur hancur, dan masa depan generasi berikutnya terancam. Jelaslah bahwa perang tidak pernah menjadi solusi yang berkelanjutan.
Sebaliknya, dialog adalah jalan yang paling rasional dan beradab. Melalui dialog, perbedaan dapat dijembatani, kepentingan dapat dinegosiasikan, dan solusi bersama dapat dirumuskan. Dunia telah memiliki banyak contoh keberhasilan diplomasi dalam menyelesaikan konflik, meskipun prosesnya sering kali panjang dan penuh tantangan.
Bagi Indonesia, stabilitas global, khususnya di sektor energi, memiliki implikasi langsung terhadap ketahanan nasional. Sebagai negara yang masih bergantung pada impor energi, gangguan di Selat Hormuz dapat berdampak pada kenaikan harga kebutuhan pokok, bahan bakar, tekanan terhadap ekonomi domestik dan stablitas nasional. Karenanya tentu Indonesia memiliki kepentingan strategis untuk mendukung setiap upaya perdamaian, ketertiban dan stabilitas global.
Baca juga: Perang dan Damai – Bagian 11, Pertemuan Islamabad Jilid Dua, Menuju Perdamian
Momentum perpanjangan gencatan senjata harus dimanfaatkan secara maksimal oleh semua pihak sebagai sebuah kesempatan, modal untuk membangun kepercayaan, membuka jalur komunikasi, dan merumuskan kesepakatan yang adil dan berkelanjutan. Perdamaian tidak akan pernah tercapai tanpa keberanian untuk berdialog dan mengalah “tanpa kehilangan muka” demi kepentingan yang lebih besar.
Saatnya masyarakat dunia memberikan perhatian serius terhadap perdamaian. Semua pihak yang terlibat dalam peperang maupun yang terdampak akibat perang terutama gangguan imbas terhadap ekonomi global dalam rantai pasok yang tergangu, dapat menyuarakan untuk segera mendorong para pihak yang bertikai agar segera kembali ke jalur diplomasi, berunding dalam meja perundingan dengan mendalami dan memahami kepentingan, kebutuhan dan nilai-nilai yang diperjuangkan, tujuan digeser untuk kesetaraan bukan dengan cara “pemaksaan kehendak”.
Tekanan moral dan politik dari komunitas internasional jaringan perdamain utamanya mandat dari Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa – Bangsa (PBB) dapat menjadi pendorong kuat bagi para pemimpin dunia untuk memilih kebijaksanaan jalur perdamaian, diplomasi daripada konfrontasi. Masyarakat dunia membutuhkan kedamaian, kesejahteraan dan perdamaian tidak membutuhkan perang.
Pada akhirnya, perdamaian bukan hanya tentang menghentikan perang. Tapi, tentang membangun masa depan bersama yang lebih adil, stabil, dan manusiawi. Perpanjangan gencatan senjata semoga menjadi langkah awal, langkah berikutnya adalah memastikan bahwa negosiasi, diplomasi, dialog dapat terus berjalan hingga tercapai kesepakatan damai yang permanen karena perang hanya akan menghancurkan peradaban dunia. Semoga.(*)