Disdik Sleman Hargai Keluhan Ortu Terkait TKA, Jadi Bahan Evaluasi Tim Penyusun Soal
Joko Widiyarso April 23, 2026 09:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Orang tua di Sleman mengeluhkan tingkat kesulitan soal Tes Kemampuan Akademisi (TKA) SD yang berbeda-beda. Hal itu dirasa merugikan siswa yang mendapatkan soal sulit. 

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman, Mustadi mengatakan soal TKA disusun oleh tim penyusun, baik di tingkat DIY hingga pusat.

Terkait dengan keluhan orang tua siswa, pihaknya menghargai dan menjadi bahan evaluasi tim penyusun soal ke depan. 

"Untuk soal itu ada tim sendiri, itu adalah bapak ibu guru yang terpilih. Ya kita hargai (keluhan orangtua). Kemudian ini akan menjadi evaluasi, terutama untuk teman-teman penyusun soal. Terkait ada materi yang belum diajarkan, itu nanti juga perlu dievaluasi sejauh mana," katanya, Kamis (23/4/2026). 

Ia menerangkan sebelum mengikuti TKA, pelajar di Sleman sudah mengikuti penguatan literasi, termasuk melalui tryout atau uji coba.

Menurut dia, pelajar di DIY, termasuk di Sleman mestinya sudah siap menghadapi TKA. Sebab, sebelum TKA dari pusat, pelajar di DIY sudah mengikuti Asesmen Standardisasi Pendidikan Daerah (ASPD). 

"Kita sudah melakukan penguatan literasi, soalnya panjang, harus dicermati, dan dianalisa. Kemudian di sekolah-sekolah juga sudah ada pelatihan-pelatihan, tryout di tingkat kabupaten sudah. Persiapannya sudah matang sebetulnya. Bahkan kalau di DIY sudah ada pengalaman ASPD. Jadi anak-anak kita sebetulnya lebih siap dibanding anak-anak di luar DIY," terangnya. 

Mustadi menyebut pihaknya belum mendapatkan keluhan resmi dari sekolah maupun dari orangtua siswa terkait soal TKA.

Selama dua hari pelaksanaan TKA, kendala yang dialami seputar teknis, seperti jaringan internet yang sempat tersendat maupun listrik yang sempat padam. 

Kendati demikian, seluruh permasalahan teknis dapat diatasi dan pelaksanaan TKA berjalan lancar. 

"Pelaksanaan TKA di Sleman lancar. Kalau kendala teknis memang ada, ada yang listriknya njeglek  (padam sebentar), tapi kan sekolah juga punya genset. Ada yang karena Wi-Fi. Tapi semuanya lancar. Kalau keluhan terkait soal TKA belum ada, hanya masalah teknis, dan bisa diatasi," tuturnya.

Keluhan orang tua siswa

Salah satu orang tua, Ita mengatakan putrinya mengikuti TKA sejak kemarin, Senin (22/4) dengan mata pelajaran Matematika.

Sementara pada Selasa (23/4), putrinya mengikuti TKA dengan mata pelajaran Bahasa Indonesia. 

Ia menyebut tingkat kesulitan soal masing-masing anak berbeda-beda. Dari pengakuan putrinya, ada lima soal yang tidak bisa terjawab lantaran belum pernah diajarkan. 

"Kemarin ikut Matematika, ada 30 soal, yang bisa dijawab 25 soal, yang 5 soal nggak dijawab. Katanya susah, bingung, ada yang belum diajarkan juga. Malah katanya ada materi SMP juga," katanya, Kamis (23/4/2026). 

Menurut dia, tingkat kesulitan yang berbeda-beda itu menimbulkan ketidakadilan. Sebab siswa atau murid yang mendapatkan soal mudah akan mendapatkan nilai tinggi. Sedangkan siswa yang mendapatkan soal sulit akan mendapatkan nilai rendah. 

"Ya merasa nggak adil to, kalau dapat yang sulit yang nilainya pasti jelek. Ada juga yang sampai menangis karena tidak bisa mengerjakan. Ya kasihan to yang dapat soal sulit. Apalagi hasil TKA ini kan juga dipakai untuk mendaftar SMP," lanjutnya. 

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Eca. Putranya harus menghadapi soal panjang yang membutuhkan waktu lebih. Namun, ada siswa lain yang tidak mendapatkan soal lebih pendek. 

"Harusnya kan ya bobotnya sama, kalau seperti itu kan merugikan anak-anak juga. Kalau soalnya sulit, sementara temen yang lain dapat mudah, kasihan yang dapat soal sulit to," ungkapnya. 

Orang tua lainnya, Atik menyebut putranya mendapatkan soal yang relatif mudah. Namun memang siswa yang lain mendapatkan soal yang lebih sulit. 

"Kalau anak saya itu dapat sesi satu, katanya lebih mudah. Tapi yang dapat sesi dua, soalnya lebih sulit," ujarnya. 

Ia tidak terlalu memusingkan hasil TKA putranya, sebab sudah diterima di salah satu SMP swasta di Sleman. 

"Kebetulan sudah diterima di SMP swasta, ikut TKA ya cuma ikut-ikutan aja. Karena kalau swasta tidak mewajibkan ikut TKA," pungkasnya. 

Apa itu Tes Kemampuan Akademik (TKA)?

Tes Kemampuan Akademik (TKA) SD adalah asesmen standar nasional sukarela dari Kemendikdasmen untuk mengukur capaian akademik siswa (terutama kelas 6) pada mata pelajaran inti seperti Matematika, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris, guna kepentingan seleksi ke jenjang berikutnya, bukan sebagai standar kelulusan. TKA menilai konsep inti dan Higher Order Thinking Skills (HOTS). 

Tujuan dan Manfaat TKA SD

  • Seleksi Akademik: Memberikan data objektif mengenai capaian akademik murid, terutama untuk perbandingan saat seleksi masuk sekolah.
  • Penyetaraan Hasil Belajar: Memfasilitasi akses penyetaraan bagi murid dari pendidikan nonformal dan informal.
  • Evaluasi Mandiri: Membantu murid mengetahui kekuatan dan kelemahan akademik mereka.
  • Pemetaan Mutu: Alat kontrol kualitas pendidikan tingkat nasional. 

Contoh Penggunaan TKA SD

  • Syarat Masuk Sekolah: Hasil tes digunakan untuk mempermudah seleksi ke SMP yang diinginkan.
  • Dokumen Portofolio: Hasil tes digunakan sebagai bukti kemampuan akademik yang terstandar dalam Sertifikat Hasil TKA (SHTKA).
  • Uji Kemampuan: Siswa yang merasa siap dapat mengikuti tes ini untuk mengukur pemahaman konsep inti dan kemampuan HOTS. 

Sinonim dan Istilah Terkait

  • Asesmen Standar Nasional
  • Tes Kompetensi Akademik
  • Evaluasi Nasional
  • Asesmen Capaian Akademik 

Detail Teknis TKA SD

  • Sifat: Sukarela, tidak wajib.
  • Waktu Pelaksanaan: Dimulai untuk jenjang SD pada tahun 2026.
  • Mata Uji: Fokus pada kemampuan numerasi (Matematika) dan literasi (Bahasa Indonesia/Bahasa Inggris) dengan fokus pada penalaran dan pemecahan masalah.
  • Materi: Meliputi konsep inti dan HOTS. 

Catatan: Tes ini dirancang oleh Kemendikdasmen. 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.