TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kota Yogyakarta terus memutar otak untuk memutus rantai kaderisasi geng sekolah.
Pendekatan yang lebih humanis dan taktis pun diterapkan, dengan mengarahkan energi berlebih para siswa ke dalam kegiatan sosial, seperti aksi bersih-bersih sungai.
Ketua Tim Kerja Pembinaan Kepemudaan Disdikpora Kota Yogya, Mugi Suyatno, mengungkapkan bahwa langkah ini menjadi upaya konkret untuk meredam militansi geng sekolah.
Bukan tanpa alasan, solidaritas yang kerap disalahartikan hingga memunculkan militansi negatif, harus ditekan supaya tren kenakalan jalanan dapat dipupus.
"Misalnya, di SMK Negeri 3 dan SMK Negeri 2. Mereka sekarang punya program internal yang memberikan pengajaran militansi sekolah melalui kesamaptaan," ungkapnya, Kamis (23/4/26).
Mugi mencontohkan, di SMK Negeri 2 Yogyakarta, pihak sekolah membentuk sebuah pasukan bersih sungai, yang awalnya berisikan siswa-siswa pelanggar hukum atau tata tertib sekolah.
Ia menilai, bentuk hukuman atau pendisiplinan tersebut, seiring berjalannya waktu terbukti efektif mengubah perilaku, sekaligus meredam kenakalan pelajar.
"Sebenarnya itu anak-anak yang punya potensi kelebihan energi untuk melakukan soliditas dan solidaritas kelompok. Tapi, kemarin diarahkan nyemplung ke sungai untuk kerja bakti istilahnya," jelasnya.
Menurut Mugi, langkah ini diambil untuk memutus pola lama, di mana para siswa sering menghabiskan waktu dengan nongkrong di warung-warung yang berpotensi memicu aksi jalanan.
Alhasil, solidaritas kelompok yang biasanya ditunjukkan dengan cara konvoi kendaraan bermotor bersama-sama, kini dialihkan menjadi aksi nyata bagi lingkungan.
"Daripada nongkrong-nongkong, kumpul-kumpul, terus akhirnya jalan bareng dengan motor, ya dicemplungkan saja ke sungai untuk bersih-bersih," tandasnya.
"Awalnya memang bagian dari hukuman bagi yang melanggar tata tertib, tapi ke depannya kita dorong jadi program untuk sekolah lain juga," pungkas Mugi.