Ingat Syamsiah? Guru Viral Diejek Murid, Dapat Rp25 Juta dari Dedi Mulyadi Tapi Malah Didonasikan
Pipit Maulidya April 23, 2026 09:32 PM

 

SURYA.CO.ID - Masih ingat dengan sosok guru di SMA Negeri 1 Purwakarta yang viral diejek para siswa?

Sosok yang biasa disapa Bu Atun itu, kini kembali mencuri perhatian.

Bukan karena kasusnya, melainkan karena kedermawanannya yang luar biasa.

Di balik kesederhanaannya, Bu Atun ternyata menyimpan jiwa sosial yang tinggi.

Hal ini terungkap saat Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi berkunjung ke sekolah tempatnya mengajar, pada Selasa (21/4/2026).

Dalam pertemuan itu, terungkap sisi lain kehidupan sang guru yang jauh dari kemewahan.

Pilih Naik Angkot

Setiap hari, Bu Atun berangkat ke sekolah menggunakan angkutan kota (angkot).

Meski memiliki pilihan lain, ia sengaja memilih angkot karena ingin merasakan langsung kehidupan masyarakat kecil, sekaligus merasa iba dengan kondisi sopir angkot yang sepi penumpang.

"Enggak (pakai motor), khawatir naik motor. Dan melatih merakyat juga. Artinya menjiwai seperti apa sih," ungkap Bu Atun kepada Dedi Mulyadi, dikutip SURYA.co.id dari akun YouTube Kang Dedi Mulyadi Channel.

Dapat Hadiah Rp25 Juta, Tapi...

Tersentuh oleh dedikasi dan kesabaran Bu Atun, Dedi Mulyadi memberikan bantuan uang tunai sebesar Rp25 juta.

Namun, alih-alih menggunakannya untuk keperluan pribadi atau membeli kendaraan, Bu Atun justru membuat keputusan mengejutkan.

Ia memilih mendonasikan seluruh uang tersebut untuk yayasan anak yatim yang ia bina di depan kediamannya.

"Saya niatkan niat baik bapak menjadi ganda. Rp 25 juta akan saya sumbangkan kepada yayasan yatim yang saya bina. Karena saya punya yayasan yatim di depan saya," ujarnya dengan rendah hati.

Nasib Murid yang Mengejek Bu Atun

TIDAK TAHU - Guru Syamsiah mengaku tidak tahu jadi bahan ejekan murid-muridnya di kelas. Video ejekan itu viral di media sosial hingga mendapatkan kemarahan publik.
TIDAK TAHU - Guru Syamsiah mengaku tidak tahu jadi bahan ejekan murid-muridnya di kelas. Video ejekan itu viral di media sosial hingga mendapatkan kemarahan publik. (kolase Tribun Jabar)

Terkait nasib sembilan siswanya yang sempat berbuat tidak sopan, Bu Atun menegaskan telah memaafkan mereka secara tulus.

Baginya, sanksi yang diberikan sekolah adalah bagian dari proses mendidik, bukan karena rasa benci.

Ia berpesan agar pendidikan karakter tetap mengedepankan sisi kemanusiaan.

"Kalau itu memungkinkan menjadikan anak-anak menjadi lebih baik kenapa tidak? Enggak apa-apa Pak bagus, tapi kasih sayang kita tetap, perlakukan dia sebagaimana dia manusia. Menghukum itu bukan membenci, menghukum itu menyayangi," pungkas Bu Atun.

Baca juga: Bu Guru Syamsiah Mengaku Tidak Tahu saat Direkam dan Diejek Muridnya, Tetap Memaafkan

Sosok Syamsiah

Syamsiah, yang akrab disapa Bu Atun, dikenal sebagai seorang guru yang mengajar mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PKN) di SMAN 1 Purwakarta.

Ia telah mengabdikan dirinya dalam dunia pendidikan sejak tahun 2003, menjadikan pengajaran dan pembinaan karakter siswa sebagai bagian utama dari perjalanan profesionalnya.

Dalam kesehariannya, Syamsiah dikenal memiliki kepribadian yang sabar dan pemaaf. Ia tidak hanya berperan sebagai pengajar di kelas, tetapi juga sebagai pendidik yang berupaya menanamkan nilai-nilai moral dan membentuk karakter peserta didi

. Prinsip yang ia pegang teguh adalah bahwa pendidikan tidak hanya berfokus pada pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan akhlak dan perubahan perilaku menuju kebaikan.

Dalam menghadapi berbagai persoalan yang melibatkan siswa, Syamsiah memilih pendekatan pembinaan dibandingkan hukuman.

Ia lebih mengutamakan jalan memaafkan dan membimbing, daripada membawa persoalan ke ranah hukum.

Sikap ini lahir dari keyakinannya bahwa setiap anak memiliki potensi untuk berubah dan tidak sepatutnya diberi label buruk secara permanen atas kesalahan yang pernah dilakukan.

"Saya tidak akan pernah melapor. Mindset saya adalah ingin mengubah anak didik menjadi orang yang berakhlak tinggi," tegasnya.

"Yang salah tidak selamanya salah, yang nakal tidak selamanya nakal. Perubahan itu butuh proses," ujarnya dengan bijak.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.