SURYA.CO.ID SIDOARJO – Desa Jogosatru dulunya kerap dicap sebagai Desa Korak. Sejumlah pemuda di sana kemudian berusaha mereduksi tudingan miring terhadap desa yang berada di Kecamatan Sukodono, Sidoarjo tersebut melalui karya-karya kreatif mereka yang disebarkan lewat media sosial.
Ilyas salah satunya. Pemuda asal Jogosatru itu yang berhasil mengubah pandangan buruk atas desanya melalui sejumlah foto dan video yang diunggap lewat media sosialnya.
Konten-konten tentang warisan budaya, aktivitas UMKM, dan beberapa lainnya terus dipublikasinya.
“Pasar Legi misalnya, di sana kita bisa belanja makanan tradisional khas Sidoarjo yang sudah jarang dijumpai lagi. Konten itu saya unggah dan sempat viral,” kata Ilyas saat bercerita di hadapan ratusan pemuda lainnya.
Kemudian sejumlah konten lain, yang akhirnya berhasil mengubag image desa. Perlahan tapi pasti, apa yang dilakukan Ilyas dan teman-temannya membuahkan hasil.
Baca juga: Pemuda Kreatif Asal Desa Kedungkumpul Lamongan, Olah Tanaman Gulma Jadi Gelang
Desa Jogosatru viral. Banyak orang yang ingin tahu seperti apa keunikan Pasar Legi.
”Pasar ini buka dari Subuh sampai Duhur. Jumat legi ini, kitab bisa mampir ke sana,”lanjutnya berpromosi.
Hal serupa disampaikan beberapa pemuda lainnya. Anita, pemuda dari Desa Suko menceritakan sejumlah keunggulan desanya yang siap untuk dinarasikan dengan berbagai konten.
“Panjunan juga punya beberapa kelebihan. Kami berharap bisa mendapat pendampingan dari Kominfo maupun Forwas untuk bisa mengulik konten-konten kreatif dari desa kami,” ujar Fahmi, peserta dari Desa Panjunan.
Diskusi malam kemarin berlangsung gayeng. Temanya pun menarik. Kopilaborasi, Narasi Desa: Expose Potensi Lewat Cerita dan Karya. Penyelenggaranya adalah Forum Wartawan Sidoarjo (Forwas).
Baca juga: Seduhan Nikmat Kopi Mangrove, Inovasi Warga Pegerungan Besar, Sapeken Madura
Acara yang menggandeng Diskominfo dan Komisi B DPRD Sidoarjo itu pun menjadi ruang hangat bagi pemuda membedah strategi memajukan desa di tengah gempuran disrupsi teknologi.
Sekretaris Komisi B DPRD Sidoarjo Sullamul Hadi Nurmawan mengajak para pemuda desa utuk kreatif. Apapun harus diakukan agar desa menjadi buah perbincangan.
’’Asal tak melanggar syariat agama dan melanggar undang-undang negara, lakukan saja, “ kata Sullamul Hadi Nurmawan atau yang akrab disapa Mas Wawan itu.
Pemuda, lanjut dia, tak boleh berpangku tangan. Pemuda harus terbebas pikirannya untuk mengembangkan apa yang menarik di desa.
"Di Bandung, pemuda tanam hidroponik, diunggah online, langsung diorder restoran tanpa perantara. Omzetnya bisa Rp 20–30 juta. Di desa saya sendiri, kami menciptakan 'Pohon Jomblo' yang akhirnya masuk 50 foto terbaik se-Indonesia," tambah politisi PKB asal Sukodono tersebut.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kadiskominfo) Sidoarjo Eri Sudewo yang juga hadir di tengah para pemuda itu mengatakan bahwa pemuda desa harus bersiap secara digital.
Ia mengingatkan bahwa dalam 5 hingga 10 tahun ke depan, tenaga manusia akan banyak digantikan oleh Artificial Intelligence (AI).
"Industri mobil sudah pakai robot, taksi sudah ada yang tanpa sopir. Kita harus tingkatkan kompetensi diri agar tidak sekadar jadi penonton di negeri sendiri. Jangan hanya asyik main medsos dan game, tapi asahlah skill menghadapi disrupsi teknologi ini," kata Eri.
Dia memastikan Pemkab Sidoarjo tidak tinggal diam. Saat ini, hampir seluruh desa di Sukodono dan Sidoarjo telah difasilitasi internet gratis.
Ia juga mendorong pembentukan Kelompok Informasi Masyarakat (KIM).
Dalam pertemuan itu juga tercetus ide untuk menggelar lomba-lomba kreatif seperti penulisan cerpen (cerita pendek) atau pembuatan video profil desa rutin digelar untuk memantik perhatian publik terhadap keunikan local di Sidoarjo. Kominfo pun siap memfasilitasinya.