Nilai Tukar Rupiah Anjlok, Airlangga: Mata Uang Regional Juga Bergejolak
M Zulkodri April 23, 2026 10:22 PM

 

POSBELITUNG.CO--Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan hebat hingga menembus level psikologis Rp17.300 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (23/4/2026).

Pemerintah menilai pelemahan tersebut dipicu meningkatnya tekanan ekonomi global yang turut mengguncang mata uang di kawasan Asia.

Meski kondisi pasar masih bergejolak, pemerintah memastikan terus memantau perkembangan bersama Bank Indonesia guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Rupiah Tembus Level Terburuk

Berdasarkan perdagangan pasar spot, rupiah dibuka melemah di posisi Rp17.300 per dolar AS.

Hingga pukul 10.15 WIB, mata uang Garuda bahkan kembali tertekan ke level Rp17.303 per dolar AS atau melemah sekitar 0,71 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Pelemahan ini menjadi sorotan karena terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global, mulai dari tensi geopolitik hingga pergerakan pasar keuangan internasional yang belum stabil.

Airlangga: Mata Uang Regional Juga Bergejolak

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan tekanan terhadap rupiah bukan hanya dialami Indonesia.

Menurutnya, sejumlah mata uang di kawasan Asia juga mengalami fluktuasi akibat sentimen global.

“Ya kita monitor saja, karena berbagai mata uang di regional juga bergejolak. Penyebabnya kan kita lihat gejolak global juga, jadi kita monitor saja,” ujar Airlangga saat ditemui di Kantor BKPM, Jakarta, Kamis (23/4/2026).

Ia menegaskan pemerintah tidak ingin bersikap terlalu reaktif terhadap pergerakan harian kurs rupiah karena volatilitas pasar masih sangat dipengaruhi faktor eksternal.

Stabilitas Rupiah Jadi Tugas Bank Indonesia

Airlangga menambahkan, langkah menjaga stabilitas nilai tukar menjadi bagian dari kewenangan Bank Indonesia sebagai otoritas moneter.

Menurutnya, pemerintah tetap berkoordinasi dengan BI untuk memastikan gejolak pasar tidak berdampak lebih luas terhadap perekonomian nasional.

“Ini tidak bisa setiap hari kita reaktif. Itu tugas Bank Indonesia untuk menjaga dengan kebijakannya,” jelas Airlangga.

Pemerintah dan Bank Indonesia disebut terus mencermati dinamika pasar keuangan global, termasuk dampak ketegangan geopolitik internasional yang belakangan meningkatkan tekanan terhadap mata uang negara berkembang.

Tekanan Global Jadi Faktor Utama

Sejumlah analis menilai pelemahan rupiah dipicu meningkatnya arus keluar modal asing dari pasar negara berkembang menuju aset safe haven seperti dolar AS.

Selain itu, ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan kekhawatiran perlambatan ekonomi global turut memicu tekanan terhadap pasar keuangan Asia.

Di sisi lain, penguatan dolar AS juga terjadi setelah pelaku pasar memperkirakan suku bunga tinggi di Amerika Serikat masih akan bertahan lebih lama.

Kondisi tersebut membuat mata uang emerging market, termasuk rupiah, berada dalam tekanan cukup besar.

Pemerintah Pastikan Tetap Waspada

Meski rupiah tertekan, pemerintah memastikan kondisi fundamental ekonomi Indonesia masih relatif terjaga.

Koordinasi antara pemerintah dan Bank Indonesia akan terus dilakukan untuk menjaga stabilitas pasar keuangan sekaligus mengantisipasi dampak lanjutan terhadap inflasi dan sektor riil.

Pemerintah berharap volatilitas global dapat segera mereda sehingga tekanan terhadap rupiah tidak semakin dalam dalam beberapa waktu ke depan.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.