Erick Instruksikan Perketat Pengawasan Soal Rasisme, I.League Sosialisasi Ke Seluruh Level Kompetisi
Anak Agung Seri Kusniarti April 23, 2026 11:03 PM

TRIBUN-BALI.COM – Kendati memuji langkah perdamaian antara Fadly Alberto dan Rakha Nukholis, Ketum PSSI, Erick Thohir, menginstruksikan operator I.League dan Klub memperkuat sosial anti-rasisme secara konsisten supaya peristiwa serupa di Elite Pro Academy (EPA) tidak terjadi lagi. 

Persepakbolaan nasional beberapa waktu terakhir kembali menjadi sorotan oleh publik. Bukan karena prestasinya, namun karena peristiwa yang tidak bisa dibanggakan. 

Insiden memalukan baru-baru ini terjadi yang melibatkan pemain Fadly Alberto yang melakukan tendangan Kungfu saat Bhayangkara FC berhadapan dengan Dewa United dilanjutan EPA Super League 2025/2026. 

Dalam laga tersebut, Fadly Alberto diketahui menendang Rakha Nurkholis, sehingga ia terpental. Situasi itu membuat Alberto yang juga diketahui sebagai pemain Timnas U-19 Indonesia langsung menjadi sorotan karena melakukan tindakan tak terpuji.

Baca juga: Joao Ferrari Tangguh Bertahan Tajam Menyerang, Sudah Mengoleksi 4 Gol dan 2 Asis Musim Ini

Baca juga: BRAVO, Skor Persita Tanggerang 0 – 1 Bali United, Serdadu Tridatu Amankan Poin Penuh di Markas Lawan

Padahal sebagai pemain Timnas Indonesia khususnya masih berusia muda, seharusnya ia bisa menjadi contoh. Ternyata setelah ditelusuri, Fadly Alberto mengaku ia mendapat perlakuan rasisme, karena ada yang memanggilnya monyet.

Walaupun ia tak tahu siapa sebenarnya yang memanggilnya seperti itu, Alberto reflek melakukan tendangan tersebut karena emosi. Ia pun tak butuh waktu lama langsung meminta maaf dan mengakui kesalahannya setelah insiden tersebut.

Namun, situasi tersebut tetap menjadi sorotan, dan bahkan belum lama ini di Super League Ricky Kambuaya juga jadi sasaran rasisme.

Erick Thohir pun turun tangan setelah melihat situasi ini, dan ia dengan tegas mengatakan bahwa tidak dibenarkan segala bentuk ucapan, ungkapan, maupun perilaku rasisme dalam sepak bola nasional. 

Dalam kompetisi pembinaan dan juga profesional, setiap peristiwa yang mengandung unsur rasisme harus disikapi serius, tegas, dan bertanggung jawab oleh semua pihak, termasuk operator kompetisi dan para klub.

Erick Thohir menegaskan bahwa sepak bola usia muda tidak boleh hanya berfokus pada hasil pertandingan atau kemampuan teknis pemain. 

Menurutnya, pembinaan yang benar harus berjalan seiring dengan pembentukan karakter, pengendalian emosi, penghormatan kepada lawan, dan kepatuhan terhadap aturan pertandingan serta keputusan wasit.

“FIFA dan PSSI tidak membenarkan segala bentuk ucapan dan ungkapan rasisme di sepak bola. Baik di kancah internasional dan juga nasional. Sejak usia muda, pemain harus dibentuk dengan prinsip fair play, anti-rasisme, toleransi, disiplin, dan penghormatan kepada wasit.

Prestasi tidak cukup hanya dengan skill. Prestasi harus ditopang karakter dan watak yang baik,” ujar Erick Thohir dilansir dari BolaSport, Rabu (22/4).

Buntut kejadian itu, pria uang juga menjabat sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) tersebut meminta I.League sebagai operator EPA dan juga kompetisi Super League dan Championship, bersama klub-klub tak pernah berhenti dan terus menegakkan sikap saling menghargai dan empati antar pemain.

Erick Thohir meminta agar sosialisasi mengenai anti-rasisme, anti-kekerasan, toleransi, disiplin, kepatuhan terhadap aturan, dan penghormatan kepada wasit diperkuat secara konsisten di seluruh level EPA dan kompetisi profesional.

Selain itu, pengawasan pertandingan harus diperketat agar kompetisi pemain muda benar-benar menjadi ruang belajar yang sehat, aman, dan mendidik.

“Kompetisi usia muda harus menjadi wadah tumbuhnya pemain yang lebih dewasa, matang, dan berkemampuan mumpuni. Karena itu, operator, klub, ofisial, dan seluruh pemangku kepentingan harus memastikan pembinaan karakter berjalan sekuat pembinaan teknik,” jelas Erick Thohir.

Lebih lanjut, Erick menghargai usaha Bhayangkara FC dan Dewa United yang mempertemukan kedua pemain agar berdamai. Untuk itu, Fadly Alberto dan Rakha Nurkholis pun telah berdamai. 

Setelah keduanya berdamai itu, Erick berharap semua pihak bisa mengambil pelajaran berharga dari ini. Ia bahkan menyinggung soal pancasila bahwa kita berbeda-bdea tetap tetap satu. Oleh karena itu, ia berharap situasi seperti ini tak akan terulang ke depannya.

“Saya apresiasi karena kedua klub tetap menomorsatukan persatuan dan kesatuan sesuai dengan prinsip-prinsip ajaran Pancasila, bahwa meskipun kita berbeda-beda daerah, tapi kita semua ini berjuang bersama demi Indonesia. Ini harus menjadi pelajaran bagi pemain,” tuturnya. (BolaSport)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.