TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Pabrik Rokok HS di Kabupaten Magelang hadir membawa angin segar bagi penyandang disabilitas. Tak sekadar membuka lowongan, perusahaan ini menunjukkan komitmen nyata dalam membangun lingkungan kerja yang inklusif, setara, dan berkelanjutan.
Langkah tersebut bukan sekadar wacana. Hingga April 2026, sekitar 70 penyandang disabilitas telah bergabung sebagai bagian dari total 3.500 karyawan.
Jumlah itu ditargetkan terus bertambah hingga memenuhi kuota awal sekitar 200 pekerja.
“Untuk saat ini jumlah karyawan disabilitas sekitar 70 orang, dan kami masih membuka peluang hingga kuota terpenuhi,” ujar Staf SKT Pabrik Rokok HS, Muhammad Hanafi, Kamis (23/4/2026).
Hanafi menjelaskan dalam tahap awal, perusahaan memprioritaskan perekrutan bagi penyandang tuna rungu dan tuna wicara. Hal ini disesuaikan dengan kesiapan fasilitas pendukung yang telah tersedia. Sementara itu, pengembangan sarana bagi disabilitas fisik masih terus dilakukan.
"Kami menerapkan sistem rekrutmen yang lebih humanis dengan tidak mensyaratkan pengalaman kerja. Semua calon karyawan, baik disabilitas maupun non-disabilitas, akan mendapatkan pelatihan terlebih dahulu sebelum mulai bekerja," Imbuhnya.
Komitmen kesetaraan juga tercermin dalam sistem pengupahan. Perusahaan memastikan tidak ada perbedaan perlakuan antara karyawan disabilitas dan non-disabilitas.
“Upah diberikan sama rata sesuai kebijakan manajemen, tanpa membedakan kondisi karyawan,” ujarnya.
Selain gaji, lanjut Hanafi, berbagai fasilitas penunjang juga disiapkan. Mulai dari makan dan minum gratis saat jam istirahat, layanan kesehatan melalui klinik dengan tenaga medis bersertifikat, hingga fasilitas umum seperti tempat ibadah dan kamar mandi. Bahkan, untuk menjawab kebutuhan pekerja dari luar daerah, perusahaan tengah merencanakan pembangunan mess karyawan.
“Banyak pelamar dari luar daerah seperti Boyolali dan Purworejo, sehingga kami siapkan rencana pembangunan mess,” jelas Hanafi.
Bagi para pekerja disabilitas, kebijakan ini bukan hanya membuka peluang ekonomi, tetapi juga menghadirkan harapan baru.
Tika (35), salah satu karyawan disabilitas, mengaku sempat mengalami sulitnya mencari pekerjaan. Berkali-kali melamar, namun selalu gagal. Kini, ia bekerja sebagai karyawan linting di Pabrik Rokok HS dan merasakan perubahan besar dalam hidupnya.
“Dulu sulit sekali cari kerja. Sudah melamar ke banyak tempat, tapi selalu gagal. Tapi alhamdulillah di HS kami diterima dan bisa bekerja,” ungkapnya.
Lebih dari sekadar pekerjaan, Tika merasakan penghargaan yang selama ini sulit ia dapatkan.
“Di sini saya merasa dihargai. Tidak dibedakan. Semua diperlakukan sama,” katanya dengan mata berbinar.
Hal senada disampaikan Tenyria Swastika, karyawan disabilitas lainnya. Ia mengaku terbantu dengan fasilitas mess yang disediakan perusahaan, sehingga dapat bekerja dengan lebih tenang.
“Semoga HS semakin jaya sehingga semakin banyak kawan-kawan disabilitas yang diterima bekerja. Maturnuwun atas kesempatan dan fasilitas mess yang diberikan pada kami,” ujarnya.