Bantah Klaim Trump, Presiden Masoud Pezeshkian Tegaskan Tak Ada Konflik Internal di Iran
Bobby Wiratama April 24, 2026 04:38 PM

TRIBUNNEWS.COM - Presiden Iran Masoud Pezeshkian membantah klaim Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tentang perpecahan internal di Iran.

Permusuhan regional telah meningkat sejak AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari, yang menewaskan dan melukai ribuan orang.

Teheran melancarkan serangan balasan terhadap Israel dan negara-negara regional yang menampung aset militer AS serta membatasi jalur melalui Selat Hormuz.

Masoud Pezeshkian menekankan bahwa terdapat “persatuan yang kokoh seperti baja antara rakyat dan negara.”

Presiden Iran pun bersumpah bahwa Teheran akan membuat "pihak agresor menyesali perbuatannya."

“Satu Tuhan, satu bangsa, satu pemimpin, dan satu jalan, jalan kemenangan Iran tercinta," tegas dia.

Klaim Trump

Trump mengklaim dalam sebuah unggahan di Truth Social bahwa Teheran sedang mengalami konflik internal yang hebat antara kelompok garis keras, yang menurutnya "kalah telak di medan perang," dan kelompok moderat, yang "tidak terlalu moderat" tetapi "mendapatkan rasa hormat."

"Iran sedang mengalami kesulitan besar dalam menentukan siapa pemimpin mereka," klaimnya, Kamis.

Trump menegaskan, Washington mempertahankan "kendali penuh" atas Selat Hormuz, dan bahwa tidak ada kapal yang dapat melintasinya tanpa persetujuan Angkatan Laut AS.

Dia menggambarkan selat itu sebagai "tertutup rapat" sampai Iran "mampu membuat kesepakatan."

Baca juga: Blokade Pelabuhan Iran Masih Berlangsung, Pasukan AS Perintahkan 33 Kapal Balik Arah

Di sisi lain, seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan klaim Trump tentang keretakan kepemimpinan adalah sebuah "pengalihan perhatian."

Pejabat Iran lainnya mengatakan di media sosial bahwa negara itu bersatu.

Saat berbicara kepada wartawan di Gedung Putih, Trump menolak pertanyaan tentang konflik yang melampaui jangka waktu empat hingga enam minggu yang sebelumnya telah ia dan para pembantunya tetapkan untuk perang tersebut.

“Saya tidak ingin terburu-buru,” kata Trump, menambahkan bahwa AS “mengalahkan negara itu” secara militer dalam empat minggu pertama.

“Sekarang yang kita lakukan hanyalah duduk santai dan melihat kesepakatan apa yang bisa dibuat.” “Dan jika mereka tidak mau membuat kesepakatan, maka saya akan menyelesaikannya secara militer,” kata Trump.

Trump mengatakan bahwa dia tidak akan menggunakan senjata nuklir terhadap Iran.

PIDATO TRUMP - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump memberikan pidato perdananya soal perang di Iran pada Rabu (1/4/2026) malam waktu setempat.
PIDATO TRUMP - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump memberikan pidato perdananya soal perang di Iran pada Rabu (1/4/2026) malam waktu setempat. (YouTube Associated Press)

Perintah Trump ke Militer AS

Donald Trump telah memerintahkan militer AS untuk "menembak dan membunuh" kapal-kapal kecil Iran yang memasang ranjau di Selat Hormuz.

Trump mengumumkan langkah tersebut pada Kamis, sehari setelah Iran kembali menunjukkan kemampuannya untuk menggagalkan lalu lintas melalui selat tersebut.

Trump juga mengumumkan bahwa gencatan senjata di Lebanon akan diperpanjang selama tiga minggu.

Unggahannya di media sosial pada Kamis tentang perahu-perahu kecil itu muncul tak lama setelah militer AS menyita kapal tanker lain yang terkait dengan penyelundupan minyak Iran, yang meningkatkan ketegangan dengan Teheran atas selat tempat 20 persen dari seluruh minyak mentah dan gas alam melewati selama masa damai.

“Saya telah memerintahkan Angkatan Laut Amerika Serikat untuk menembak dan menghancurkan kapal apa pun, sekecil apa pun itu, yang memasang ranjau di perairan Selat Hormuz,” ungkap Trump, menambahkan bahwa kapal penyapu ranjau AS “sedang membersihkan Selat saat ini.”

“Dengan ini saya memerintahkan agar kegiatan tersebut dilanjutkan, tetapi dengan intensitas tiga kali lipat,” tambahnya.

Baca juga: Kapal Induk USS George HW Bush Tiba di Timur Tengah, Dek Kapal Dipenuhi Pesawat Tempur

Keputusan untuk memperpanjang jeda pertempuran antara Israel dan kelompok militan Hizbullah di Lebanon diambil dalam pertemuan di Gedung Putih antara duta besar Israel dan Lebanon untuk Amerika Serikat.

Sementara itu, masih belum jelas kapan, atau apakah, AS dan Iran akan bertemu lagi di ibu kota Pakistan, Islamabad, tempat para mediator berupaya mempertemukan kedua negara untuk mencapai kesepakatan diplomatik yang mengakhiri konflik tersebut.

Negosiasi yang awalnya direncanakan minggu ini belum terjadi.

Iran bersikeras tidak akan hadir sampai AS mengakhiri blokade terhadap pelabuhan dan kapal Iran.

Gedung Putih juga bersikeras tidak akan ikut serta sampai Teheran membuka selat tersebut untuk lalu lintas internasional.

(Tribunnews.com/Nuryanti)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.