Kemarau Panjang Mengintai, Sumsel Siapkan Strategi Cegah Karhutla, Herman Deru Sebut Jadi Alarm Dini
pairat April 25, 2026 11:27 AM

 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG  - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Sumatera Selatan (Sumsel) memprediksi, musim kemarau di tahun 2026 akan lebih awal, kering dan panjang dibandingkan tahun sebelumnya.

Untuk itu Gubernur Sumsel Herman Deru menegaskan bahwa prediksi musim kemarau kering harus dijadikan sebagai alarm dini untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran hutan, kebun, dan lahan (karhutbunla) di Sumatera Selatan pada 2026.

Hal tersebut disampaikannya saat membuka Rapat Koordinasi Pengendalian Karhutbunla di Auditorium Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, Jumat (24/4/2026).

Menurut Deru, informasi dari BMKG harus dimaknai sebagai dasar dalam menyusun strategi pencegahan, bukan sebagai hal yang menakutkan.

Ia menilai kesamaan persepsi antar pemangku kepentingan menjadi kunci agar penanganan karhutla lebih efektif dan terarah.

Ia menegaskan, karhutla merupakan persoalan serius yang berdampak luas, terutama terhadap kesehatan masyarakat. Pengalaman Sumatera Selatan yang pernah mengalami Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di atas ambang batas dalam waktu lama menjadi pelajaran penting untuk meningkatkan kewaspadaan.

Pemerintah, lanjutnya, perlu menyediakan informasi kualitas udara secara terbuka agar masyarakat dapat mengambil langkah perlindungan, seperti menggunakan masker saat kondisi udara memburuk.

“Karhutla ini kita hadapi setiap tahun. Konsepnya bisa berbeda, tetapi tujuannya sama, yaitu pencegahan. Karena itu, kesamaan persepsi menjadi sangat penting,” ujarnya.

Herman Deru juga mengapresiasi Satgas Karhutla, Forkopimda, pemerintah daerah, serta pihak perusahaan atas komitmen dalam penanganan karhutla.

Ia menekankan bahwa periode kemarau yang diprediksi mulai Mei hingga puncaknya pada Agustus harus dimanfaatkan untuk memetakan wilayah rawan serta meningkatkan kesiapsiagaan sejak dini.

Ia berharap pencegahan karhutla tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga menjadi kesadaran kolektif masyarakat.

Sementara itu, Koordinator BMKG Provinsi Sumatera Selatan, Wandayantolis mengungkapkan bahwa musim kemarau tahun ini diprediksi datang lebih awal dengan intensitas kekeringan yang lebih tinggi.

“Mulai Mei kita sudah memasuki musim kemarau, dengan puncak yang sangat kering dan curah hujan di bawah normal,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) pada semester kedua akan memperparah kondisi tersebut, karena uap air cenderung bergerak ke arah Samudera Hindia dan Afrika.

“Saat ini masih puncak musim hujan, namun dalam waktu dekat kita akan memasuki musim kemarau dengan peningkatan suhu udara,” ujarnya.

Menurutnya, hingga September curah hujan diperkirakan tetap berada pada kategori rendah.

Sementara itu, Danrem 044/Gapo Brigjen TNI Khabib Mahfud selaku Danops Karhutbunla Wilayah Sumsel menambahkan bahwa sejumlah wilayah kabupaten di Sumatera Selatan tergolong rawan karhutla, sebagaimana terlihat dari peningkatan hotspot pada 2023 akibat El Nino.

“Saat ini, Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan telah menetapkan status siaga darurat melalui Keputusan Gubernur tertanggal 22 April 2026,” katanya.

Ia menjelaskan, strategi penanganan karhutla dilakukan melalui tiga tahapan, yakni mitigasi, penindakan, dan pemulihan. Mitigasi meliputi patroli terpadu, sosialisasi, dan pengaktifan posko desa.

Penindakan mencakup kesiapan pemadaman darat dan udara, termasuk water bombing. Sementara itu, pemulihan difokuskan pada rehabilitasi lahan dan pemulihan ekosistem.

Melalui rapat koordinasi ini, seluruh pihak diharapkan dapat mengidentifikasi permasalahan di wilayah masing-masing serta menyusun langkah konkret dalam pencegahan karhutla secara terpadu dan berkelanjutan.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.