Dari tiga jenis oleh-oleh khas Banjarmasin yang saya bawa, Odi, Tarissa, dan Mutiara sepakat memilih Hiyuco: cokelat hitam pedas. Ketiganya seolah ingin "uji nyali", menjajal seberapa jauh cokelat bisa berubah dari sesuatu yang manis menjadi sesuatu yang menantang lidah.
Kepingan cokelat hitam Hiyuco dipatahkan menjadi tiga. Di permukaannya tampak motif Pulau Kalimantan dengan tulisan "Borneo Island", memberi kesan lokal yang kuat bahkan sebelum gigitan pertama. Awalnya berjalan tenang: rasa manis pahit cokelat hitam terasa halus, seperti cokelat premium pada umumnya.
Namun hanya beberapa detik kemudian, situasi berubah drastis. Odi, Tarissa, dan Mutiara hampir bersamaan tersentak. Mata mereka berkaca-kaca, wajah memerah, dan ekspresi santai berubah menjadi panik akibat sensasi panas di lidah. "Minum, minum, minum..." seru mereka hampir serempak, sambil refleks meraih tumbler masing-masing.
Hiyuco merupakan cokelat olahan kreasi usaha rumahan ABBA Cokelat di Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Produk ini lahir dari tangan Bobby Bahrul dan sang istri, Rahma. Keduanya membangun usaha dari kesamaan sederhana-hobi makan cokelat-yang kemudian berkembang menjadi inovasi rasa yang unik.
Pedas dan cokelat biasanya berada di dua kutub yang berbeda. Namun ABBA Cokelat justru menjadikannya satu pengalaman rasa yang utuh.
Bobby, pemilik gerai ABBA Cokelat Hiyuco yang dulunya merupakan insinyur elektronika lulusan Universitas Indonesia. Foto: Detikcom / Sudrajat
|
Bobby merupakan insinyur elektronika lulusan Universitas Indonesia. Ia pernah bekerja di tambang emas milik perusahaan Australia dan Afrika Selatan di Kalimantan Timur sejak 1998. Setahun kemudian ia menikah dengan Rahma, perempuan Banjar. Namun ritme kerja di lokasi terpencil-yang membuatnya hanya bisa turun dari area tambang setiap enam pekan-menyebabkan banyak momen awal pernikahan terasa terlewat. Pada 2001 ia memutuskan berhenti bekerja setelah merasa cukup secara finansial.
Ia sempat mencoba berbagai usaha, dari bidang digital hingga keramik. Pada 2008, Rahma juga berhenti dari pekerjaannya di industri makanan (Indofood). Dari kebiasaan sederhana yang sama-menyukai cokelat-keduanya kemudian merintis ABBA Cokelat. Mereka memilih jalur berbeda: bukan produksi massal, melainkan cokelat custom, sehingga pelanggan bisa memilih jenis cokelat, varian rasa, hingga kemasan.
"Saingan utama kami kan industri besar, pasti kalah kalau ikut ceruk yang sama. Mereka lebih murah. Jadi kami pilih yang custom," kata Bobby saat ditemui para wartawan peserta Fellowship Journalism BRI, Selasa (21/4/2026).
Meski bahan baku harus didatangkan dari Jawa dan sempat membuat biaya produksi tinggi, mereka melihat peluang di Kalimantan Selatan yang belum terlalu padat pesaing. Rahma fokus pada produksi, Bobby pada pemasaran, dan perlahan usaha ini tumbuh.
Hasilnya cukup membanggakan. Pada 2014, ABBA Cokelat meraih juara nasional dari Kementerian Pertanian untuk kategori produk berdaya saing. Pada tahun-tahun berikutnya, inovasi mereka kembali mendapat pengakuan di berbagai ajang kreatif nasional. Hingga pada 2025, varian cokelat pedas mereka kembali mencuri perhatian dalam festival kuliner Kalimantan Selatan.
Insipirasi cokelat ini datang dari cabai Hiyung di rawa-rawa Tapin, kalimantan Selatan. Foto: Detikcom / Sudrajat
|
Inspirasi paling khas datang dari cabai Hiyung di rawa-rawa Tapin, Kalimantan Selatan-cabai lokal yang dikenal memiliki tingkat kepedasan tinggi. Dari sini lahirlah Hiyuco, cokelat hitam dengan sentuhan pedas yang sengaja diciptakan untuk menghadirkan kejutan rasa.
"Ini tantangan untuk pecinta pedas," kata Bobby. "Manis cokelatnya bertemu pedas, jadi pengalaman yang tidak terlupakan."
Adapun nama ABBA sendiri kerap disangka terinspirasi dari grup musik legendaris Swedia. Namun Bobby meluruskan dengan santai, "Itu inisial nama saya dan istri, biar so sweet." A berasal dari Rahma, sementara B dari Bobby Bahrul.







