TRIBUNNEWSMAKER.COM - Isu soal anggaran pendidikan kembali menjadi perbincangan hangat di media sosial.
Kali ini, beredar kabar yang menyebut dana pendidikan dialihkan untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menanggapi hal tersebut, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, angkat bicara.
Ia dengan tegas membantah informasi yang dinilai tidak berdasar tersebut.
Menurutnya, kabar yang beredar di media sosial sama sekali tidak memiliki fakta maupun data yang valid.
"Kalau ada yang mengatakan di berbagai medsos bahwa anggaran pendidikan dikurangi untuk MBG adalah pernyataan yang tidak ada fakta dan datanya," ujar Mu'ti di Banyumas, Jawa Tengah, Sabtu (25/4/2026).
Baca juga: Sosok Hendrikus Atlet MMA Tusuk Nus Kei hingga Tewas di Bandara, Sempat Bahas Soal Pembunuh: Brutal
Mu'ti memastikan bahwa program MBG tetap berjalan tanpa mengganggu alokasi dana pendidikan.
Bahkan, ia menyebut anggaran untuk sektor pendidikan justru mengalami peningkatan.
"Justru MBG tetap berjalan dan alokasi dana untuk Mendikdasmen juga semakin ditingkatkan," kata dia.
Tak hanya itu, ia juga menepis anggapan yang menyebut program MBG tidak berkaitan dengan dunia pendidikan.
Menurutnya, program tersebut justru memiliki peran penting dalam mendukung kualitas belajar siswa.
Dengan klarifikasi ini, pemerintah berharap masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum tentu kebenarannya, terutama yang beredar luas di media sosial.
Mu'ti menjelaskan, program MBG selaras dengan penguatan pendidikan karakter melalui tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat.
Kebiasaan tersebut meliputi bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat, gemar belajar, bermasyarakat, dan tidur cepat.
"Program kami bisa berjalan karena ada MBG," ujar Mu'ti.
Ia menambahkan, mayoritas penerima MBG merupakan siswa sekolah.
Baca juga: Pernyataan Mengejutkan Pengacara, Nadiem Dipaksa Hadiri Sidang Meski Sakit, Jaksa Tegas Membantah
Hingga Maret 2026, sekitar 93 persen anak sekolah di Indonesia telah menerima manfaat MBG.
Selain itu, pemerintah juga meningkatkan berbagai program bantuan pendidikan.
Penerima Program Indonesia Pintar (PIP) bertambah dari 19 juta pada 2025 menjadi 19,6 juta pada 2026.
Siswa taman kanak-kanak juga mulai menerima PIP sebesar Rp 450.000 untuk 888.000 penerima.
Mu'ti mengatakan, pemerintah juga meningkatkan kesejahteraan guru honorer.
Insentif yang sebelumnya Rp 300.000 naik menjadi Rp 400.000 dan ditransfer langsung ke rekening penerima.
Selain itu, pemerintah mengalokasikan Rp 14 triliun untuk revitalisasi sekolah dan mengusulkan tambahan lebih dari Rp 76 triliun.
"Murid SD kelas 1 dan 2 nanti juga ada bantuan alat tulis," kata Mu'ti.
(Tribunnewsmaker.com/Kompas.com)