TRIBUNPEKANBARU.COM, DUMAI – Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq memimpin apel kesiapsiagaan penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Provinsi Riau 2026.
Kegiatan Apel kesiapsiagaan penanganan Kebakaran Karhutla Provinsi Riau 2026 pada Minggu (26/4/2026) tersebut dipusatkan di Lapangan Bapor Komplek Pertamina Bukit Datuk Pertamina Patra Niaga Kilang Dumai.
Terlihat hadir dalam apel tersebut, Wakil Wali Kota Dumai Sugiyarto, GM PT Pertamina Patra Niaga RU II Dumai Iwan Kurniawan, dan unsur Forkopimda Provinsi Riau dan daerah.
Pada apel tersebut, Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq melakukan pengecekan pasukan sekaligus melihat peralatan pemadaman karhutla.
Hanif mengungkapkan pentingnya langkah pencegahan dan sinergi lintas sektor dalam menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tahun 2026.
Ia menambahkan pengendalian karhutla merupakan bagian penting dari komitmen Indonesia menurunkan emisi sebesar 31,89 persen pada 2030 menuju target Net Zero Emission 2060.
Dirinya menekankan bahwa pencegahan harus menjadi prioritas utama, mengingat dampak karhutla tidak hanya merusak lingkungan dan keanekaragaman hayati, tetapi juga menimbulkan gangguan kesehatan dan kerugian ekonomi hingga triliunan rupiah.
Berdasarkan prediksi BMKG, tambah Hanif, musim kemarau 2026 akan dipengaruhi fenomena El Nino lemah hingga moderat dengan peluang 50–80 persen, yang berpotensi menyebabkan kondisi lebih kering dan panjang.
"Puncak kemarau diperkirakan terjadi mulai Juli 2026, dengan wilayah rawan seperti Riau dan Kalimantan Barat sudah mulai mengalami musim kering lebih awal sejak April," imbuhnya
Dijelaskanya data menunjukkan kondisi karhutla di Riau mengalami peningkatan signifikan, hingga 23 April 2026, tercatat 840 titik panas, dengan 318 di antaranya berstatus kepercayaan tinggi dan meningkat enam kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun 2025.
Sementara, Terangnya, luas lahan terbakar hingga 31 Maret 2026 mencapai 8.555,37 hektare, atau naik 20 kali lipat dibanding tahun sebelumnya, menjadikan Riau sebagai wilayah dengan tingkat karhutla tertinggi kedua secara nasional.
Menghadapi kondisi tersebut, Hanif menegaskan perlunya kesiapsiagaan penuh melalui patroli terpadu, pemanfaatan teknologi pemantauan hotspot, pengelolaan lahan gambut, serta kolaborasi aktif antara pemerintah, TNI-Polri, swasta, dan masyarakat.
"Tidak ada toleransi terhadap praktik pembakaran lahan, dengan ancaman penegakan hukum tegas hingga evaluasi perizinan bagi pelaku pelanggaran," tegasnya
Dirinya mengaku apel siaga ini menjadi peringatan dini agar seluruh pihak meningkatkan kewaspadaan dan kesiapan menghadapi potensi karhutla, sekaligus memastikan Provinsi Riau tidak kembali dilanda bencana kabut asap seperti tahun-tahun sebelumnya.
"Mari bersama bergandengan tangan, Kita siap hadapi fenomena El Nino dengan penuh perhitungan, dengan meningkatkan langkah pencegahan dan siap untuk melakukan penanggulangan," imbuhnya
Hanif mengaku bahwa pemerintah pusat siap membantu pemerintah daerah khususnya Riau, jika membutuhkan pertolongan baik dari pencegahan maupun penanggulangan.
Sementara Wakil Wali Kota Dumai Sugiyarto mengungkapkan, bahwa Karhutla di Dumai saat ini nihil.
"Alhamdulillah titik api di kota Dumai tidak ada, namun Kami tetap waspada dan patroli ke daerah rawan Karhutla," sebutnya
Sugiyarto mengungkapkan, luasan lahan yang terbakar akibat peristiwa Karhutla selama 2026 kurang lebih mencapai 372 hektare (Ha).
Ia menambahkan, 372 hektare Luasan yang terbakar di Kota Dumai, masih kecamatan Medang Kampai yang terluas lahannya terbakar, yakni mencapai 196,5 Ha.
Dijelaskanya dari total total 372 hektare lahan yang terbakar, Kecamatan Medang Kampai menyumbang sekitar 196,5 hektar, dan itu berada di Kelurahaan Mundam seluas 164 hektare dan Teluk Makmur 27 Hektare, serta Pelintung sebanyak 5 Ha.
Dirinya menerangkan, selain kecamatan Medang Kampai Karhutla juga menghanguskan lahan di Kecamatan Dumai Timur sekitar 126 hektare dan Kecamatan Sungai Sembilan 18 Ha dan Dumai Barat 11 Hektar, serta Dumai Selatan 3,6 Hektare.
Ia mengatakan saat ini tim Satgas Karhutla Kota Dumai, juga tetap fokus Patroli Karhutla dan melakukan langkah langkah antisipasi terjadinya Karhutla.
Diakuinya, untuk kendala dilapangan yang ditemui, sebelumnya, yakni selain kondisi cuaca panas, dan lahan gambut serta angin kencang, menyulitkan tim untuk melakukan pemadaman dan pendinginan.
Dirinya menyebutkan kondisi lahan gambut memang membuat lahan mudah terbakar, karena sore api sudah berhasil dipadam, namun saat malam api kembali menjalar sehingga saat pagi luas lahan terbakar semakin luas, ditambah angin kencang.
Selain itu, tambahnya, kepada Camat dan Lurah se-Kota Dumai beserta seluruh jajarannya agar proaktif menjaga lingkungan dan melaporkan jika ada hotspot/titik api kepada Posko Siaga Darurat Kebakaran Hutan dan Lahan BPBD Kota Dumai agar dilakukan tindakan cepat pencegahan dan pemadaman.
"Penanganan Karhutla merupakan tugas kita semua, mulai dari masyarakat hingga kepala daerah, untuk itu Kerjasama yang baik akan meringankan penaganagan Karhutla di Dumai, mari bersama sama bergandengan tangan," pungkasnya.
Tribunpekanbaru.com/donny kusuma putra