Tak Sekadar Bungkus, Ini Alasan Kemasan Makanan Jepang Mendunia
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Industri pengemasan makanan di Jepang telah mengalami transformasi signifikan dalam beberapa dekade terakhir.
Tak lagi sekadar berfungsi sebagai pelindung produk, kemasan kini menjadi bagian integral dari strategi pemasaran sekaligus pengalaman konsumen.
Pakar kuliner dari Tsuji Culinary Institute, Jepang, Prof Kubo Yoshihiro, mengatakan bahwa Jepang dikenal sebagai salah satu negara dengan standar tinggi dalam inovasi packaging.
“Hal ini mencakup penggunaan material ramah lingkungan, desain minimalis, serta teknologi pengemasan yang mampu memperpanjang umur simpan produk tanpa mengurangi kualitas rasa,” ujarnya dalam public lecture bertajuk Deep Dive into Japan’s Food Industry: Innovation in Packaging & Career Paths for Foreign Talents yang digelar secara daring belum lama ini.
Kuliah umum yang diselenggarakan Universitas LIA melalui Japan Center UL-KUIS (University of LIA–Kanda University of International Studies) tersebut bertujuan membekali mahasiswa dan masyarakat umum dengan pemahaman mengenai sejarah industri pangan di Jepang serta strategi membangun karier internasional.
Dalam paparannya bertajuk Globalization and Localization in Japan Food Packaging, Kubo menekankan bahwa pelaku industri harus mampu membaca tren global tanpa kehilangan identitas lokal.
Ia mencontohkan, produk makanan Jepang yang diekspor ke pasar internasional tetap mempertahankan elemen budaya, seperti motif tradisional atau teknik pembungkusan khas.
Namun, produk tersebut tetap disesuaikan dengan preferensi konsumen global, terutama dalam hal kepraktisan dan keberlanjutan.
“Produk tersebut tetap disesuaikan dengan preferensi konsumen global, terutama dalam hal kepraktisan dan keberlanjutan,” katanya.
Kubo juga menilai bahwa inovasi desain kemasan menjadi salah satu kunci dalam memenangkan persaingan di pasar internasional yang semakin kompetitif.
Baca juga: Bikers Suami-Istri Touring Keliling Indonesia Timur dari Larantuka, Promosikan Kuliner Lokal
“Masa depan industri pangan ada pada harmoni antara inovasi teknologi dan penghormatan terhadap akar budaya lokal. Kita harus mampu memadukan efisiensi modern dengan nilai-nilai tradisi untuk menciptakan kolaborasi global yang saling menghormati dan membawa perdamaian bagi dunia,” ujarnya.
Sementara itu, Fazrina Aulia, Business Analyst dari Indonesia Soken, memaparkan bisnis industri makanan Jepang, mulai dari strategi bisnis hingga peluang karier di sektor tersebut.
Terkait kegiatan ini, Rektor Universitas LIA, Assoc. Prof. Dr. Siti Yulidhar Harunasari, M.Pd., mengatakan, ini merupakan langkah strategis memastikan mahasiswa memiliki daya saing global yang relevan dengan kebutuhan industri saat ini.
Selain pemaparan materi, kegiatan ini juga diisi dengan penandatanganan kerja sama antara Universitas LIA dan KAMIJI (Komunitas Alumni Magang dan Industri Jepang Indonesia) sehingga para pekerja Indonesia yang telah kembali dari Jepang diharapkan dapat melanjutkan studi sehingga memiliki peluang kerja yang lebih baik, baik di dalam negeri maupun saat kembali ke Jepang.
“Melalui kegiatan ini, kami berkomitmen membuka akses seluas-luasnya bagi talenta lokal agar dapat berkarier secara profesional di Jepang,” ujarnya.
Kehadiran peserta dari kalangan mahasiswa dan masyarakat umum menunjukkan tingginya antusiasme terhadap sektor industri pangan serta peluang bekerja di luar negeri.