Teropong: Pengkhianat
Abdul Azis Alimuddin April 27, 2026 01:21 AM

Abdul Gafar
Pendidik di Departemem Ilmu Komunikasi Unhas Makassar

TRIBUN-TIMUR.COM - Keretakan atau kehancuran dapat terjadi dalam persaudaraan, persahabatan, keluarga, kelompok, bahkan negara karena pengkhianatan.

Hal ini terjadi mungkin karena disebabkan hilangnya kepercayaan di antara mereka.

Manusia mudah berubah-ubah karena ‘sesuatu’ hal yang dirasakan.

Boleh jadi perasaan itu masuk di akal, di luar akal atau akal-akalan saja.

Negeri ini memiliki banyak orang yang memanfatkan akalnya dalam bertindak.

Dengan kecerdikan akalnya semua urusan diselesaikan dengan penuh perhitungan.

Ilmu matematika dalam pembagian, perkalian, pertambahan, dan pengurangan di luar kepalanya tanpa menggunakan kalkulator.

Negeri kita menyatakan kemerdekaannya akan memasuki tahun ke-81.

Kalau diibaratkan umur manusia menurut WHO sudah masuk kategori lansia tua (75-89).

Tentunya pengalaman baik, buruk, menyenangkan, dan menyusahkan telah terlewati.

Kata orang: sudah kenyang dengan makan asam-garam kehidupan.

Setiap periode kepresidenan ada zamannya, ada masanya.

Ketika kita membicarakan tentang korupsi tetap menarik perhatian.

Era Soekarno: Upaya pemberantasan korupsi dimulai dengan pembentukan lembaga pengawasan, namun situasi politik tidak stabil.

Era Soeharto: Dikenal korupsi terpusat dan KKN berkembang masif.

Era Reformasi (Habibie-Megawati): Awal berdirinya KPKPN, KPPU, dan Ombudsman.

Era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY): Pemberantasan korupsi gencar dilakukan KPK dengan menangkap banyak pejabat tinggi, namun korupsi tetap merajalela.

Era Joko Widodo (Jokowi): Banyak menteri tersandung korupsi, revisi UU KPK 2019 yang dinilai melemahkan agenda pemberantasan korupsi, serta kasus besar seperti Jiwasraya dan Timah.

Kini di era Prabowo Subianto: Menekankan mawas diri pada penegak hukum (Kejaksaan Agung)
akibat temuan integritas bermasalah.

Tampaknya korupsi tetap saja terjadi dengan berani.

Sanksi hukumnya loyo.

Koruptor identik dengan pengkhianat.

Mereka -yang pejabat- telah berani mengkhianati janji dan sumpahnya ketika pelantikan.

Bahkan lebih jauh dari itu dapat juga digelari sebagai munafik.

Lain yang dikatakan lain pula yang dilakukan.

Orang Makassar mengatakan: “Tau panrak panggaukkanna”, orang yang rusak perbuatannya.

Suatu ketika penulis bertanya pada putri sulung -Khadijah Gafar- murid kelas 4 SD Inpres Baraya 1 Makassar tentang apa itu pengkhianat?

Ia mengatakan bahwa “pengkhianat adalah orang yang dulunya teman, kini memusuhi kita”, ujarnya dengan wajah serius.

Bahkan ia menambahkan bahwa “pengkhianat itu juga termasuk munafik ya Pak?”

Pikiran jernih anak kecil.

Kita memiliki banyak stok pengkhianat.

Sebarannya ada di mana-mana.

Mulai dari pemimpin tertinggi hingga level terbawah.

Kebohongan-kebohongan yang terpelihara secara terstruktur.

Membela kebohongan agar terlihat sebagai sebuah kebenaran.

Mereka yang tergolong diberi amanah sebagai pemimpin tidak lagi merasa malu jika berbuat salah.

Betapa kita sebagai rakyat menonton pertunjukkan yang mengasyikkan.

Tidak ada kata jera bagi mereka.

Ketika masa hukuman di penjara sudah selesai, eh, masuk lagi ke gelanggang baru.

Lanjutkan terus!

Seorang sahabat jamaah masjid di dekat rumah, Ir. Hamid Hoddy, MS mantan dosen Peternakan Unhas selalu mengktirisi negeri ini.

Ia menyinggung jangan sampai Presiden Prabowo mengizinkan pesawat militer Amerika Serikat bebas melintas di udara kita.

Kedaulatan negara mesti dipertahakan berdasarkan Undang-Undang yang berlaku di negara kita.

Jangan sampai ‘kecopetan’ karena kebodohan kita memaknai kedaulatan negara.

Jangan menjadi Pengkhianat!.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.