Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Agustinus Tanggur
POS-KUPANG.COM, ATAMBUA - Tim Explore CN040 SDGs Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) Kupang menggelar dialog multi pihak yang melibatkan tiga desa di wilayah perbatasan Indonesia-Timor Leste, guna merumuskan strategi pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan berbasis keterkaitan hutan, air, energi, dan makanan.
Kegiatan yang berlangsung di Hotel Setia Atambua, Senin (27/4/2026), menghadirkan perwakilan dari Desa Fatulotu, Kecamatan Lasiolat, Kabupaten Belu, serta Desa Alas dan Desa Alas Selatan, Kecamatan Kobalima Timur, Kabupaten Malaka.
Dialog ini mengusung tema pengelolaan hutan berbasis keterkaitan hutan, air, energi, dan makanan di wilayah perbatasan Indonesia. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong tata kelola sumber daya alam yang berkelanjutan dan terintegrasi.
Pelaksanaan penelitian ini didukung berbagai mitra, baik nasional maupun internasional, di antaranya dukungan dari SIDA yang telah mendanai penelitian ini dan RECOFTC selaku pengelola anggaran maupun pengelola kegiatan yang bekerja sama dengan CIFOR-ICRAF bersama Tim Explore CN-040 SDGs Universitas Kristen Artha Wacana sehingga program penelitian ini dapat terlaksana dengan baik.
Selain itu, penelitian ini sejalan dengan target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya dalam aspek pelestarian lingkungan, ketahanan pangan, dan akses energi berkelanjutan.
Ketua tim peneliti, Prof. Jonathan Koehuan, mengatakan wilayah perbatasan memiliki karakteristik ekologis dan sosial ekonomi yang khas sehingga membutuhkan pendekatan pengelolaan yang tidak parsial.
“Hutan bukan hanya aset ekologis, tetapi juga berperan sebagai penyangga ketersediaan air, sumber energi, dan penunjang produksi pangan masyarakat. Karena itu, pendekatan terintegrasi menjadi keharusan agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang,” ujar Guru Besar di bidang Teknik Sumber Daya Alam dan Lingkungan, Kampus UKAW Kupang.
Ia menjelaskan, penelitian yang dilakukan bertujuan menghasilkan rekomendasi tata kelola hutan di wilayah perbatasan yang lebih baik dengan mempertimbangkan keterkaitan antara hutan, air, energi, dan pangan.
Menurutnya, tim peneliti telah melakukan pengumpulan data dan kini kembali ke masyarakat untuk mengkonsultasikan hasil awal penelitian. Kegiatan ini juga UKAW Kupang bekerja sama dengan universitas di Kalimantan Utara dan Universitas Cendrawasih di Papua serta Kampus Unital untuk pengembangan model serupa di wilayah perbatasan lainnya
Dalam dialog tersebut, katanya, para pemangku kepentingan mulai dari masyarakat adat, warga desa, pemerintah desa dan kecamatan, peneliti, pemuda, perempuan, hingga organisasi lingkungan, saling bertukar pandangan dan mengidentifikasi berbagai persoalan yang dihadapi.
"Kita sudah melakukan pengumpulan data dan sekarang dalam dialog ini kita kembali menyampaikan konsultasi hasil penelitian dengan masyarakat dari tiga desa ini," tuturnya.
Beberapa isu utama yang menjadi perhatian meliputi degradasi hutan, fluktuasi ketersediaan air, keterbatasan akses energi, serta ketahanan pangan masyarakat di wilayah perbatasan.
Prof. Jonathan menambahkan, penelitian ini tidak berfokus pada konflik, melainkan pada pencarian potensi dan peluang yang dapat dikembangkan bersama.
“Kita mengarahkan pada bagaimana menemukan peluang dan potensi yang ada dalam merawat lingkungan. Karena masyarakat sangat bergantung pada empat komponen utama, yaitu hutan, air, energi, dan pangan. Jika hutan terus menurun, maka akan berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat, terutama kelompok rentan, terutama Ibu-ibu,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya kesadaran bersama antara masyarakat dan pemerintah untuk menjaga kelestarian lingkungan, sehingga dalam merawat lingkungan tetapi bisa mendapatkan keuntungan ekonomi dan bisa terima sosial.
"Kalau kita hanya mencari keuntungan tetapi merusak lingkungan itu tidak baik. Sehingga penelitian ini juga kita mencari titik keseimbangan, baik melalui pendekatan hukum adat maupun regulasi formal dari desa termasuk usulan bekerjasama dengan Timor Leste," tuturnya.
“Kami melihat respons masyarakat dan pemerintah desa hingga kecamatan sangat baik. Ke depan, dialog ini akan dilanjutkan ke tingkat kabupaten, provinsi, hingga nasional, namun fondasinya tetap berasal dari masyarakat desa,” tambahnya.
Lebih lanjut, Ia menyebut hasil dari dialog ini akan menjadi acuan dalam penyusunan rencana aksi pengelolaan hutan di tiga desa tersebut. Selain itu, model yang dihasilkan diharapkan dapat direplikasi di wilayah perbatasan lainnya di Indonesia.
Dalam kegiatan ini turut dihadiri Dr. Yanto Ekon, Dosen Fakultas Hukum UKAW salah satu pemateri serta para dosen lainnya, perwakilan Camat, Desa dan masyarakat dari tiga desa. (gus)