Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Bobby Koloway
TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA — Pemkot Surabaya resmi menjalin kerja sama pembiayaan alternatif dengan PT Sarana Multi Infrastruktur (PT SMI).
Kerja sama berupa pinjaman ini bertujuan mempercepat pembangunan infrastruktur strategis di Kota Pahlawan.
Skema tersebut menjadi salah satu terobosan percepatan pembangunan di tengah sempitnya ruang fiskal daerah. Khususnya, untuk mengatasi kemacetan dan meningkatkan konektivitas antarwilayah.
Baca juga: Derbi Jatim di Bali, Arema FC Usung Misi Putus Dominasi 7 Tahun Persebaya Surabaya
Perjanjian pembiayaan ini mencakup total sekitar Rp800 miliar.
Dana tersebut difokuskan untuk dua proyek utama, yakni pembangunan Jalan Lingkar Luar Barat (JLLB) di kawasan Sememi dan pelebaran Jalan Wiyung menuju Menganti, perbatasan Kabupaten Gresik.
Wakil Ketua DPRD Surabaya, Bahtiyar Rifai, menyebut pembiayaan ini merupakan bagian dari rencana besar pembangunan infrastruktur tahun 2026 yang diharapkan segera terealisasi.
“Harapan kami ke depan, apa yang sudah direncanakan DPRD tahun 2026 ini bisa segera direalisasikan,” kata Bahtiyar saat dikonfirmasi di Surabaya, Senin (27/4/2026).
Dari total pinjaman tersebut, Rp300 miliar dialokasikan untuk proyek JLLB, sedangkan Rp585 miliar untuk pelebaran Jalan Wiyung.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, pinjaman ini dikenai bunga cukup kompetitif dengan masa pinjaman hingga masa kerja Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi berakhir.
Bahtiyar menjelaskan, pencairan dana dilakukan bertahap sesuai kebutuhan proyek. Dengan begitu, penggunaan anggaran tetap terukur dan sesuai perencanaan.
Baca juga: Nasib Apes Penjual Tisu Surabaya: Usai Viral Pukul Tukang Cukur, Tertangkap Polisi Saat Live TikTok
“Pencairannya mengikuti kebutuhan proyek. Jadi tidak serta-merta uang cair lalu digunakan tanpa perencanaan. Semua sudah dihitung, mulai dari kebutuhan lahan, konstruksi, hingga detail teknis lainnya,” jelasnya.
Sebelum dilakukan penandatanganan pada Jumat (24/4/2026) lalu, ia menegaskan bahwa kerja sama pembiayaan ini telah melalui proses panjang. Mulai dari persetujuan DPRD hingga kementerian terkait.
Skema pembiayaan alternatif ini bahkan mulai menjadi tren yang didorong pemerintah pusat dan diterapkan di sejumlah daerah.
"Untuk pembiayaan di atas angka tertentu memang harus ada persetujuan dari DPRD, Kementerian Keuangan, hingga Kemendagri. Semua itu sudah terpenuhi, sehingga penandatanganan MoU bisa dilakukan,” imbuh politisi Gerindra tersebut.
Bahtiyar menambahkan, percepatan realisasi proyek menjadi penting. Hal ini mengingat potensi kenaikan harga material dan tenaga kerja akibat dinamika geopolitik global.
Karena itu, ia mendorong agar proses lelang dan pelaksanaan segera dilakukan.
"Kami mengapresiasi semangat Pemkot Surabaya. Harapannya, setelah MoU dan pendanaan tersedia, proses pembangunan bisa langsung berjalan. Ini penting agar tidak terdampak kenaikan biaya di masa depan,” tegasnl Bahtiyar yang turut hadir pada proses penandatanganan kerjasama ini.
Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan (Bappeda) Surabaya, Maria Theresia Ekawati Rahayu, menyampaikan bahwa kedua proyek tersebut ditargetkan rampung pada Februari hingga April 2027.
Saat ini, proses pengadaan lahan masih berlangsung. Menurutnya, pembangunan jalan ini akan memberikan dampak luas.
Tidak hanya memperlancar lalu lintas, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.
“Dengan pembangunan jalan, diharapkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat meningkat karena jalur transportasi menjadi lebih lancar,” ujarnya saat dikonfirmasi terpisah.
Selain itu, proyek ini diproyeksikan menekan biaya operasional kendaraan, mengurangi waktu tempuh, dan meningkatkan keselamatan transportasi.
Dalam jangka panjang, pembangunan tersebut juga diharapkan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah serta pemerataan pembangunan.
“Aktivitas usaha akan meningkat dan nilai tanah di kawasan tersebut ikut terdongkrak,” tambahnya.
Kedua proyek ini merupakan bagian dari tujuh proyek infrastruktur prioritas Surabaya pada periode 2026–2027.
Pembangunan JLLB diharapkan mampu mendistribusikan arus lalu lintas secara lebih merata dan mengurangi beban jalan utama serta pelebaran Jalan Wiyung akan memperlancar konektivitas menuju wilayah barat Surabaya dan daerah penyangga seperti Gresik.
Tidak berhenti di sini saja secara keseluruhan, Pemkot Surabaya mengajukan rencana pembiayaan infrastruktur dengan total kebutuhan sekitar Rp3,16 triliun untuk periode tersebut.
Nantinya, proses pencairan akan dilakukan secara bertahap dengan disesuaikan dengan masing-masing proyek lain.
Foto Mas Habib