Kelenteng ​Kim Hin Kiong, Jejak Sejarah untuk Dewi Laut dari Era Pelabuhan Internasional Kuno Gresik
Mujib Anwar April 27, 2026 06:14 PM

 

TRIBUNJATIM.COM – Di tengah kawasan pecinan yang kini mulai berbaur dengan perkampungan Arab, berdiri sebuah bangunan sarat sejarah yang menjadi saksi perjalanan panjang Kota Gresik sebagai kota pelabuhan. 

Kelenteng Kim Hin Kiong bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga simbol akulturasi budaya yang telah berlangsung selama berabad-abad.

Terletak di Jalan Dr. Setia Budi Gang Klenteng No.56, Kelurahan Pulopancikan, Kecamatan Gresik, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, kelenteng ini berada tak jauh dari alun-alun kota, sehingga mudah dijangkau masyarakat. 

Lokasi tersebut sejak dahulu memang dikenal sebagai pusat aktivitas perdagangan sekaligus pemukiman komunitas Tionghoa. Keberadaan kelenteng ini erat kaitannya dengan sejarah Gresik sebagai jalur perdagangan internasional. 

Sejak abad ke-14, Gresik telah dihuni oleh berbagai etnis seperti Arab, Cina, India, dan Bugis yang hidup berdampingan dalam aktivitas ekonomi maritim.

Kelenteng Kim Hin Kiong menjadi salah satu bukti nyata keberadaan komunitas Tionghoa di wilayah tersebut. Bahkan, bangunan ini diyakini sebagai kelenteng tertua di Jawa Timur yang masih berdiri dan berfungsi hingga kini.

Selain menjadi tempat ibadah, kelenteng ini juga menyimpan nilai historis, budaya, dan spiritual yang kuat. Hal tersebut menjadikan Kim Hin Kiong sebagai destinasi religi sekaligus wisata sejarah yang menarik untuk dikunjungi.

Sejarah Berdiri Sejak Era Pelabuhan Kuno

Suasana Kelenteng Kim Hin Kiong Gresik, Sabtu (10/2/2024) pagi.
Suasana Kelenteng Kim Hin Kiong Gresik, Sabtu (10/2/2024) pagi. (TribunJatim.com/Willy Abraham)

Menurut sejumlah catatan sejarah, Kelenteng Kim Hin Kiong telah berdiri sejak tahun 1153 Masehi. 

Informasi ini dikutip dari berbagai sumber yang menyebutkan bahwa kelenteng tersebut dibangun oleh perantau Tionghoa yang menetap di Gresik.

Dilansir dari disparekrafbudpora.gresikkab.go.id, pembangunan kelenteng ini berkaitan erat dengan aktivitas pelayaran dan perdagangan di kawasan pelabuhan Gresik. 

Kelenteng ini didedikasikan untuk Dewi Ma Co Thian Siang Seng Boo, yang dikenal sebagai Dewi Laut atau pelindung para pelaut.

Keberadaan kelenteng di dekat pelabuhan menunjukkan fungsi spiritualnya bagi para pedagang dan pelaut Tionghoa.

Tak hanya itu, kelenteng ini juga disebut sebagai salah satu tempat ibadah Tridharma tertua di Pulau Jawa, menjadikannya saksi bisu perkembangan Gresik sebagai kota dagang penting di masa lalu.

Baca juga: Klenteng Eng An Kiong Malang, Istana Keselamatan dan Keabadian yang Tetap Kokoh Terjaga Keasliannya 

Simbol Spiritual

Meski tidak berukuran besar, Kelenteng Kim Hin Kiong memiliki ciri arsitektur khas Tiongkok yang kuat. Dominasi warna merah dan kuning tampak mencolok, mencerminkan simbol keberuntungan dan kemakmuran.

Di bagian depan terdapat gerbang kecil bertuliskan Tempat Ibadat Tri Dharma Gresik Kim Hin Kiang, lengkap dengan dua patung singa penjaga di sisi kanan dan kiri.

Memasuki ruang utama, pengunjung akan disambut altar utama pemujaan Dewi Ma Co, sedangkan di tengah ruangan terdapat hiolo besar berwarna keemasan yang digunakan sebagai tempat pembakaran dupa, dengan ornamen naga sebagai simbol kekuatan.

Lampion-lampion khas Tiongkok menghiasi langit-langit kelenteng, menambah nuansa sakral sekaligus estetika. 

Sementara itu, di sisi lain terdapat berbagai altar lain yang mencerminkan ajaran Tridharma, yakni Konghucu, Buddha, dan Taoisme.

Baca juga: Sejarah Klenteng Tjoe Hwie Kiong Kediri, Simbol Akulturasi di Tepian Sungai Brantas

Dinamika Sejarah di Masa Orde Baru

Perjalanan Kelenteng Kim Hin Kiong tidak selalu berjalan mulus. Pada masa Orde Baru, keberadaan tempat ibadah Tionghoa sempat mengalami tekanan akibat kebijakan negara terkait pengakuan agama.

Agama Konghucu tidak termasuk di dalamnya, sehingga banyak kelenteng terpaksa ditutup atau dialihfungsikan menjadi vihara.

Kondisi tersebut turut memengaruhi praktik keagamaan di kelenteng. Banyak umat yang akhirnya mencantumkan agama Buddha dalam identitas resmi mereka demi memenuhi persyaratan administratif.

Namun, perubahan besar terjadi pada masa pemerintahan Abdurrahman Wahid. Pada tahun 2000, beliau mengembalikan pengakuan resmi terhadap agama Konghucu, sehingga tradisi keagamaan Tionghoa dapat kembali dijalankan secara terbuka.

Baca juga: Sejarah Kelenteng Hong Tiek Hian Surabaya, Tempat Ibadah Tertua yang Berdiri Sejak Zaman Majapahit

Tradisi dan Ritual yang Masih Bertahan

Hingga kini, Kelenteng Kim Hin Kiong tetap aktif sebagai pusat kegiatan keagamaan. Berbagai perayaan seperti Imlek dan Cap Go Meh rutin digelar dengan meriah.

Perayaan tersebut biasanya diisi dengan sembahyang bersama serta pertunjukan barongsai yang menarik perhatian masyarakat luas. Tradisi ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.

Selain itu, terdapat pula ritual Ciam Si, yaitu metode peramalan dan pengobatan tradisional. 

Dalam praktiknya, umat akan mengocok tabung berisi batang bambu hingga salah satu keluar sebagai petunjuk dari dewa.

Baca juga: Melihat Perayaan Imlek di Kelenteng Tertua Surabaya, Berlangsung Sederhana dan Penuh Doa

Warisan Budaya

Keberadaan Kelenteng Kim Hin Kiong tidak hanya penting bagi umat Tridharma, tetapi juga bagi masyarakat Gresik secara luas. Kelenteng ini menjadi simbol keberagaman budaya yang telah hidup berdampingan sejak lama.

Kelenteng ini merupakan satu-satunya kelenteng di pusat Kota Gresik, sehingga memiliki nilai historis dan identitas yang kuat bagi komunitas Tionghoa.

Selain sebagai tempat ibadah, kelenteng ini juga menjadi ruang budaya, terlihat dari adanya panggung pertunjukan wayang potehi serta berbagai kegiatan sosial dan keagamaan.

Dengan usianya yang telah mencapai ratusan tahun, Kelenteng Kim Hin Kiong tetap berdiri kokoh sebagai warisan budaya sekaligus pengingat akan sejarah panjang interaksi antarbangsa di Kota Gresik.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.