TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI – Kasus pengeroyokan yang menimpa seorang siswa di SMP Negeri 5 Kota Jambi diselesaikan secara damai oleh kedua belah pihak keluarga.
Ayah korban, Muhammad Sukri Handi Fatoni, mengatakan keputusan damai diambil setelah seluruh orang tua siswa yang terlibat bertemu dan bermusyawarah pada Senin (27/4/2026) sekitar pukul 09.00 WIB.
Menurutnya, pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan damai yang dituangkan dalam surat pernyataan bersama.
“Alhamdulillah sudah ada kesepakatan damai dan dibuat surat pernyataan. Semua orang tua hadir dan bertemu pukul 09.00 WIB,” ujarnya.
Ia menjelaskan, keputusan tidak melanjutkan perkara ke jalur hukum diambil dengan mempertimbangkan kondisi dan masa depan anak-anak yang masih berstatus pelajar.
“Dipilih jalan damai karena memikirkan kondisi dan masa depan anak-anak. Jika dilanjutkan, juga tidak ada manfaatnya,” katanya.
Sukri menyebut orang tua para pelaku mengakui kesalahan anak-anak mereka dan menyesali peristiwa tersebut.
“Orang tua pelaku mengakui kesalahan anak-anak mereka dan menyesali kejadian ini,” lanjutnya.
Ia menegaskan keputusan damai diambil tanpa tekanan dari pihak mana pun.
“Tidak ada tekanan. Ini murni demi masa depan anak-anak, baik korban maupun pelaku,” ungkapnya.
Meski telah berdamai, kondisi korban masih dalam masa pemulihan. Sukri mengatakan biaya pengobatan masih ditanggung keluarga, dan korban masih membutuhkan perawatan lanjutan.
“Sampai sekarang biaya pengobatan masih kami tanggung sendiri. Kondisi korban masih lemah dan membutuhkan perawatan medis,” ujarnya.
Selain itu, korban juga belum kembali bersekolah karena masih mengalami trauma.
“Saat ini korban belum sekolah karena masih trauma,” katanya.
Ia menambahkan, pemerintah telah mengirimkan psikolog untuk membantu pemulihan mental korban.
“Psikolog dari pemerintah sudah beberapa kali datang ke rumah untuk melihat kondisi anak,” jelasnya.
Sementara itu, Psikolog UIN Sultan Thaha Saifuddin Jambi, Ridwan, menilai peristiwa tersebut merupakan bagian dari kenakalan remaja yang perlu ditangani dengan pendekatan psikologis.
Menurutnya, hal terpenting adalah memulihkan kondisi psikologis korban dan pelaku.
“Yang paling penting adalah memperbaiki kondisi psikologis anak, baik korban maupun pelaku,” katanya.
Ridwan menyarankan keluarga menciptakan suasana yang kondusif agar proses pemulihan berjalan optimal.
“Korban jangan ditekan atau dipaksa mengingat kejadian tersebut,” ujarnya.
Ia menambahkan, dukungan keluarga penting untuk membangun kembali semangat dan kepercayaan diri korban.
“Korban perlu didukung agar kembali semangat dan mampu menghadapi masalah ke depan,” jelasnya.
Menurutnya, memindahkan sekolah bukan pilihan utama, melainkan langkah terakhir jika diperlukan.
“Pindah sekolah bukan pilihan terbaik, tetapi pilihan terakhir,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya peran guru dalam membantu pemulihan kondisi mental siswa.
“Peran guru sangat penting untuk memulihkan psikologi anak, baik korban maupun pelaku, agar tidak mengalami trauma berkepanjangan,” pungkasnya.
Baca juga: Kasus Pengeroyokan Siswa SMPN 5 Jambi Berakhir Damai Usai Mediasi