Cerita Rengga Warga Banyumas Korban Sultan Nusantara, Pelaku Kuasai ATM Modus Bekam
deni setiawan April 27, 2026 05:56 PM

TRIBUNJATENG.COM, PURWOKERTO - Di saat kondisi adiknya yang berjuang melawan kanker stadium akhir, Rengga Adi (42), warga Ledug, Kecamatan Kembaran, Kabupaten Banyumas mengaku terjerat bujukan seseorang berinisial W yang menawarkan pengobatan alternatif.

Pria berinisial W ini adalah warga Kecamatan Purwokerto Timur, Kabupaten Banyumas.

W mengakui sebagai Sultan Nusantara Indonesia.

Awalnya, situasi keluarga Rengga memang berada di titik paling rentan. 

Sang adik dalam kondisi lemah, bahkan untuk berdiri dan berjalan pun sudah sulit.

Baca juga: Banyumas Kebut Penanganan RTLH, Sadewo Target Seribu Rumah Tahun Ini

• Viral Karyawan Coffee Shop Pakai Atribut Pemkot Surakarta, Catut Nama Respati Ardi

"Awal dugaan penipuan ini bermula dari proses pengobatan. Saat itu, adik saya sedang menderita kanker stadium akhir." 

"Kondisinya sudah sangat lemah, bahkan untuk berdiri dan berjalan pun sulit," ujar Rengga kepada Tribunjateng.com, Senin (27/4/2026).

Dalam kondisi tersebut, dia bertemu dengan W yang kemudian menawarkan pengobatan alternatif melalui bekam. 

Dia mengatakan, 'Adikmu coba dibawa ke sini saja'.

"Padahal saat itu adik saya masih menjalani kemoterapi," lanjutnya.

Peristiwa ini terjadi pada 2024, ketika sang adik masih menjalani kemoterapi secara rutin. 

Sebelumnya, korban sempat bekerja di Jakarta meski dalam kondisi sakit, sebelum akhirnya dipulangkan ke Purwokerto pada 2023 karena kondisi yang semakin memburuk.

Sepanjang 2023 hingga 2024, adiknya rutin menjalani kemoterapi. 

Namun sekira Agustus 2024, W mulai memberikan bujukan.

Dia mengiming-imingi pengobatan bekam sebagai solusi yang lebih baik. 

W disebut menggunakan pendekatan religius untuk meyakinkan keluarga korban.

"Dia mengatakan bekam merupakan sunah sesuai ajaran Nabi. Sementara itu, kemoterapi disebutnya mengandung unsur najis seperti anjing dan babi, sehingga dianggap mengotori tubuh." 

"Dengan alasan tersebut, akhirnya kemoterapi ditinggalkan dan hanya menjalani pengobatan di tempat W," ungkap Rengga.

Namun pengobatan tersebut tidak berjalan sebagaimana yang dijanjikan. 

Frekuensi terapi disebut tidak rutin, bahkan cenderung tidak jelas.

"Terkait frekuensi terapi, sebenarnya tidak terlalu sering, hanya beberapa kali. Namun setelah W berhasil mendapatkan ATM, sikapnya berubah. Dia terkesan mengabaikan." 

"Saya sering menghubunginya melalui WhatsApp untuk menanyakan kapan terapi dilakukan, tetapi jawabannya selalu beragam dan tidak jelas," katanya.

Permintaan ATM menjadi titik krusial dalam dugaan penipuan ini. 

W membujuk keluarga korban dengan dalih "membersihkan harta".

"Awalnya, ATM diminta melalui bujukan. W mengatakan agar ATM diserahkan kepadanya untuk disedekahkan, dengan alasan membersihkan harta." 

"Dia berjanji akan mengatur semua kebutuhan, termasuk biaya perban, obat, makanan, dan kebutuhan lainnya." 

"Dia juga mengatakan kebutuhan kami tetap akan dipenuhi melalui transfer," tutur Rengga.

Baca juga: Tragedi Adik Tusuk Kakak Hingga Meninggal di Semarang, Ayah Syok Kehilangan Dua Anak Sekaligus

• Sosok Wahyu Penipu Perempuan di Sragen, Manfaatkan Kencan Online untuk Gondol Barang Korban

Namun dalam praktiknya, kendali keuangan justru sepenuhnya berada di tangan W. 

Kondisi ini berujung pada ketidakpastian pemenuhan kebutuhan dasar pasien.

"Memang, sebagian kebutuhan sempat dipenuhi, tetapi lama-kelamaan mulai bermasalah." 

"Obat sering terlambat, perban juga sering telat, padahal kebutuhan orang sakit sangat mendesak," ucapnya.

Rengga mengaku dirinya dan sang istri mulai merasa janggal dengan situasi tersebut.

"Saya dan istri sering mengeluhkan kondisi tersebut karena merasa tidak wajar ATM justru dipegang orang lain, sementara kebutuhan dasar justru tidak terpenuhi tepat waktu," imbuhnya.

Kenal Sejak 2017

Lebih jauh, Rengga mengungkap perkenalan dengan W sebenarnya sudah berlangsung sejak lama, yakni sejak 2017 melalui keluarga istrinya.

"Terkait awal perkenalan dengan W, hal itu terjadi sejak 2017. Saat itu, kakak perempuan dari istri saya memiliki hubungan dekat dengan W." 

"Status hubungan mereka tidak jelas, apakah menikah atau tidak. Dari keluarga pun tidak pernah ada bukti atau saksi pernikahan seperti foto atau dokumen resmi," jelasnya.

Pada tahun yang sama, W sempat datang ke Banyumas sebelum kembali ke Jakarta. 

Saat itu, dia meninggalkan seorang anak di lingkungan keluarga Rengga.

"Saat datang ke sini, dia hanya menitipkan anaknya. Namun anak tersebut bukan anak dari kakak ipar saya, melainkan dari perempuan lain," katanya.

Anak tersebut tinggal bersama keluarga hingga sebelum masa pandemi Covid-19, meskipun tidak pernah ada pernyataan resmi terkait penitipan tersebut.

Anak tersebut ditinggalkan di sini dalam kurun waktu sejak 2017 hingga sebelum masa pandemi Covid-19. 

Meski demikian, sebenarnya tidak pernah ada pernyataan resmi anak tersebut dititipkan kepada kami. 

Hingga kini, pihak keluarga berharap ada penanganan hukum agar kejadian serupa tidak terulang. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.