TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Jember - Aliansi Mahasiswa Universitas Jember (Unej) mengkritisi gangguan sistem yang menyebabkan perubahan data penetapan Uang Kuliah Tunggal (UKT) bagi calon mahasiswa baru (camaba) tahun 2026, melalui jalur Seleksi Nasional Berbasis Prestasi (SNBP).
Aksi protes dilakukan dengan mendatangi Kantor Pusat Unej, Senin (27/4/2026).
Baca juga: UTBK SNBT Unej 2026, Tiga Orang Disabilitas Tak Hadapi Kendala Ikuti Ujian
Permasalahan ini bermula dari pengaduan camaba kepada sejumlah Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) fakultas. Mereka mengeluhkan adanya perubahan nilai UKT secara tiba-tiba dalam sistem pembayaran.
Pada 20 April 2026, besaran UKT telah diumumkan dan diketahui masing-masing camaba. Namun sehari setelahnya, 21 April 2026, nilai tersebut berubah di sistem pembayaran, yang tiba-tiba meningkat.
Selisih kenaikan UKT yang dilaporkan berkisar antara Rp 500.000 hingga Rp 2.000.000 per mahasiswa.
Baca juga: Jejak Hutan Purba di Ijen Geopark, Peneliti UNEJ Temukan Paku Pohon 65 Juta Tahun
Contohnya di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA), sebanyak 29 camaba mengadu ke BEM setempat. Beberapa di antaranya mengalami perubahan signifikan:
Kasus serupa juga terjadi di fakultas lain, dengan kenaikan dari Rp 5.000.000 menjadi Rp 6.000.000.
Baca juga: Jejak Hutan Purba di Ijen Geopark, Peneliti UNEJ Temukan Paku Pohon 65 Juta Tahun
Koordinator aksi Aliansi Mahasiswa Unej, A Febriano, mengatakan pentingnya keterbukaan informasi dari pihak kampus.
“Karenanya kami menuntut ada transparansi keterbukaan informasi dari rektorat,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan persoalan ini berpotensi menghambat akses pendidikan bagi camaba, terlebih karena bertepatan dengan batas akhir daftar ulang SNBP.
“Jangan sampai akses pendidikan hilang. Apalagi hari ini merupakan hari terakhir daftar ulang untuk camaba SNBP,” tegasnya.
Baca juga: Ada Surat Edaran Menteri, Unej Siap Jalankan Pembelajaran Jarak Jauh
Mahasiswa juga menyoroti kebijakan kampus yang menetapkan pembayaran UKT berdasarkan data terbaru di sistem, meski terjadi perubahan mendadak.
Dalam aksi tersebut, mahasiswa menyampaikan enam tuntutan utama kepada rektorat:
Perwakilan rektorat, termasuk Wakil Rektor I Prof Slamin dan Wakil Rektor III Fendi Setyawan, menemui mahasiswa untuk memberikan penjelasan.
Baca juga: Unej dan Pemkab Situbondo Tanam Ratusan Mangrove di Pantao Batu
Slamin menyampaikan permohonan maaf atas kegaduhan yang terjadi dan mengakui adanya masalah teknis pada sistem.
“Terjadi masalah saat sinkronisasi antara sistem verifikasi dengan data di tagihan. Cetak tagihan masih menggunakan data lama, sedangkan di sistem sudah disesuaikan,” jelasnya.
Ia juga menegaskan komitmen kampus untuk memastikan tidak ada camaba yang gagal melanjutkan pendidikan karena kendala biaya.
“Kami berkomitmen penuh tidak boleh ada mahasiswa yang tidak daftar ulang karena tidak bisa membayar UKT,” kata Slamin.