Lokal Pride Mendunia! Kolaborasi Jogja Spark Sulap Kreator "Ruang Sunyi" Jadi Pemain Global
Hari Susmayanti April 28, 2026 03:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Selama puluhan tahun, Kota Yogyakarta dikenal sebagai rahim bagi para seniman dan kreator dengan kualitas karya yang tak perlu diragukan lagi.

Namun, di balik riuhnya festival dan pameran, banyak talenta lokal yang masih bergerak dalam "ruang sunyi", bekerja secara otodidak, tanpa jejaring, dan kesulitan menembus pasar profesional lebih luas.

​Kesenjangan inilah yang coba dijembatani oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta melalui kolaborasi strategis dengan Jogja Spark. 

Bertempat di Pusat Desain Industri Nasional (PDIN), kerja sama ini diproyeksikan menjadi motor penggerak ekonomi kreatif sekaligus solusi konkret menekan angka pengangguran terbuka di Kota Pelajar.

Founder Jogja Spark, Imat Badruddin, menegaskan, pihaknya hadir bukan sebagai agensi talenta biasa, melainkan sebuah ekosistem yang memiliki akses langsung ke pasar internasional. 

Tak tanggung-tanggung, Jogja Spark mengandalkan jaringan kantor mereka yang berbasis di New York, Amerika Serikat untuk membuka jalan bagi talenta lokal.

​"Bedanya kita dengan yang lain, kita punya akses ke dunia internasional langsung. Jogja Spark akan berkolaborasi dengan pasar global, karena market kreatif di sana sangat besar," ujarnya, Selasa (28/4/2026).

Menurut Imat, Jogja Spark berperan sebagai enabler yang mengurasi sekaligus mendidik talenta dari berbagai latar belakang. 

Baca juga: Jelang Laga Hidup Mati Melawan PSIS Semarang di Maguwoharjo, PSS Sleman Perbaiki Finishing

Menariknya, ia menekankan bahwa ijazah formal bukan lagi penghalang, mengingat fokus utama dewasa ini adalah kemampuan vokasional yang praktis dan implementatif.

​"Anak lulusan SD, SMP, atau SMA, kalau punya keahlian kreatif, tidak perlu sekolah empat tahun. Sekarang di Amerika pun trennya sudah bergeser ke 'kamu bisanya apa?. Maka, kita siapkan mereka, misalnya untuk data entry berbasis AI, graphic design, hingga marketing campaign yang bisa dibayar dengan standar dollar," imbuhnya.

Senada, Kepala Dinas Perindustrian Koperasi dan UKM Kota Yogyakarta, Tri Karyadi Riyanto Raharjo, menyebut SDM Yogyakarta sebenarnya memiliki kualitas yang luar biasa.

Namun, kendala utama mereka adalah pengakuan secara formal atau sertifikasi, yang selama ini menjadi salah satu penghambat untuk melaju lebih jauh.

​"SDM kita bagus sekali, tapi kebanyakan masih otodidak. Di dunia profesional, indikator kualitas itu sertifikasi. Tanpa sertifikat, mereka tidak akan marketable," ungkapnya.

​Melalui kehadiran Jogja Spark di PDIN, Pemkot Yogyakarta ingin memberikan wadah inkubasi bagi talenta muda dan komunitas di luar perguruan tinggi, dengan tujuan membekali mereka dengan knowledge dan sertifikat agar laku di pasar global.

​Totok juga tak menampik, bahwa langkah ini merupakan strategi untuk mengikis angka pengangguran terbuka di Kota Yogyakarta yang penanganannya tidak bisa dilakukan secara parsial.

​"Ini kesempatan. Dunia kreatif yang barangkali selama ini merasa kurang diakui, sekarang kita beri ruang aktualisasi. Kami bergerak terintegrasi antar dinas, mulai dari Perindustrian, Disnakertrans, hingga Dinas Pariwisata dan Kebudayaan," jelasnya. (aka)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.