SURYA.CO.ID, LUMAJANG - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur (Jatim) menggelar simulasi evakuasi tsunami di area Pantai Bulu, Desa Tegalrejo, Kecamatan Tempursari, Kabupaten Lumajang pada 25-26 April 2026.
Kegiatan tersebut dilakukan, karena kawasan ini berada di daerah terpencil Kota Pisang yang memiliki risiko tinggi terhadap ancaman megathrust, yaitu gempa bumi besar yang berpotensi memicu tsunami.
Pelatihan evakuasi mandiri itu juga didukung Pemerintah Australia melalui Program SIAP SIAGA (Kemitraan Australia-Indonesia untuk Manajemen Risiko Bencana).
Simulasi evakuasi mandiri bencana tsunami ini diikuti 300 orang di Desa Tegalrejo, Kecamatan Tempursari, Kabupaten Lumajang dari berbagai jenjang usia, termasuk kelompok perempuan dan rentan.
Skenario diawali dengan terjadi gempa bumi berkekuatan magnitudo 9,1 di titik 10.13 LS 112.96 BT di kedalaman 10 kilometer pada pukul 09.00 WIB. Goncangan gempa dirasakan pula di Desa Tegalrejo.
26 menit kemudian, perangkat desa menerima informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Malang adanya gempa yang menimbulkan potensi tsunami di Desa Tegalrejo.
Setelah itu, perangkat desa mengumumkan adanya gelombang tsunami mendekati area mereka melalui pengeras suara dari musala wilayah setempat.
Seketika warga keluar rumah dan berlari ke arah zona aman tsunami atau blue zone yaitu di kaki Gunung Kursi.
Sebatas informasi, Desa Tegalrejo memiliki warga sekitar 3.690 jiwa yang dikelilingi pegunungan dan berada di pesisir Selatan Provinsi Jawa Timur.
Kondisi geografis tersebut membuat kawasan ini menjadi salah satu wilayah paling terpencil di Kabupaten Lumajang.
Sekretaris BPBD Jatim, Andhika Nurrahmad Sudigda, berharap kegiatan tersebut dapat mengurangi risiko bencana di wilayah ini, supaya kerugian ekonomi dan sosial yang ditimbulkan tidak signifikan.
"Budaya sadar bencana semestinya melekat dan menjadi gaya hidup masyarakat. Ilmu mengenai evakuasi mandiri ini bisa ditularkan kepada keluarga dan tetangga di lingkungan sekitar," ujarnya.
Sementara itu, Kepala BMKG Stasiun Geofisika Malang, Ricko Kardoso, menambahkan bahwa letak Desa Tegalrejo berhadapan tegak lurus dengan sumber kegempaan yang biasa disebut megathrust.
"Berdasarkan pemodelan tsunami yang dilakukan, desa ini berpotensi mengalami gempa bumi mencapai 6 MMI (Modified Mercalli Intensity) yang akan merusak bangunan dan rendaman tsunami setinggi 15 meter sejauh kurang lebih 3 kilometer dari garis pantai," ulasnya.
Ricko menilai kondisi seperti itu tentu membutuhkan respons cepat dari masyarakat dalam melakukan evakuasi, bila suatu saat bencana tersebut terjadi.
"Mereka harus mampu melakukan evakuasi mandiri, sebab waktu kritis (golden time) untuk menyelamatkan diri ke tempat aman berkisar 20 menit," bebernya.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Desa Tegalrejo, Nyono, mengatakan bahwa simulasi tersebut sekaligus memperingati Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional yang diperingati setiap 26 April 2026 kemarin.
"Simulasi tsunami ini bermanfaat besar bagi warga. Supaya kami tahu dan belajar agar siap menghadapi situasi darurat dan dapat melakukan evakuasi mandiri," tanggapnya.
Sementara Perwakilan Konsulat-Jenderal Australia di Surabaya, Christine, mengatakan jika kolaborasi BPBD Provinsi Jatim dan BPBD Kabupaten Lumajang ini perlu didukung semua pihak, guna menguatkan pemahaman masyarakat terhadap mitigasi bencana.
"Terlebih adanya inisiatif untuk membentuk semacam buddy system atau menunjuk seorang pemimpin di setiap lingkungan tempat tinggal, sebagai penanggung jawab terhadap masyarakat di area tersebut,” paparnya.
Senafas dengan hal itu, Mambaus Suud, Program Partnership Implementation Manager SIAP SIAGA Provinsi Jatim, mendorong agar pemerintah desa juga membuat strategi evakuasi kedaruratan bencana sampai di tingkat dusun.
“Setiap dusun menunjuk satu orang sebagai penanggung jawab untuk mengidentifikasi kemampuan sumber daya di lokasinya yang bisa dioptimalkan saat evakuasi,” tuturnya.