Cara Menanam Padi Model Larikan Ternyata Hasil Paksaan Jepang Zaman Penjajahan
Moh. Habib Asyhad April 28, 2026 03:34 PM

Rupanya, cara menanam padi petani Indonesia saat ini banyak dipengaruhi oleh ambisi Jepang saat menjajah Indonesia. Termasuk teknik menanam padi larikan.

---

Intisari hadir whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini

---

Intisari-Online.com -Tak hanya pemerintahan, ada banyak aspek kehidupan masyarakat yang coba dicampuri Jepang saat menduduki Indonesia. Termasuk soal pertanian, termasuk soal bagaimana para petani menanam padi.

Paling tidak, begitulah hasil temuan Prof Aiko Kurasawa dalam bukunya berjudul Mobilisasi dan Kontrol: Studi tentang Perubahan Sosial di Pedesaan Jawa 1942-195 (Grasindo, 1993)—yang kemudian diterbitkan ulang oleh Komunitas Bambu dengan judul Kuasa Jepang di Jawa: Perubahan Sosial di Pedesaan 1942-1945 (2015).

“Tujuan pokok penyerbuan Jepang ke Jawa, sebagaimana ke bagian-bagian lain di Hindia Belanda, ialah mengeksploitasi sumber-sumber daya ekonomi wilayah-wilayah jajahan ini. Pedesaan Jawa, dengan tanahnya yang subur dan penduduknya yang banyak, dianggap mempunyai potensi ekonomi yang luar biasa, dan Jepang berusaha mengeksploitasinya dengan seefisien mungkin melalui kontrol secara intensif atau pulau ini. Jawa diperintah di bawah cetak biru Jepang bagi suatu ‘Lingkungan Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya’ yang melibatkan seluruh Asia Tenggara serta Asia Timur,” tulis Aiko Kurasawa, memulai Bab 1 bukunya tersebut.

Karena itulah, tentara Jepang menuntut para petani Jawa untuk mewujudkan ambisinya itu. Tak hanya untuk mendukung pasukan pendudukan di Hindia Belanda, tapi juga mendukung operasi-operasi militer Jepang lebih jauh. Intinya, kegiatan ekonomi di Jawa diarahkan untuk memenuhi kebutuhan perang Jepang.

Salah satu yang menjadi prioritas tentara Jepang adalah urusan beras, urusan padi. Di mana mereka menganggap bahwa produksi padi di Jawa masih jauh dari yang diharapkan.

Aiko menulis bahwa di masa awal kedatangannya di Jawa, Jepang begitu “frustrasi menghadapi produktivitas beras yang luar biasa rendahnya di Jawa.” Jepang menganggap bahwa produktivitas bisa ditingkatkan sampai ke tingkat tertentu dengan memilih jenis-jenis bibit padi yang lebih cocok bagi Jawa serta memulai percobaan untuk menemukan bibit-bibit semacam itu.

Ketika itu, masih menurut Aiko, beras yang ditanam di Jawa dikelompokkan secara kasar dalam dua jenis. Jenis pertama padi cere (padi tak berambut), jenis yang kedua padi bulu (padi berambut). Secara umum, padi bulu disebut mempunyai kualitas yang lebih bagus dibanding jenis yang pertama.

Tentera Jepang tentu saja juga lebih menyukai jenis padi bulu. Meski begitu, rekomendasi dasar dari pemerintah militer Jepang adalah padi cere.

“Apa yang penting bagi pemerintah bukanlah rasa yang enak atau mutu yang tinggi, melainkan memaksimumkan produksi secara keseluruhan,” tulis Aiko.

Meski sebelum perang produksi padi bulu lebih besar dibanding padi cere, tapi dalam pengertian produktivitas per hektar, padi cere lebih unggul. Pada cere juga dianggap lebih tanah terhadap musim kering dan bisa tumbuh di tanah yang kurang subur.

Itulah yang menjadi pertimbangan pemerintahan militer Jepang.

Tak hanya memberi rekomendasi tertentu di antara jenis padi yang sudah ada, pemerintah militer Jepang juga mencoba memperkenalkan jenis padi baru yang dianggap lebih cocok dengan kondisi ekologi di Jawa. Karena itulah, serangkaian percobaan dilakukan di Bogor juga di Malang.

Salah satu bibit yang direkomendasikan adalah beras borai dari Taiwan, jenis padi varietas indica yang lebih identik dengan padi cere di Jawa.

Wilayah yang menjadi kelinci percobaannya adalah sawah-sawah yang ada di Karesidenan Cirebon dan Kedu. Bibitnya sendiri dibagikan secara gratis oleh pemerintah kepada para petani yang ada di wilayah-wilayah tersebut.

Lalu bagaimana reaksi para petani?

Pada awalnya para petani di Jawa ragu dengan rekomendasi pemerintah militer Jepang sehingga mereka tetap menanam jenis padi bulu. Tapi pemerintah pendudukan Jepang tak hilang akal, mereka memanfaatkan kebiasaan para petani yang meminjam bibit kepada para pialang atau seorang juragan sebelum musim tanam untuk mempromosikan jenis padi yang mereka perkenalkan.

Caranya, peran para pialang dan juragan digantikan oleh kantor desa yang didorong cuma menyediakan jenis padi yang direkomendasikan Jepang. Jadi, mau tak mau, para petani harus menanam padi pilihan tentara pendudukan itu – yang mutu dan kelezatannya di bawah standar.

Tak hanya itu, penetapan penyerahan padi secara paksa kepada pemerintah juga membuat para petani tak punya pilihan lain selain memilih bibit pilihan Jepang – yang dianggap punya produktivitas lebih tinggi. Meski begitu, produksi padi bulu tak sepenuhnya dihapuskan karena, sebagaimana disebut di awal, tentara Jepang rupanya juga lebih menyukai rasa jenis padi bulu.

Selain memperkenalkan padi jenis baru, pemerintah Jepang juga memperkenalkan teknik penanaman larikan, yaitu menanam padi pada garis-garis lurus dengan jarak tanam yang telah ditentukan. Sebelum Jepang datang, para petani di Jawa menanam padi secara acak (tak berdasarkan garis yang ditentukan) dan Jepang menemukan bahwa hal itu menjadi salah satu sebab kenapa produktivitas padi di Jawa rendah.

Karena itu, tentara kependudukan memerintahkan para petani di Jawa untuk mengikuti cara Jepang. Setelah serangkaian percobaan yang dilakukan para insinyur pertanian Jepang, ditemukan bahwa jarak tanam yang ideal di antara bibit bagi kebanyakan daerah di Jawa, dengan tatanan lingkungannya dan jenis padi yang ada, adalah 20 cm.

Di awal-awal, untuk menjaga supaya jarak tetap sama, maka harus ada dua petani yang tugasnya memegang seutas tali di setiap ujungnya dengan simpul setiap jarak 20 cm. Tapi sekarang, petani di Jawa menggunakan sebilah bambu atau galah dengan tanda khusus tiap 20 cm-nya.

“Petani biasanya menyebut cara ini larikan, dan setiap orang mengakui cara ini merupakan salah satu dari sedikit sumbangan masa Pendudukan Jepang,” tulis Aiko.

selain soal jarak antar-padi, Jepang juga menekankan supaya para petani tidak menanam bibit padi lebih dalam dari 2 cm. Juga jangan biarkan tanaman terlalu besar di tempat pembibitan, di mana waktu idealnya adalah 20 hingga 25 hari setelah bibit ditebar.

Tentu saja ada penolakan dari para petani terkait anjuran baru ini. Mereka beranggapan bahwa cara yang baru diperkenalkan oleh Jepang itu lebih menyusahkan karena harus mencari tenaga kerja tambahan. Tapi karena Jepang begitu berambisi dengan cara baru itu, mereka menerapkan aturan yang sangat ketat untuk ide baru itu.

Sebagai contoh, ketika menemukan padi yang ditanam secara acak, tentara pendudukan akan memerintahkan para petani untuk mencabut semuanya. Tak berhenti sampai di situ, para petani itu juga disuruh untuk menggantinya dengan cara tanam yang telah ditentukan.

“Perintah-perintah itu dijalankan dengan begitu kakunya sehingga di banyak wilayah pedesaan, pemimpin yang menjalankan perintah-perintah tersebut sangat dibenci oleh para petani. Mereka membalas dendam terhadap para pemimpin itu setelah Jepang kalah,” kata Aiko.

Contohnya terjadi di Kecamatan Manisrenggo, Klaten. Di sana seorang kucho atau kepala desa dibunuh oleh penduduk kampung setelah perang karena bertindak keras di dalam mempromosikan cara tanam berjarak.

Pun di Yogyakarta. Seorang pejabat Jepang di kantor Yogyakarta Kochi Jimikyoku, yang bertanggung jawab atas peningkatan produksi padi, disebut diancam akan diserbu oleh para petani di Adikarto (sekarang menjadi bagian dari Kulonprogo) jika mereka datang lagi ke wilayah tersebut.

Ternyata, cara para petani kita menanam padi ada bau jepang-jepang-nya juga.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.