TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR- Harga plastik di Denpasar belakangan makin menggila.
Bahkan kini kenaikan harganya hampir 100 persen.
Hal ini membuat dilema pedagang terutama yang menggunakan kemasan plastik.
Salah satunya dialami pedagang rujak di Penatih Denpasar, Bayu Sastra Negari.
Baca juga: Harga Plastik Melonjak 100 Persen, Industri Kemasan Dalam Negeri Terdampak, Minyakita Terancam Naik
Dirinya mengaku, setiap membeli plastik harganya terus naik.
Misalkan saja cup plastik 300 ml yang digunakan khusus menjual bumbu rujak.
Sebelum ada kenaikan, satu kardus dengan isi 20 lojor, ia membeli dengan harga Rp 258 ribu.
Terakhir, ia membeli dengan harga Rp 485 ribu.
"Naik terus, setiap beli plastik ada saja yang naik. Padahal untuk jualan rujak sangat bergantung dengan plastik," kata pemilik usaha rujak Mak Lemak ini, Rabu, 29 April 2026.
Dengan kondisi tersebut, dirinya sebenarnya berencana menaikkan harga.
Namun ia masih bimbang, karena kasihan dengan pelanggan.
"Ada rencana naik harga. Tapi banyak pelanggan kasihan kalau naik. Tapi masih dipikirkan matang-matang dulu," ujarnya.
Untuk saat ini, dirinya mengurangi kemasan bumbu rujak, yang biasanya diberikan dua bumbu, dikurangi hanya satu bumbu.
Selain itu, ia juga berencana tidak lagi memberikan kantong plastik alias kresek.
"Kalau pengurangan jumlah bumbu sudah. Sekarang rencananya tidak lagi menyediakan kresek," paparnya.
Hal yang sama juga dialami penjual jamu di Sanur, Sugino.
Ia yang telah berjualan jamu puluhan tahun juga merasa kelimpungan dengan kenaikan harga plastik ini.
Pasalnya banyak yang membeli jamu botolan selain juga ada yang minum di tempat.
"Jamu kencur, kunyit kan banyak yang beli botolan. Tapi saya belum menaikkan harga," katanya.
Ia berharap kondisi ini cepat teratasi, dan harga plastik kembali normal. (*)