Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung – Perhimpunan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras (Perpadi) Provinsi Lampung menilai bantuan alat pengering padi (dryer) dari pemerintah merupakan kunci krusial dalam menjaga kualitas beras di tingkat petani.
Ketua Perpadi Lampung, Midi Iswanto mengingatkan pentingnya penyaluran Bed Dryer yang tepat sasaran serta sinergi antara teknologi pasca-panen dengan kelompok tani guna mencapai target swasembada pangan.
Hal itu diungkapkan Midi menanggapai program hilirisasi Pemerintah Provinsi Lampung yang berencana menyalurkan bantuan hibah sebanyak 82 unit dryer pada tahun 2026 ini.
Jumlah tersebut meningkat dari Tahun Anggaran 2025, di mana Pemprov Lampung telah menyalurkan 34 unit.
Berdasarkan data paparan Pemprov Lampung, keberadaan sarana pasca-panen ini diproyeksikan mampu menangani total produksi regional sebanyak 2.278 ton, yang terdiri dari 1.631,8 ton gabah, 516,8 ton jagung, dan 119,2 ton ubi kayu.
Baca juga: Dryer Bantu Petani Pringsewu Lampung Jaga Kualitas Gabah Saat Cuaca Tak Menentu
Program ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas komoditas, menekan kadar air, hingga meningkatkan Nilai Tukar Petani (NTP).
Menurut Midi, produktivitas padi di Lampung terus menunjukkan tren positif, di mana pada tahun 2025 capaian produksi berhasil menyentuh angka 3,2 juta ton.
"Untuk tahun 2026 ini, target pemerintah kalau tidak salah mencapai 3,5 juta ton. Dengan nilai produksi yang begitu besar, bantuan dryer tentu sangat membantu memberikan nilai tambah bagi petani dan pelaku usaha," ujar Midi Iswanto.
Menurut Midi, faktor paling krusial bagi petani adalah penanganan saat Gabah Kering Panen (GKP) baru saja dihasilkan.
Jika gabah tidak segera dikeringkan dalam waktu dua hari, maka kualitasnya akan menurun drastis, seperti perubahan warna atau kerusakan akibat kelembapan.
"Begitu dipanen, GKP harus segera dikeringkan. Kalau tertahan dua hari saja tanpa dikeringkan, warnanya mulai berubah, apalagi kalau kondisinya basah," jelasnya.
Midi pun memberikan catatan khusus terkait skema bantuan dryer pemerintah yang tersebar di berbagai wilayah Lampung.
Ia menekankan agar penempatan bantuan 82 unit di tahun 2026 nanti harus memperhatikan akses bahan baku, lokasi yang dekat dengan pabrik penggilingan, serta diberikan kepada kelompok tani yang sudah terjamin agar hasil pengeringan langsung terserap pasar.
Selain ketersediaan alat, Perpadi Lampung juga mendorongbsinergi dalam melakukan pembinaan rutin kepada kelompok tani binaan terkait standar kualitas, terutama dalam menjaga kadar air di angka 14 persen.
Midi pun mengingatkan bahwa tantangan yang ada bukan hanya di sektor hulu terkait pupuk dan benih, tetapi bagaimana menjaga kualitas pasca panen.
"Kita jangan hanya fokus menanam, tapi bagaimana menjaga kualitas hasil panen itu tetap terjaga sampai ke konsumen melalui manajemen pasca-panen yang baik," kata dia.
Midi berharap koordinasi antara pemerintah, petani di hulu, dan pengusaha penggilingan di hilir tetap terjaga agar Lampung tetap kokoh sebagai lumbung pangan nasional.
(Tribunlampung.co.id/Hurri Agusto)